Permulaan Generasi Pertama Manusia
Generasi berikutnya mulai melahirkan
beberapa kelompok Bangsa. Bangsa Semetik kemudian menurunkan Bangsa Arab
dan Israel yang selalu berperang. Khabarnya perpecahan kedua bangsa ini
dimulai sejak Nabi Ibrahim. Bangsa Syam yang kemudian dikenal sebagai
ras Aryan, menurunkan Bangsa Yunani dan Roma yang menjadi cikal bakal
Eropa (Hitler merupakan tokoh ras ini yang ingin memurnikan bangsa Aryan
di samping Bangsa Braminik yang chauvinistik dan menjadi penguasa kasta
tinggi di agama Hindu), Nordik, Patan, Kaukasian, Slavia, Persia (Iran)
dan India Utara (semisal Punjabi, Kashmir dan Gujarat) berkulit putih
serta bule-bule lain sebangsanya.
Bangsa Negroid menurunkan bangsa Afrika
dan beberapa bangsa berkulit hitam lainnya di dunia seperti Bangsa
Dravidian (India berkulit Hitam), Papua, Samoa, Aborigin di Autralia,
Asmat dan bangsa lain yang hidup di kepulauan Polinesia, Samudera
Pasifik.
Bangsa Tatar menurunkan Ras Mongoloid
yang terdiri dari bangsa Mongol; Cina, Korea, Uzbek, Tazik, Kazakh,
Kazan di Rusia, bangsa Nomad penghuni Kutub Utara dan Selatan bermata
cipit, Hokkian yang menjadi Konglomerat dan Mafia di Indonesia serta
Bangsa Maya, Suku Indian dan lain sebagainya yang menjadi penduduk asli
benua Amerika dan yang kedua; Ras Austronesia, yang menyebar di
Madagaskar, Afrika, Batak; Proto Malayan dan Neo Malayan; Melayu, Jawa
dan lain-lain.
Penyebaran populasi manusia terjadi paska
“Tsunami” pertama atau dikenal sebagai Banjir Bah di jaman Nabi Nuh AS.
Di jaman ini pula ada sebuah komunitas manusia yang konon mempunyai
tinggi badan 15-30 meter punah ditelan banjir karena kesombongannya.
Peneliti antropologi Amerika di awal abad 20 menemukan kembali bangsa
ini di pedalaman Afrika, namun lokasinya dirahasiakan oleh pihak militer
yang tertarik untuk mengambil sampel komunitas ini untuk rekayasa gen
tentara AS. Penelitian juga diarahkan untuk menghidupkan kembali Bangsa
Dinosaurus, sejenis binatang purba, yang juga mati tenggelam karena
tidak sempat dan tidak ‘muat’ dimasukkan di kapal Nabi Nuh.
73.000-30.000 SM
Penduduk nomaden mendiami sekitar pegunungan Batak, yang meledak membentuk danau Toba, keberadaan mereka berdasarkan penggalian sejarah.
Penduduk nomaden mendiami sekitar pegunungan Batak, yang meledak membentuk danau Toba, keberadaan mereka berdasarkan penggalian sejarah.
3000-1000 SM (Sebelum masehi)
Bangsa Batak yang merupakan bagian dari Ras Proto Malayan hidup damai bermukim di perbatasan Burma/Myanmar dengan India. Beberapa komunitas tersebut yang kemudian menjadi cikal-bakal bangsa adalah kelompok Bangsa Karen, Toradja, Tayal, Ranau, Bontoc, Meo serta trio Naga, Manipur, Mizoram. Tiga yang terakhir ini sekarang berwarga negara India. Adat istiadat mereka dan aksesoris pakaian yang dimiliki sampai sekarang masih mirp dengan pakaian Batak, misalnya pernik dan warna ulos.
Bangsa Batak yang merupakan bagian dari Ras Proto Malayan hidup damai bermukim di perbatasan Burma/Myanmar dengan India. Beberapa komunitas tersebut yang kemudian menjadi cikal-bakal bangsa adalah kelompok Bangsa Karen, Toradja, Tayal, Ranau, Bontoc, Meo serta trio Naga, Manipur, Mizoram. Tiga yang terakhir ini sekarang berwarga negara India. Adat istiadat mereka dan aksesoris pakaian yang dimiliki sampai sekarang masih mirp dengan pakaian Batak, misalnya pernik dan warna ulos.
Sifat dominan dari ras ini adalah
kebiasaan hidup dalam splendid isolation di lembah lembah sungai dan di
puncak-puncak pegunungan. Mereka sangat jarang membuat kontak bersifat
permanen dengan pendatang yang berasal dari komunitas lainnya misalnya
komunitas yang berada di tepi pantai, pesisir, yang saat itu banyak
dipengaruhi oleh ideologi yang berbeda dengan mereka, misalnya Hinduisme
(Yang disinyalir sebagai ajaran turunan dari agama Nabi Nuh AS),
Zoroaster, Animisme gaya Yunani dan Romawi dan juga paham-paham baru
seperti Buddha, Tao dan Shintoisme
Sifat tersebut masih membekas dan terus
dipertahankan oleh orang-orang Batak hingga abad 19. Sampai saat ini,
diperkirakan suku bangsa yang berasal dari ras ini masih mempertahankan
kebiasaan ini, terutama Bangsa Tayal, bangsa pribumi di Taiwan,
Orang-orang Bontoc dan batak Palawan penghuni pertama daerah Filipina.
1000 SM
Bangsa Mongol yang dikenal bengis dan mempunyai kemajuan teknologi yang lebih tinggi berkat hubungan mereka yang konsisten dengan berbagai bangsa mulai bergerak ke arah selatan. Di sana, keturunan mereka menyebut dirinya Bangsa Syan dan kemudian menciptakan komunitas Burma, Siam (Thai) dan Kamboja yang kemudian menjadi cikal-bakal negara.
Bangsa Mongol yang dikenal bengis dan mempunyai kemajuan teknologi yang lebih tinggi berkat hubungan mereka yang konsisten dengan berbagai bangsa mulai bergerak ke arah selatan. Di sana, keturunan mereka menyebut dirinya Bangsa Syan dan kemudian menciptakan komunitas Burma, Siam (Thai) dan Kamboja yang kemudian menjadi cikal-bakal negara.
Ras Proto Malayan mulai terdesak.
Ketertutupan mereka menjadi bumerang karena teknologi mereka tidak up to
date. Sebagian dari mereka kemudian mulai meninggalkan daerah-daerah
tersebut, menempuh perjalanan untuk mencari daerah baru bahkan ke
seberang lautan, di mana mereka akan menikmati hidup dalam ‘splendid
isolation’ kembali.
Bangsa Bontoc bergerak ke daerah
Filipina, Bangsa Toraja ke selatannya, Sulawesi. Di Filipina, Batak
Palawan merupakan sebuah suku yang sampai sekarang menggunaka istilah
Batak. Saudara mereka bangsa Tayal membuka daerah di kepulauan Formosa,
yang kemudian, beberapa abad setelah itu, daerah mereka diserobot dan
kedamaian hidup mereka terusak oleh orang-orang Cina nasionalis yang
kemudian menamakannya Taiwan.
Yang lain, Bangsa Ranau terdampar di
Lampung. Bangsa Karen tidak sempat mempersiapkan diri untuk migrasi,
mereka tertinggal di hutan belantara Burma/Myanmar dan sampai sekarang
masih melakukan pemberontakan atas dominasi Suku Burma atau Myamar yang
memerintah.
Selebihnya, Bangsa Meo berhasil
mempertahankan eksistensinya di Thailand. Bangsa Naga, Manipur, Mizo,
Assamese mendirikan negara-negara bagian di India dan setiap tahun
mereka harus berjuang dan berperang untuk mempertahankan identitas
mereka dari supremasi bangsa Arya-Dravidian, yakni Bangsa India, yang
mulai menduduki daerah tersebut karena over populasi.
Bangsa Batak sendiri, selain terdampar di
Filipina, sebagian terdampat di kepulauan Andaman (sekarang merupakan
bagian dari India) dan Andalas dalam tiga gelombang.
Yang pertama mendarat di Nias, Mentawai,
Siberut dan sampai ke Pulau Enggano. Gelombang kedua terdampar di muara
Sungai Simpang. Mereka kemudian bergerak memasuki pedalaman Pulau
Andalas menyusuri sungai Simpang Kiri dan mulai mendirikan tempat di
Kotacane. Komunitas ini berkembang dan membuat identitas sendiri yang
bernama Batak Gayo. Mereka yang menyusuri Sungai Simpang Kanan membentuk
Komunitas Batak Alas dan Pakpak. Batak Gayo dan Alas kemudian
dimasukkan Belanda ke peta Aceh.
Mainstream dari Suku bangsa Batak
mendarat di Muara Sungai Sorkam. Mereka kemudian bergerak ke pedalaman,
perbukitan. Melewati Pakkat, Dolok Sanggul, dan dataran tinggi Tele
mencapai Pantai Barat Danau Toba. Mereka kemudian mendirikan
perkampungan pertama di Pusuk Buhit di Sianjur Sagala Limbong Mulana di
seberang kota Pangururan yang sekarang. Mitos Pusuk Buhit pun tercipta.
Masih dalam budaya ‘splendid isolation’,
di sini, Bangsa Batak dapat berkembang dengan damai sesuai dengan
kodratnya. Komunitas ini kemudian terbagi dalam dua kubu. Pertama Tatea
Bulan yang dianggap secara adat sebagai kubu tertua dan yang kedua; Kubu
Isumbaon yang di dalam adat dianggap yang bungsu.
Sementara itu komunitas awal Bangsa
Batak, jumlahnya sangat kecil, yang hijrah dan migrasi jauh sebelumnya,
mulai menyadari kelemahan budayanya dan mengolah hasil-hasil hutan dan
melakukan kontak dagang dengan Bangsa Arab, Yunani dan Romawi kuno
melalui pelabuhan Barus. Di Mesir hasil produksi mereka, kapur Barus,
digunakan sebagai bahan dasar pengawetan mumi, Raja-raja tuhan Fir’aun
yang sudah meninggal. Tentunya di masa inilah hidup seorang pembawa
agama yang dikenal sebagai Nabi Musa AS.
1000 SM – 1510 M
Komunitas Batak berkembang dan struktur masyarakat berfungsi. Persaingan dan Kerjasama menciptakan sebuah pemerintahan yang berkuasa mengatur dan menetapkan sistem adat.
Komunitas Batak berkembang dan struktur masyarakat berfungsi. Persaingan dan Kerjasama menciptakan sebuah pemerintahan yang berkuasa mengatur dan menetapkan sistem adat.
Ratusan tahun sebelum lahirnya Nabi Isa
Al Masih, Nabi Bangsa Israel di Tanah Palestina, Dinasti Sori Mangaraja
telah berkuasa dan menciptakan tatanan bangsa yang maju selama 90
generasi di Sianjur Sagala Limbong Mulana.
Dinasti tersebut bersama
menteri-menterinya yang sebagian besar adalah Datu, Magician, mengatur
pemerintahan atas seluruh Bangsa Batak, di daerah tersebut, dalam sebuah
pemerintahan berbentuk Teokrasi.
Dinasti Sorimangaraja terdiri dari
orang-orang bermarga Sagala cabang Tatea Bulan. Mereka sangat disegani
oleh Bangsa Batak di bagian selatan yang keturunan dari Tatea Bulan.
Dengan bertambahnya penduduk, maka
berkurang pula lahan yang digunakan untuk pertanian, yang menjadi sumber
makanan untuk mempertahankan regenerasi. Maka perpindahan terpaksa
dilakukan untuk mencari lokasi baru. Alasan lain dari perpindahan
tersebut adalah karena para tenaga medis kerajaan gagal membasmi
penyakit menular yang sudah menjangkiti penduduk sampai menjadi epidemik
yang parah.
Perpindahan diarahkan ke segala arah,
sebagain membuka pemukiman baru di daerah hutan belukar di arah selatan
yang kemudian bernama Rao, sekarang di Sumatera Barat. Beberapa kelompok
di antaranya turun ke arah timur, menetap dan membuka tanah, sekarang
dikenal sebagai Tanjung Morawa, daerah di pinggir Kota Medan.
Satu kerajaan lain yang berdiri di era
ini adalah Kerajaan Hatorusan yang didirikan oleh Raja Uti di Sianjur
Mula-mula. Pusat kerajaan kemudian dipindahkan ke Barus dan Sigkil. Raja
Uti adalah cucu langsung Si Raja Batak dari anaknya Guru Tatebulan.
200 SM-150 M
Orang-orang Mesir (masa Ramses) mengunjungi tanah Batak, tepatnya, Barus untuk membeli kapur barus. Sumber-sumber sejarah Yunani, misalnya dari Ptolomeus abad ke-2 SM mengatakan bahwa kapal-kapal Athena telah singgah di kota Barus pada abad-abad terakhir sebelum tibanya tarikh Masehi.
Orang-orang Mesir (masa Ramses) mengunjungi tanah Batak, tepatnya, Barus untuk membeli kapur barus. Sumber-sumber sejarah Yunani, misalnya dari Ptolomeus abad ke-2 SM mengatakan bahwa kapal-kapal Athena telah singgah di kota Barus pada abad-abad terakhir sebelum tibanya tarikh Masehi.
Ptolomeus membicarakan Barus sebanyak
lima kali di dalam laporannya dengan pandangan negatif terhadap penduduk
pribumi Sumatera, khususnya orang Batak yang dikatakannya sebagai
orang-orang kanibal (Wolters hal. 9; Krom h. 57-59)
Begitu pula rombongan kapal Fir’aun dari
Mesir telah berkali-kali berlabuh di Barus antara lain untuk membeli
kapur barus (kamper), bahan yang sangat diperlukan untuk pembuatan
mummi. Mereka adalah orang-orang Arab pra-Islam Funisia, Kartago yang
sekarang menjadi Libya dan Mesir, Afrika Utara.
100 SM
Sementara itu di pedalaman Batak, Sianjur Mula-mula beberapa kerajaan huta telah berdiri. Tahun 100 SM Kerajaan Batahan Pulo Morsa eksis. Kerajaan ini memakai sistem raja na opat atau raja berempat yang terdiri; Pulo Morsa Julu, dengan Raja Suma Hang Deha, Pulo Morsa Tonga, Raja Batahan Jonggi Nabolon, Pulo Morsa Jau dengan Raja Situan I Rugi-rugi dan Pulo Morsa Jae dengan Raja Umung Bane. Kerajaan ini bertahan selama 24 keturunan.
Sementara itu di pedalaman Batak, Sianjur Mula-mula beberapa kerajaan huta telah berdiri. Tahun 100 SM Kerajaan Batahan Pulo Morsa eksis. Kerajaan ini memakai sistem raja na opat atau raja berempat yang terdiri; Pulo Morsa Julu, dengan Raja Suma Hang Deha, Pulo Morsa Tonga, Raja Batahan Jonggi Nabolon, Pulo Morsa Jau dengan Raja Situan I Rugi-rugi dan Pulo Morsa Jae dengan Raja Umung Bane. Kerajaan ini bertahan selama 24 keturunan.
450 M
Daerah Toba telah diolah dan dikelola secara luas oleh rakyat kerajaan tersebut. Mereka yang dominan terutama dari kubu Isumbaon, kelompok marga Si Bagot Ni Pohan, leluhur Annisa Pohan, menantu SBY, Presiden pilihan langsung pertama RI. Di daerah ini bermukim juga kaum Tatea Bulan yang membentuk kelompok minoritas terutama dari marga Lubis.
Daerah Toba telah diolah dan dikelola secara luas oleh rakyat kerajaan tersebut. Mereka yang dominan terutama dari kubu Isumbaon, kelompok marga Si Bagot Ni Pohan, leluhur Annisa Pohan, menantu SBY, Presiden pilihan langsung pertama RI. Di daerah ini bermukim juga kaum Tatea Bulan yang membentuk kelompok minoritas terutama dari marga Lubis.
Sebagian dari Lubis terdesak ke luar Toba
dan merantau ke selatan. Sebagain lagi menetap di Toba dan Uluan hingga
kini. Keturunannya di Medan mendirikan banyak lembaga sosial terutama
Pesantren Modern Darul Arafah di Pinggiran Kota Medan.
Di daerah Selatan kelompok marga Lubis
harus bertarung melawan orang-orang Minang. Kalah. Perantauan berhenti
dan mendirikan tanah Pekantan Dolok di Mandailing yang dikelilingi
benteng pertahanan.
Mereka kemudian berhadapan dengan bangsa
Lubu, Bangsa berkulit Hitam ras Dravidian yang terusir dari India,
melalui Kepulauan Andaman berkelana sampai daerah muara Sungai Batang
Toru. Bangsa Lobu tersingkir dan kemudian menetap di hutan-hutan sekitar
Muara Sipongi. Bila di India Bangsa Arya meletakkan mereka sebagai
bangsa terhina, ‘untouchable’; haram dilihat dan disentuh, maka nasib
sama hampir menimpa mereka di sini. Saudara Bangsa Lubu, Bangsa Tamil
migrasi beberapa abad kemudian, dari India Selatan, membonceng
perusahaan-perusahaan Eropa dan membentuk Kampung Keling di Kerajaan
Melayu Deli, Medan.
497 M
Para pengikut parmalim menyakini bahwa tahun 497 M atau 1450 tahun Batak, merupakan tahun kebangkitan pemikiran keagamaan di kepemimpinan Raja-raja Uti. Raja Uti dinobatkan sebagai Tokoh Spiritual Batak dan Rasul Batak
Para pengikut parmalim menyakini bahwa tahun 497 M atau 1450 tahun Batak, merupakan tahun kebangkitan pemikiran keagamaan di kepemimpinan Raja-raja Uti. Raja Uti dinobatkan sebagai Tokoh Spiritual Batak dan Rasul Batak
502-557
Orang-orang Cina datang ke Barus. Orang Cina mengenal Barus dengan istilah P’o-lu-shih yang berarti pelabuhan peng-expor kapur. Sebuah itilah yang berasal dari kata Cina yang berarti harum: “P’o-lu” (Drakard 1993:3). Dalam teks-teks Cina pada zaman Dinasti Liang (502-557), saat itu, kapur dikenal dengan nama “obat salap dari P’o-lu atau Barus” atau P’o-lu-shih .
Orang-orang Cina datang ke Barus. Orang Cina mengenal Barus dengan istilah P’o-lu-shih yang berarti pelabuhan peng-expor kapur. Sebuah itilah yang berasal dari kata Cina yang berarti harum: “P’o-lu” (Drakard 1993:3). Dalam teks-teks Cina pada zaman Dinasti Liang (502-557), saat itu, kapur dikenal dengan nama “obat salap dari P’o-lu atau Barus” atau P’o-lu-shih .
600-700
Pada abad ke-7, utusan dagang kerajaan Barus Hatorusan berangkat dari barus menuju ke Cina membicarakan perdagangan bilateral antara Sumatera dan Cina (Wolters 33).
Pada abad ke-7, utusan dagang kerajaan Barus Hatorusan berangkat dari barus menuju ke Cina membicarakan perdagangan bilateral antara Sumatera dan Cina (Wolters 33).
600-1200
Komunitas Batak di Simalungun memberontak dan memisahkan diri dari Dinasti Batak, Dinasti Sori Mangaraja di pusat. Mereka mendirikan kerajaan Nagur. Mereka ini keturunan Batak yang bermukim di Tomok, Ambarita dan Simanindo di Pulau Samosir. Di kemudian hari kerajaan Nagur di tangan orang Batak Gayo mendirikan kerajaan Islam Aceh.
Komunitas Batak di Simalungun memberontak dan memisahkan diri dari Dinasti Batak, Dinasti Sori Mangaraja di pusat. Mereka mendirikan kerajaan Nagur. Mereka ini keturunan Batak yang bermukim di Tomok, Ambarita dan Simanindo di Pulau Samosir. Di kemudian hari kerajaan Nagur di tangan orang Batak Gayo mendirikan kerajaan Islam Aceh.
Simalungun merupakan tanah yang subur
akibat bekas siraman lava. Siraman lava dan magma tersebut berasal dari
ledakan gunung berapi terbesar di dunia, di zaman pra sejarah. Ledakan
itu membentuk danau Toba. Orang Simalungun berhasil membudidayakan
tanaman, selain padi yang menjadi tanaman kesukaan orang Batak; Pohon
Karet.
Hasil-hasil pohon karet tersebut
mengundang kedatangan ras Mongoloid lainnya yang mengusir mereka dari
daratan benua Asia; orang-orang Cina yang sudah pintar berperahu pada
zaman Dinasti Swi, 570-620 M. Di antaranya Bangsa Yunnan yang sangat
ramah dan banyak beradaptasi dengan pribumi dan suku bangsa Hokkian,
suku bangsa yang dikucilkan di Cina daratan, yang mengekspor tabiat
jahat dan menjadi bajak laut di Lautan Cina Selatan.
Kolaborasi dengan bangsa Cina tersebut
membentuk kembali kebudayaan maritim di masyarakat setempat. Mereka
mendirikan kota pelabuhan Sang Pang To di tepi sungai Bah Bolon lebih
kurang tiga kilometer dari kota Perdagangan. Orang-orang dari Dinasti
Swi tersebut meninggalkan batu-batu bersurat di pedalaman Simalungun.
Di daerah pesisir Barat, Barus, kota
maritim yang bertambah pesat yang sekarang masuk di Kerajaan Batak mulai
didatangi pelaut-pelaut baru, terutama Cina, Pedagang Gujarat, Persia
dan Arab. Pelaut-pelaut Romawi Kuno dan Yunani Kuno sudah digantikan
oleh keturunan mereka pelaut-pelaut Eropa yang lebih canggih, dididikan
Arab Spanyol. Islam mulai diterima sebagai kepercayaan resmi oleh
sebagian elemen pedagang Bangsa Batak yang mengimpor bahan perhiasan dan
alat-alat teknologi lainnya serta mengekpor kemenyan komoditas
satu-satunya tanah Batak yang sangat diminati dunia.
Islam mulai dikenal dan diterima sebagai agama resmi orang-orang Batak di pesisir; khusunya Singkil dan Barus.
600-700 M
Sriwijaya menjajah Barus. Sementara itu laporan Cina yang lain mengatakan bahwa Sriwijaya pada abad ke-7 dan 8 merupakan kerajaan ganda satu diantaranya ialah Barus (Wolters 9). Diyakini lokasi strategis Barus dan volume perdagangan di wilayah tersebut membuat kerajaan Hatorusan terlibat dalam pertikaian politik dengan kerajaan Sriwijaya dari Sumatera Selatan dan Jawa, sehingga saling menganeksasi.
Sriwijaya menjajah Barus. Sementara itu laporan Cina yang lain mengatakan bahwa Sriwijaya pada abad ke-7 dan 8 merupakan kerajaan ganda satu diantaranya ialah Barus (Wolters 9). Diyakini lokasi strategis Barus dan volume perdagangan di wilayah tersebut membuat kerajaan Hatorusan terlibat dalam pertikaian politik dengan kerajaan Sriwijaya dari Sumatera Selatan dan Jawa, sehingga saling menganeksasi.
Hubungan Barus dengan Sriwijaya
dibicarakan di dalam kitab Sunda lama “Carita Parahyangan” yang
mengatakan bahwa Barus merupakan daerah taklukan dari Raja Sanjaya, raja
Sumatera dari Sriwijaya yang berkuasa di Jawa dan mendirikan candi
Borobudur (Krom 126).
850 M
Kelompok Marga Harahap dari Kubu Tatea Bulan, bekas populasi Habinsaran bermigrasi massal ke arah Timur. Menetap di aliran sungai Kualu dan Barumun di Padang Lawas. Kelompok ini sangat hobbi berkuda sebagai kendaraan bermigrasi.
Kelompok Marga Harahap dari Kubu Tatea Bulan, bekas populasi Habinsaran bermigrasi massal ke arah Timur. Menetap di aliran sungai Kualu dan Barumun di Padang Lawas. Kelompok ini sangat hobbi berkuda sebagai kendaraan bermigrasi.
Karena ini, dalam jangka waktu yang
singkat, sekitar dua tahun, mereka sudah menguasai hampir seluruh daerah
Padang Lawas antara sungai Asahan dan Rokan. Sebuah daerah padang
rumput yang justru sangat baik untuk mengembangbiakkan kuda-kuda mereka.
Sebagain dari kelompok marga ini, melalui
Sipirok, menduduki daerah Angkola dan di sini tradisi mengembala dan
menunggang kuda hilang, mereka kembali menjadi komunitas agraris.
Sementara di Padang Lawas mereka menjadi penguasa feodalistik dan mulai
memperkenalkan perdagangan budak ke Tanah Batak Selatan.
851 M
Laporan Sulaiman pada tahun 851 M membicarakan tentang penambangan emas dan perkebunan barus (kamper) di Barus (Ferrand 36).
Laporan Sulaiman pada tahun 851 M membicarakan tentang penambangan emas dan perkebunan barus (kamper) di Barus (Ferrand 36).
Ahli sejarah menemukan bukti-bukti
arkeologis yang memperkuat dugaan bahwa sebelum munculnya
kerajaan-kerajaan Islam yang awal di Sumatera seperti Peurlak dan
Samudera Pasai, yaitu sekitar abad-9 dan 10, di Barus telah terdapat
kelompok-kelompok masyarakat Muslim dengan kehidupan yang cukup mapan.
900 M
Marga Nasution mulai tebentuk di Mandailing. Beberapa ratus tahun sebelumnya, sejak tahun-tahun pertama masyarakat Batak di sini, disinyalir saat itu zaman Nabi Sulaiman di Timur Tengah (Buku Ompu Parlindungan), perbauran penduduk dengan pendatang sudah menjadi tradisi di beberapa tempat, khusunya yang di tepi pantai.
Marga Nasution mulai tebentuk di Mandailing. Beberapa ratus tahun sebelumnya, sejak tahun-tahun pertama masyarakat Batak di sini, disinyalir saat itu zaman Nabi Sulaiman di Timur Tengah (Buku Ompu Parlindungan), perbauran penduduk dengan pendatang sudah menjadi tradisi di beberapa tempat, khusunya yang di tepi pantai.
Penduduk dataran tinggi, para pendatang
di pelabuhan Natal dan Muaralabu (dikenal dengan sebutan Singkuang atau
Sing Kwang oleh ejaan Cina), dan terutama elemen-elemen bangsa Pelaut
Bugis dari Sulawesi, yang singgah sebelum berlayar berdagang menuju
Madagaskar, telah berasimilasi dengan penuh toleransi dengan bangsa
Batak.
Para pendatang tersebut dengan sukarela
interaksi dan menerima adat Dalihan Natolu agar dapat mempersunting
wanita-wanita setempat setelah puluhan tahun di tengah laut. Datu
Nasangti Sibagot Ni Pohan dari Toba, seorang yang disegani saat itu,
menyatukan mereka; campuran penduduk peribumi dan pendatang tersebut,
membentuk marga Nasution.
Sementara itu perebutan kekuasaan terjadi
di Pusat Pemerintahan Kerajaan batak, martua Raja Doli dari Siangjur
Sagala Limbong Mulana dengan pasukannya merebut wilayah Lottung di
Samosir Timur. Percampuran keduanya membentuk kelompok Marga Lottung Si
Sia Marina, yang terdiri atas; Situmorang, Sinaga, Nainggolan,
Pandiangan, Simatupang, Aritonang dan Siregar.
Ibnu Rustih, mengunjungi Barus kurang
lebih pada tahun 900 M, menyebut Fansur, nama kota di Barus, sebagai
negeri yang paling masyhur di kepulauan Nusantara (Ferrand 79).
902 M
Ibn Faqih, mengunjungi Barus, melaporkan bahwa Barus merupakan pelabuhan terpenting di pantai barat Sumatera (Krom 204).
Ibn Faqih, mengunjungi Barus, melaporkan bahwa Barus merupakan pelabuhan terpenting di pantai barat Sumatera (Krom 204).
1050 M
Karena minimnya peralatan medis, epidemik melanda daerah Lottung kembali. Masyarakat Lottung Si Sia Marina berhamburan ke luar dari wilayah tersebut menuju daerah yang “sehat”. Akibatnya, kelompok Marga Siregar terpecah dua menjadi Siregar Sigumpar dan Siregar Muara, keduanya bermukin di Toba.
Karena minimnya peralatan medis, epidemik melanda daerah Lottung kembali. Masyarakat Lottung Si Sia Marina berhamburan ke luar dari wilayah tersebut menuju daerah yang “sehat”. Akibatnya, kelompok Marga Siregar terpecah dua menjadi Siregar Sigumpar dan Siregar Muara, keduanya bermukin di Toba.
1070-1120
Kemasyhuran Barus juga mengundang imigran asing bermukim dan berdagang serta menjadi buruh di beberapa sentral industri. Sebuah inskripsi Tamil bertarikh 1088 M dari zaman pemerintahan Kulottungga I (1070-1120) dari kerajaan Cola menyebut Barus terletak di Lobu Tua, dan banyak orang Tamil tinggal di kota ini sebagai saudagar dan pengrajin (Krom 59-60).
Kemasyhuran Barus juga mengundang imigran asing bermukim dan berdagang serta menjadi buruh di beberapa sentral industri. Sebuah inskripsi Tamil bertarikh 1088 M dari zaman pemerintahan Kulottungga I (1070-1120) dari kerajaan Cola menyebut Barus terletak di Lobu Tua, dan banyak orang Tamil tinggal di kota ini sebagai saudagar dan pengrajin (Krom 59-60).
Guru Marsakkot Pardosi, Salah satu
Dinasti Pardosi di Barus menjadi Raja di Lobu Tua, Barus. Nenek
moyangnya berasal dari Tukka, Pakkat di Negeri Rambe yang datang dari
Balige, Toba.
Pada permulaan abad ke-12, seorang ahli
geografi Arab, Idrisi, memberitakan mengenai ekport kapur di Sumatera
(Marschall 1968:72). Kapur bahasa latinnya adalah camphora produk dari
sebuah pohon yang bernama latin dryobalanops aromatica gaertn. Orang
Batak yang menjadi produsen kapur menyebutnya hapur atau todung atau
haboruan.
Beberapa istilah asing mengenai Sumatera
adalah al-Kafur al-Fansuri dengan istilah latin Canfora di Fanfur atau
Hapur Barus dalam bahasa Batak dikenal sebagai produk terbaik di dunia
(Drakard 1990:4) dan produk lain adalah Benzoin dengan bahasa latinnya
Styrax benzoin. Semua ini adalah produk-produk di Sumatera Barat Laut
dimana penduduk aselinya dalah orang-orang Pakpak dan Toba.
1200-1285
Kerajaan Nagur tetap eksis di hulu sungai Pasai. Marah Silu, Raja huta Kerajaan Nagur, mantan prajurit/pegawai Kesultanan Daya Pasai saat itu, masuk Islam dan mengganti namanya menjadi Sultan Malik Al Shaleh. Di atas puing-puing kerajaan Nagur tersebut, sang Raja, yang aseli Batak Gayo, berhasil melakukan ekspansi dan mendirikan Kerajaan Samudera Pasai sekaligus menjadikannya sebagai Sultan pertama.
Kerajaan Nagur tetap eksis di hulu sungai Pasai. Marah Silu, Raja huta Kerajaan Nagur, mantan prajurit/pegawai Kesultanan Daya Pasai saat itu, masuk Islam dan mengganti namanya menjadi Sultan Malik Al Shaleh. Di atas puing-puing kerajaan Nagur tersebut, sang Raja, yang aseli Batak Gayo, berhasil melakukan ekspansi dan mendirikan Kerajaan Samudera Pasai sekaligus menjadikannya sebagai Sultan pertama.
Kerabat Sultan Malik Al Shaleh, yakni
Syarif Hidayat Fatahillah merupakan tokoh yang mendirikan kota Jakarta
dan menjadi Sultan Banten (Emeritus) dan ikut serta mendirikan
Kesultanan Cirebon. Dia, yang dikenal sebagai Sunan Gunung Jati, adalah
tokoh yang berhasil menyelamatkan penduduk pribumi dari amukan bangsa
Portugis.
Sultan Malik Al Shaleh sendiri lahir di
Nagur, di tanah Batak Gayo. Dia adalah mantan prajurit Kesultanan Daya
Pasai, sebuah kerajaan yang berdiri di sisa-sisa kerajaan Nagur atau
tanah Nagur. Nama lahirnya adalah Marah Silu. Marah berasal dari kata
Meurah yang artinya ketua. Sedangkan Silu adalah marga Batak Gayo.
Sepeninggalannya (1285-1296) dia
digantikan oleh anaknya Sultan Malik Al Tahir (1296-1327). Putranya yang
lain Malik Al Mansyur pada tahun 1295 berkuasa di Barumun dan
mendirikan Kesultanan Aru Barumun pada tahun 1299.
Dinasti Batak Gayo di Kesultanan Aru Barumun adalah sebagai berikut:
1. Sultan Malik Al Mansyur (1299-1322)
2. Sultan Hassan Al Gafur (1322-1336)
3. Sultan Firman Al Karim (1336-1361),
pada era nya banyak bertikai dengan kekuatan imperialis Jawa Majapahit.
Di bawah panglima Laksamana Hang Tuah dan Hang Lekir, pasukan marinir
Aru Barumun berkali-kali membendung kekuatan Hindu Majapahit dari Jawa.
4. Sultan Sadik Al Quds (1361). Wafat akibat serangan jantung.
5. Sultan Alwi Al Musawwir (1361-1379)
6. Sultan Ridwan Al Hafidz (1379-1407). Banyak melakukan hubungan diplomatik dengan pihak Cina
7. Sultan Hussin Dzul Arsa yang bergelar
Sultan Haji. Pada tahun 1409 dia ikut dalam rombongan kapal induk
Laksamana Cengho mengunjungi Mekkah dan Peking di zaman Yung Lo. Dia
terkenal dalam annals dari Cina pada era Dinasti Ming dengan nama “Adji
Alasa” (A Dji A La Sa). Orang Batak yang paling dikenal di Cina.
8. Sultan Djafar Al Baki (1428-1459). Meninggal dalam pergulatan dengan seekor Harimau.
9. Sultan Hamid Al Muktadir (1459-1462), gugur dalam sebuah pandemi.
10. Sultan Zulkifli Al Majid. Lahir
cacat; kebutaan dan pendengaran. Pada tahun 1469, kesultanan Aru Barumun
diserang oleh kesultanan Malakka, atas perintah Sultan Mansyur Syah
yang memerintah antara tahun 1441-1476. Kota pelabuhan Labuhanbilik
dibumihanguskan dan Angkatan Laut Kesultanan Aru Barumun dimusnahkan.
11. Sultan Karim Al Mukji (1471-1489)
12. Sultan Muhammad Al Wahid (1489-1512). Gugur dalam pertempuran melawan bajak laut Portugis.
13. Sultan Ibrahim Al Jalil (1512-1523) ditawan dan diperalat oleh Portugis.
13. Sultan Ibrahim Al Jalil (1512-1523) ditawan dan diperalat oleh Portugis.
1292-1302 M
Sultan Marah Pangsu Pardosi naik tahta, memerintah di Barus Hulu yang mencakup beberapa negeri diantaranya Negeri Rambe, menggantikan ayahnya Sultan Mualif Pardosi, (700-710 H). Kakeknya Sultan Kadir Pardosi merupakan turunan pertama, dari Dinasti Pardosi, dari Tukka, yang masuk Islam.
Sultan Marah Pangsu Pardosi naik tahta, memerintah di Barus Hulu yang mencakup beberapa negeri diantaranya Negeri Rambe, menggantikan ayahnya Sultan Mualif Pardosi, (700-710 H). Kakeknya Sultan Kadir Pardosi merupakan turunan pertama, dari Dinasti Pardosi, dari Tukka, yang masuk Islam.
Dinasti Pardosi sejak dahulu kala sampai abad ke-19 adalah:
1. Raja Kesaktian (Bermarga Pohan di Toba)
2. Alang Pardosi pindah ke Rambe dan mendirikan istana di Gotting, Tukka
3. Pucaro Duan Pardosi di Tukka
4. Guru Marsakot Pardosi di Lobu Tua
5. Raja Tutung Pardosi di Tukka, berselisih dengan Raja Rambe di Pakkat.
6. Tuan Namora Raja Pardosi
n Ada gap yang lama, beberapa raja difase ini tidak terdokumentasi
7. Raja Tua Pardosi
8. Raja Kadir Pardosi (Pertama masuk Islam)
9. Raja Mualif Pardosi
10. Sultan Marah Pangsu Pardosi (700-an Hijriyah)
11. Sultan Marah Sifat Pardosi
12. Tuanku Maharaja Bongsu Pardosi (1054 H)
13. Tuanku Raja Kecil Pardosi
14. Sultan Daeng Pardosi
15. Sultan Marah Tulang Pardosi
16. Sultan Munawar Syah Pardosi
17. Sultan Marah Pangkat Pardosi (1170 H)
18. Sultan Baginda Raja Adil Pardosi (1213 H)
19. Sultan Sailan Pardosi (1241 H )
20. Sultan Limba Tua Pardosi
21. Sultan Ma’in Intan Pardosi
22. Sultan Agama yang bernama Sultan Subum Pardosi
23. Sultan Marah Tulang yang bernama Sultan Nangu Pardosi (1270 H).
23. Sultan Marah Tulang yang bernama Sultan Nangu Pardosi (1270 H).
1292 M
Pada abad-13 Ibnu Said membicarakan peranan Barus sebagai pelabuhan dagang utama untuk wilayah Sumatera (Ferrand 112). Marco Polo mengunjungi Sumatera pada tahun 1292 M, dan menulis bahwa Barus merupakan sebuah kerajaan, yang agak tergantung kepada Cina, tetapi merupakan pelabuhan rempah-rempah yang penting dan memiliki otonomi (Krom 339).
Pada abad-13 Ibnu Said membicarakan peranan Barus sebagai pelabuhan dagang utama untuk wilayah Sumatera (Ferrand 112). Marco Polo mengunjungi Sumatera pada tahun 1292 M, dan menulis bahwa Barus merupakan sebuah kerajaan, yang agak tergantung kepada Cina, tetapi merupakan pelabuhan rempah-rempah yang penting dan memiliki otonomi (Krom 339).
1293 – 1339 M
Penetrasi orang-orang Hindu yang berkolaborasi dengan Bangsa Jawa mendirikan Kerajaan Silo, di Simalungun, raja pertama bernama Indra Warman dengan pasukan yang berasal dari Singosari. Pusat Pemerintah Agama ini berkedudukan di Dolok Sinumbah. Kelak direbut oleh orang-orang Batak dan di atasnya didirikan cikal bakal kerajaan-kerajaan Simalungun dengan identitas yang terpisah dengan Batak. Kerajaan Silo ini terdiri dari dua level masyarakat; Para Elit yang terdiri dari kaum Priayi Jawa dan masyarakat yang terdiri dari kelompok Marga Siregar Silo.
Penetrasi orang-orang Hindu yang berkolaborasi dengan Bangsa Jawa mendirikan Kerajaan Silo, di Simalungun, raja pertama bernama Indra Warman dengan pasukan yang berasal dari Singosari. Pusat Pemerintah Agama ini berkedudukan di Dolok Sinumbah. Kelak direbut oleh orang-orang Batak dan di atasnya didirikan cikal bakal kerajaan-kerajaan Simalungun dengan identitas yang terpisah dengan Batak. Kerajaan Silo ini terdiri dari dua level masyarakat; Para Elit yang terdiri dari kaum Priayi Jawa dan masyarakat yang terdiri dari kelompok Marga Siregar Silo.
1331 – 1364
Di Nusantara, Kerajaan Majapahit tumbuh menjadi sebuah Negara Superpower. Sebelumnya, Sebagin Eropa Barat dan Timur sampai ke Kazan Rusia, Asia Tengah dan Afrika Utara dan tentunya Timur Tengah didominasi Kekuatan Arab yang juga menguasasi Samudera India, Atlantik dan sebagain Samudera Pasifik.. Kekuatan Persia-Mongol tampak di India, Pakistan, Banglades dan sebagian China dan Indo-Cina serta beberapa kepulauan Nusantara, mereka tidak kuat di laut. China menguasasi sebagian Samudera Pasifik khususnya laut China Selatan. Sementara itu di pedalaman Eropa manusia masih hidup dalam pengaruh Yunani dan Romawi yang Animis, mereka kemudian menjadi perompak dan pembajak laut. Di daerah nusantara kaum Hokkian menguasasi jaringan ‘garong’ perompak yang terkadang lebih kuat dari kerajaan-kerajaan kecil melayu. Para pembajak laut Eropa sesekali diboncengi kaum Fundamentalis Yahudi dan pendatang baru; kaum trinitas Gereja barat yang berseberangan dengan Gereja timur yang unitarian dan menaruh dendam kesumat atas kejayaan Arab.
Di Nusantara, Kerajaan Majapahit tumbuh menjadi sebuah Negara Superpower. Sebelumnya, Sebagin Eropa Barat dan Timur sampai ke Kazan Rusia, Asia Tengah dan Afrika Utara dan tentunya Timur Tengah didominasi Kekuatan Arab yang juga menguasasi Samudera India, Atlantik dan sebagain Samudera Pasifik.. Kekuatan Persia-Mongol tampak di India, Pakistan, Banglades dan sebagian China dan Indo-Cina serta beberapa kepulauan Nusantara, mereka tidak kuat di laut. China menguasasi sebagian Samudera Pasifik khususnya laut China Selatan. Sementara itu di pedalaman Eropa manusia masih hidup dalam pengaruh Yunani dan Romawi yang Animis, mereka kemudian menjadi perompak dan pembajak laut. Di daerah nusantara kaum Hokkian menguasasi jaringan ‘garong’ perompak yang terkadang lebih kuat dari kerajaan-kerajaan kecil melayu. Para pembajak laut Eropa sesekali diboncengi kaum Fundamentalis Yahudi dan pendatang baru; kaum trinitas Gereja barat yang berseberangan dengan Gereja timur yang unitarian dan menaruh dendam kesumat atas kejayaan Arab.
Prapanca, seorang pujangga Majapahit abad
ke-14, yang masyhur mengatakan di dalam Negara Kertagama bahwa Barus
merupakan salah satu negeri melayu yang penting di Sumatera. Negeri
Barus menjadi terkenal karena masyarakat Batak di Sumatera saat itu,
Batak Pesisir, menggunakan bahasa melayu sebagai Lingua Franca.
1339
Pasukan ampibi Kerajaan Majapahit melakukan infiltrasi di muara Sungai Asahan. Dimulailah upaya invasi terhadap Kerajaan Silo. Raja Indrawarman tewas dalam penyerbuan tersebut. Kerajaan Silo berantakan, keturunan raja bersembunyi di Haranggaol.
Pasukan ampibi Kerajaan Majapahit melakukan infiltrasi di muara Sungai Asahan. Dimulailah upaya invasi terhadap Kerajaan Silo. Raja Indrawarman tewas dalam penyerbuan tersebut. Kerajaan Silo berantakan, keturunan raja bersembunyi di Haranggaol.
Pasukan Majapahit di bawah komando
Perdana Menteri Gajah Mada, mengamuk dan menghancurkan beberapa kerajaan
lain; Kerajaan Haru Wampu serta Kesyahbandaran Tamiang (sekarang Aceh
Tamiang) yang saat itu merupakan wilayah kedaulatan Samudra Pasai.
Pasukan Samudra Pasai, di bawah komando
Panglima Mula Setia, turun ke lokasi dan berhasil menyergap tentara
Majapahit di rawa-rawa sungai Tamiang. Gajah Mada bersma pengawal
pribadinya melarikan diri ke Jawa meninggalkan tentaranya terkepung oleh
pasukan musuh.
Para Keturunan Indrawarman kembali ke
kerajaan dan mendirikan kerajaan baru bernama Kerajaan Dolok Silo dan
Kerajaan Raya Kahean.
1339
Kerajaan Dolok Silo dan Raya Kahean berakulturasi menjadi kerajaan Batak Simalungun, namun tetap berciri khas Hindu Jawa absolut. Konon kerajaan ini mampu berdiri selama 600 tahun. Menjadi dinasti tertua di kepulauan Indonesia di abad 20. Sekitar 250 tahun lebih tua dari Dinasti Mataram di Pulau Jawa.
Kerajaan Dolok Silo dan Raya Kahean berakulturasi menjadi kerajaan Batak Simalungun, namun tetap berciri khas Hindu Jawa absolut. Konon kerajaan ini mampu berdiri selama 600 tahun. Menjadi dinasti tertua di kepulauan Indonesia di abad 20. Sekitar 250 tahun lebih tua dari Dinasti Mataram di Pulau Jawa.
Pada saat yang sama dua kerajaan lain
muncul kepermukaan; Kerajaan Siantar dan Tanah Jawa. Raja di Kerajaan
Siantar merupakan keturunan Indrawarman, sementara Pulau Jawa, dipimpin
oleh Raja Marga Sinaga dari Samosir. Penamaan tanah Jawa untuk mengenang
Indrawarman.
1350
Kelompok Marga Siregar bermigrasi ke Sipirok di Tanah Batak Selatan.
Kelompok Marga Siregar bermigrasi ke Sipirok di Tanah Batak Selatan.
1416 – 1513
Pasukan Cina dibawah komando Laksamana Haji Sam Po Bo, Ceng Ho, dalam armada kapal induk mendarat di Muara Labuh di muara Sungai Batang Gadis. Salah satu misi mereka yakni mengejar para bandit dari suku Hokkian tercapai. Sebelum berangkat, pasukan Cengho yang berjumlah ribuah itu mendirikan industri pengolahan kayu dan sekaligus membuka pelabuhan Sing Kwang atau Singkuang dalam lidah lokal yang berarti Tanah Baru.
Pasukan Cina dibawah komando Laksamana Haji Sam Po Bo, Ceng Ho, dalam armada kapal induk mendarat di Muara Labuh di muara Sungai Batang Gadis. Salah satu misi mereka yakni mengejar para bandit dari suku Hokkian tercapai. Sebelum berangkat, pasukan Cengho yang berjumlah ribuah itu mendirikan industri pengolahan kayu dan sekaligus membuka pelabuhan Sing Kwang atau Singkuang dalam lidah lokal yang berarti Tanah Baru.
1416-1513
Orang-orang Tionghoa yang beragama Islam mulai berdatangan ke Sing Kwang dan berasimilasi dengan penduduk khususnya kelompok marga Nasution. Para Tionghoa tersebut membeli Kayu Meranti dari pengusaha setempat dan mengirimkannya ke Cina daratan untuk bahan baku tiang istana, kuil dan tempat ibadah lainnya.
Orang-orang Tionghoa yang beragama Islam mulai berdatangan ke Sing Kwang dan berasimilasi dengan penduduk khususnya kelompok marga Nasution. Para Tionghoa tersebut membeli Kayu Meranti dari pengusaha setempat dan mengirimkannya ke Cina daratan untuk bahan baku tiang istana, kuil dan tempat ibadah lainnya.
1419-1444
Nicolo Di Conti dari Venesia tahun 1419-1444 mengadakan perjalanan ke Barus dan menyebutkan kapur dalam bukunya. Seorang navigator atau mualim Arab Ahmad bin Majid menulis dalam bukunya Kitab al-Fawa’id fi usul al-Bahr wa al-Qawaid (c 1489-1490) bahwa kapur Barus ada di bagian utara Sumatera yaitu antara garis katulistiwa sampai tiga derajat lintang utara (Marsden 1811: 149f)
Nicolo Di Conti dari Venesia tahun 1419-1444 mengadakan perjalanan ke Barus dan menyebutkan kapur dalam bukunya. Seorang navigator atau mualim Arab Ahmad bin Majid menulis dalam bukunya Kitab al-Fawa’id fi usul al-Bahr wa al-Qawaid (c 1489-1490) bahwa kapur Barus ada di bagian utara Sumatera yaitu antara garis katulistiwa sampai tiga derajat lintang utara (Marsden 1811: 149f)
1450-1500
Islam menjadi agama resmi orang-orang Batak Toba, khususnya dari kelompok marga Marpaung yang bermukim di aliran sungai Asahan. Demikian juga halnya dengan Batak Simalungun yang bermukim di Kisaran, Tinjauan, Perdagangan, Bandar, Tanjung Kasau, Bedagai, Bangun Purba dab Sungai Karang.
Islam menjadi agama resmi orang-orang Batak Toba, khususnya dari kelompok marga Marpaung yang bermukim di aliran sungai Asahan. Demikian juga halnya dengan Batak Simalungun yang bermukim di Kisaran, Tinjauan, Perdagangan, Bandar, Tanjung Kasau, Bedagai, Bangun Purba dab Sungai Karang.
Perubahan terjadi di konstalasi politik
dunia. Para bajak laut Eropa mulai mencari target operasi baru di
kepulauan Nusantara yang hilir mudik dilalui para pedagang-pedagang
Internasional; Arab, Afrika, India, Gujarat, Punjabi, Yunnan dan
tentunya kelompok bajak laut lokal; Hokkian.
1450-1818
Kelompok Marga Marpaung menjadi supplaier utama komoditas garam ke Tanah Batak di pantai timur. Splendidi isolation Bangsa batak mulai terkuak. Yang positif bisa masuk namun tidak yang negatif.
Kelompok Marga Marpaung menjadi supplaier utama komoditas garam ke Tanah Batak di pantai timur. Splendidi isolation Bangsa batak mulai terkuak. Yang positif bisa masuk namun tidak yang negatif.
Mesjid pribumi pertama didirikan oleh
penduduk setempat di pedalaman Tanah Batak; Porsea, lebih kurang 400
tahun sebelum mesjid pertama berdiri di Mandailing. Menyusul setelah itu
didirikan juga mesjid di sepanjang sungai Asahan antara Porsea dan
Tanjung Balai. Setiap beberapa kilometer sebagai tempat persinggahan
bagi musafir-musafir Batak yang ingin menunaikan sholat. Mesjid-mesjid
itu berkembang, selain sebagai termpat ibadah, juga menjadi tempat
transaksi komoditas perdagangan. Siapapun berhak membeli, tidak ada
diskriminasi agama. Toleransi antara Islam dan agama orang Batak yakni
parmalim berlangsung begitu erat dan hangat.
1451
Mazhab Syafii berkembang pesat di Tanah Batak. Khusunya bagi mereka yang mendiami area Padang Lawas, di daerah Sungai Rokan dan Sungai Barumun. Didirikan mesjid-mesjid di Daludalu, Tambusai, Langgapayung dan Sunggam.
Mazhab Syafii berkembang pesat di Tanah Batak. Khusunya bagi mereka yang mendiami area Padang Lawas, di daerah Sungai Rokan dan Sungai Barumun. Didirikan mesjid-mesjid di Daludalu, Tambusai, Langgapayung dan Sunggam.
Juga orang-orang marga Marpaung, pedagang
garam di daeran pengaliran Sungai Asahan. Pada tahun 908H/1501M
didirikan mesjid di Porsea Uluan. Dekat jembatan panjang yang sekarang.
Mazhab Syafii juga berkembang pesat di
komunitas Batak Simalungun khususnya daerah Tinjauan, Perdagangan,
Bandar, Bedagai dan Bangun Purba. Mereka kebanyakan berasal dari marga
Sinaga dan Damanik. Sekarang ini (2006) di Simalungun telah terpilih
langsung dalam pilkada Kabupaten Simalungun seorang putera daerah
Zulkarnaen Damanik sebagai Bupati Simalungun.
1508
Kerajaan Haru Wampu yang berpopulasi orang-orang Batak Karo diinvasi oleh Kesultanan Aceh. Dalam perkembangan politik berikutnya para keturunan Raja Haru Wampu mendirikan kerajaan baru yang menjadi cikal bakal Kesultanan Langkat.
Kerajaan Haru Wampu yang berpopulasi orang-orang Batak Karo diinvasi oleh Kesultanan Aceh. Dalam perkembangan politik berikutnya para keturunan Raja Haru Wampu mendirikan kerajaan baru yang menjadi cikal bakal Kesultanan Langkat.
1508-1523
Kesultanan Haru Delitua tetap eksis di daerah pengairan sungai Deli namun kedulatannya berada dalam otoritas Kesultanan Aceh. Penduduknya merupakan Batak Karo yang sudah memeluk agama Islam. Setelah melemahnya dominasi Kesultanan Aceh, Kesultanan ini bertransformasi menjadi Kesultanan Deli.
Kesultanan Haru Delitua tetap eksis di daerah pengairan sungai Deli namun kedulatannya berada dalam otoritas Kesultanan Aceh. Penduduknya merupakan Batak Karo yang sudah memeluk agama Islam. Setelah melemahnya dominasi Kesultanan Aceh, Kesultanan ini bertransformasi menjadi Kesultanan Deli.
Kelompok bajak laut Eropa setelah
beberapa lama dikucilkan karena perangai ‘garongnya’ mulai
memperkenalkan diri kepada kerajaan-kerajaan nusantara sebagai ‘pedagang
damai’. Taktik ini diambil agar mereka dapat melakukan penetrasi ke
wilayah kerajaan untuk pemetaan dan penentuan titik-titik serangan untuk
devide et impera.
1510
Dinasti Sori Mangaraja, yang berpusat di Sianjur Limbong Mulana, dikudeta oleh Kelompok Marga Manullang. Kejayaan dinasti ini, setelah 90 generasi berturut-turut memerintah, lenyap. Dinasti ini sendiri terdiri dari Kelompok Marga Sagala dari kubu Tatea Bulan.
Dinasti Sori Mangaraja, yang berpusat di Sianjur Limbong Mulana, dikudeta oleh Kelompok Marga Manullang. Kejayaan dinasti ini, setelah 90 generasi berturut-turut memerintah, lenyap. Dinasti ini sendiri terdiri dari Kelompok Marga Sagala dari kubu Tatea Bulan.
1511
Pada permulaan abad-16, Tome Pires-seorang pengembara Portugis- yang terkenal dan mencatat di dalam bukunya Suma Oriental bahwa Barus merupakan sebuah kerajaan kecil yang merdeka, makmur dan ramai didatangi para pedagang asing.
Pada permulaan abad-16, Tome Pires-seorang pengembara Portugis- yang terkenal dan mencatat di dalam bukunya Suma Oriental bahwa Barus merupakan sebuah kerajaan kecil yang merdeka, makmur dan ramai didatangi para pedagang asing.
Dia menambahkan bahwa di antara komoditas
penting yang dijual dalam jumlah besar di Barus ialah emas, sutera,
benzoin, kapur barus, kayu gaharu, madu, kayu manis dan aneka
rempah-rempah.
Seorang penulis Arab terkenal Sulaiman
al-Muhri juga mengunjungi Barus pada awal abad ke-16 dan menulis di
dalam bukunya Al-Umdat Al-Muhriya fi Dabt Al-Ulum Al-Najamiyah (1511)
bahwa Barus merupakan tujuan utama pelayaran orang-orang Arab, Persia
dan India. Barus, tulis al-Muhri lagi, adalah sebuah pelabuhan yang
sangat terkemuka di pantai Barat Sumatera.
Pada pertengahan abad ke-16 seorang ahli
sejarah Turki bernama Sidi Ali Syalabi juga berkunjung ke Barus, dan
melaporkan bahwa Barus merupakan kota pelabuhan yang penting dan ramai
di Sumatera.
Sebuah misi dagang Portugis mengunjungi
Barus pada akhir abad ke-16, dan di dalam laporannya menyatakan bahwa di
kerajaan Barus, benzoin putih yang bermutu tinggi didapatkan dalam
jumlah yang besar. Begitu juga kamfer yang penting bagi orang-orang
Islam, kayu cendana dan gaharu, asam kawak, jahe, cassia, kayu manis,
timah, pensil hitam, serta sulfur yang dibawa ke Kairo oleh
pedagang-pedagang Turki dan Arab. Emas juga didapatkan di situ dan
biasanya dibawa ke Mekkah oleh para pedagang dari Minangkabau, Siak,
Indragiri, Jambi, Kanpur, Pidie dan Lampung.
1516-1816
Di Daerah Batak Selatan, dengan populasi Tatea Bulan, Dinasti Sori Mangaraja meneruskan pengaruhnya di Sipirok. Secara de jure diakui oleh masyarakat Marga Siregar, Harahap dan Lubis. Secara mayoritas masyarakat marga Nasution juga memberikan pengakuan sehingga Dinasti Sisingamagaraja yang memerintah tanah Batak seterusnya, berpusat di Bakkara, tidak mendapat pengakuan yang menyeluruh.
Di Daerah Batak Selatan, dengan populasi Tatea Bulan, Dinasti Sori Mangaraja meneruskan pengaruhnya di Sipirok. Secara de jure diakui oleh masyarakat Marga Siregar, Harahap dan Lubis. Secara mayoritas masyarakat marga Nasution juga memberikan pengakuan sehingga Dinasti Sisingamagaraja yang memerintah tanah Batak seterusnya, berpusat di Bakkara, tidak mendapat pengakuan yang menyeluruh.
Dinasti Sorimangaraja:
1. Sorimangaraja I-XC (1000 SM-1510M)
2. Sorimangaraja XC (1510). Dikudeta oleh orang-orang marga Simanullang
3. Raja Soambaton Sagala menjadi Sorimangaraja XCI
4. Sorimangaraja CI (ke-101) 1816 M dengan nama Syarif Sagala masuk Islam.
4. Sorimangaraja CI (ke-101) 1816 M dengan nama Syarif Sagala masuk Islam.
1513
Kesultanan Aceh merebut pelabuhan-pelaburan pantai barat Pulau Andalas, untuk dijadikan jalur baru perdagangan internasional ke Maluku via selat Sunda. Bajak laut Portugis menutup dan melakukan aksi bajing loncat di Selat Malaka. Portugis mulai membawa kebencian agama ke Nusantara; diskriminasi agama diterapkan dengan melarang pedagang Islam melalui Malaka. Cina Islam, Arab dan penduduk nusantara menjadi korban pelecehan gaya Eropa.
Kesultanan Aceh merebut pelabuhan-pelaburan pantai barat Pulau Andalas, untuk dijadikan jalur baru perdagangan internasional ke Maluku via selat Sunda. Bajak laut Portugis menutup dan melakukan aksi bajing loncat di Selat Malaka. Portugis mulai membawa kebencian agama ke Nusantara; diskriminasi agama diterapkan dengan melarang pedagang Islam melalui Malaka. Cina Islam, Arab dan penduduk nusantara menjadi korban pelecehan gaya Eropa.
Pengaruh internasionalisasi pelabuhan di
Andalas, penduduk lokal Batak di lokasi tersebut; Singkil, Pansur,
Barus, Sorkam, Teluk Sibolga, Sing Kwang dan Natal memeluk Islam setelah
sebelumnya beberapa elemen sudah menganutnya.
Kelompok Marga Tanjung di Pansur, marga
Pohan di barus, Batu Bara di Sorkam kiri, Pasaribu di Sorkam Kanan,
Hutagalung di Teluk Sibolga, Daulay di Sing Kwang merupakan komunitas
Islam pertama yang menjalankan Islam dengan kaffah.
1513-1818
Komunitas Hutagalung dengan karavan-karavan kuda menjadi komunitas pedagang penting yang menghubungkan Silindung, Humbang Hasundutan dan Pahae. Marga Hutagalung di Silindung mendirikan mesjid lokal kedua di Silindung.
Komunitas Hutagalung dengan karavan-karavan kuda menjadi komunitas pedagang penting yang menghubungkan Silindung, Humbang Hasundutan dan Pahae. Marga Hutagalung di Silindung mendirikan mesjid lokal kedua di Silindung.
Di Jerman, Kaum Protestan melepaskan diri dari hegemoni Gereja Katolik Roma.
1513
Puncak perkembangnya mazhab syiah di Tanah Batak. Dengan cirri khasnya; perayaan Tabut Hassan dan Hussein. Mereka itu adalah orang-orang Batak di tanah pesisir barat, Barus, Teluk Sibolga dan Natal. Mereka kebanyakan dari marga Pohan.
Puncak perkembangnya mazhab syiah di Tanah Batak. Dengan cirri khasnya; perayaan Tabut Hassan dan Hussein. Mereka itu adalah orang-orang Batak di tanah pesisir barat, Barus, Teluk Sibolga dan Natal. Mereka kebanyakan dari marga Pohan.
Juga pada komunitas Hutagalung, pedagang
garam di tepi teluk Sibolga. Pada tahun 921H/1514 didirikan mesjid syiah
di kampung Hutagalung, Horian di Silindung. Komunitas Hutagalung yang
menguasai alur perdagangan di teluk Sibolga, sampai ke daerah Silindung,
Humbang dan Pahae ini, mendirikan banyak mesjid di Silindung sebelum
akhirnya diruntuhkan Belanda saat menjajah tanah Batak. Tokoh Hutagalung
yang terkenal saat ini, yang terdokumentasi, adalah Amir Hussin
Hutagalung, bergelar Tuanku Saman lahir 1819 dan meninggal tahun 1837,
yang semasa dengan Tuanku Rao; Amiruddin Sinambela. Ayah dari Tuanku
Saman adalah Kulipah Abdul Karim Hutagalung yang menjadi imam mesjid di
Silindung. Yang terakhir ini diyakini telah berubah menjadi Sunni
Mazhab Syiah juga berkembang di komunitas Batak Karo Dusun di Deli Tua
1523
Orang-orang Eropa tidak sabar untuk menjarah Nusantara. Kesultanan Karo Muslim di Haru Delitua dimusnahkan oleh kaum Portugis. Ratu Putri Hijau, yang mempunyai hubungan kekeluargaan dengan raja-raja Aceh, tewas. Sambil berzikir sang ratu diikat di mulut meriam lalu diledakkan. Kebrutalan perang diperkenalkan oleh bangsa Eropa.
Orang-orang Eropa tidak sabar untuk menjarah Nusantara. Kesultanan Karo Muslim di Haru Delitua dimusnahkan oleh kaum Portugis. Ratu Putri Hijau, yang mempunyai hubungan kekeluargaan dengan raja-raja Aceh, tewas. Sambil berzikir sang ratu diikat di mulut meriam lalu diledakkan. Kebrutalan perang diperkenalkan oleh bangsa Eropa.
1540-1884
Dinasti Sisingamagaraja (SM Raja) tampil sebagai otoritas tertinggi di Tanah Batak, menggantikan dominasi Dinasti Sorimangaraja. Sisingamangaraja I, Lahir di Bakkara dengan nama Manghuntal atau dikenal juga dengan nama Mahkuta, dibesarkan di Istana Raja Uti VII (Pasaribu Hatorusan) di Singkel, menjadi raja Batak di Bakkara paska menumpas pemberontakan memerintah di tahun 1540-1550 M, lalu menghilang, putra mahkotanya yang masih berumur 12 tahun naik tahta menggantikannya. Diketahui kemudian, Sisingamangaraja pergi ke tanah Karo dan di sana dia berkeluarga dan salah seorang cucunya menjadi pendiri Kota Medan, yakni Guru Patimpus..
Dinasti Sisingamagaraja (SM Raja) tampil sebagai otoritas tertinggi di Tanah Batak, menggantikan dominasi Dinasti Sorimangaraja. Sisingamangaraja I, Lahir di Bakkara dengan nama Manghuntal atau dikenal juga dengan nama Mahkuta, dibesarkan di Istana Raja Uti VII (Pasaribu Hatorusan) di Singkel, menjadi raja Batak di Bakkara paska menumpas pemberontakan memerintah di tahun 1540-1550 M, lalu menghilang, putra mahkotanya yang masih berumur 12 tahun naik tahta menggantikannya. Diketahui kemudian, Sisingamangaraja pergi ke tanah Karo dan di sana dia berkeluarga dan salah seorang cucunya menjadi pendiri Kota Medan, yakni Guru Patimpus..
Raja Manghuntal atau Raja Mahkota
bergelar Sisingamangaraja I memerintah sentral Tanah Batak selama 10
tahun menurut stempel, cap kerajaan, yang bertahun 947 H dan berakhir
dalam tahun 957 Hijriyah atau dalam tahun 1540 s.d 1550 M.
Manghuntal mulai menata kembali kehidupan
masyarakat. Untuk mengakomodasi berbagai kepentingan dan pertikaian
antar kelompok masyarakat, dia berkoalisi dengan dengan tetua di
Bakkara. Mereka, yang menjadi perwakilan tersebut diangkat sebagai
anggota kabinet di pemerintahan, adalah raja-raja dari si Onom Ompu;
Kelompok Bakkara, Sihite, Simanullang, Sinambela, Simamora dan Marbun.
Masing-masing keluarga ini didelegasikan
beberapa wewenang. Setiap mereka diberi simbol kerajaan berupa barang
pusaka yang didapat Manghuntal dari Kerajaan Hatorusan (Raja Uti VII).
Di samping itu, dia juga melakukan
distribusi kerja yang jelas kepada para pembantunya; di antaranya
lembaga Pande Na Bolon yang bertugas sebagai penasehat dan juga sebagai
fasilitator antar daerah di dalam kerajaan. Jabatan bendahara kerajaan
diberikan kepada marga Sihite. Untuk mengikat semua daerah kekuasaan
dalam satu kesatuan yang utuh, dia melakukan berbagai pendekatan antara
lain secara spiritual dengan membawa air dan tanah dari Bakkara.
Target pertamanya adalah dengan merangkul
Humbang. Humbang merupakan daerah paling Barat kerajaan yang
berpopulasi keturunan raja Sumba, keturunan yang sama dengan Manghuntal.
Mereka itu berasal dari marga Sihombing dan Simamora. Di sana dia
mengangkat dua perwakilannya; dalam institusi Raja Parbaringin, yaitu
dari marga Simamora dan Hutasoit (Putra sulung Sihombing).
Dari Humbang dia pergi ke Silindung. Dia
mengangkat Raja Na Opat untuk daerah ini. Perbedaan institusi
perwakilannya tersebut berdasarkan pertimbangan-pertimbangan geografis
dan politik saat itu. Hal yang sama dia melakukannya untuk daerah-daerah
yang lain. Satu instusi lainnya adalah panglima wilayah. Sebuah daerah
yang damai atau homogen akan berbeda dengan huta yang plural. Begitu
juga daerah yang berbatasan langsung dengan luar kerajaan dengan yang
berada di pusat kerajaan mendapat perwakilan yang berbeda.
Insting kepemimpinan yang dia warisi
selama masih dididik di istana Raja-raja Uti membuatnya memahami betul
langkah-langkah politik yang sesuai dengan karakter sebuah huta. Sikap
ini dengan cepat dapat menyatukan masyarakat Batak yang berbeda-beda
marga dan kepentingan hutanya. Egoisme, primordialisme huta dan
fanatisme marga serta kebiasaan bertengkar orang-orang Batak ditundukkan
dengan harmoni dan kebersamaan.
Selain di bidang politik, Manghuntal juga
mendapat sambutan yang positif dari masyarakat. Masa kecil Manghuntal
di Bakkara sebelum dididik di Istana Raja Uti VII yang baik sangat
diingat oleh penduduk sebagai orang yang baik hati, tegas, suka menjauhi
perbudakan, membayar utang orang-orang yang tidak mampu dan lain
sebagainya membuat kharismanya menanjak.
Kewibawaan dan keharuman namanya
menumbuhkan beberapa mitos di masyarakat mengenai pribadinya. Tidak
diketahui siapa yang membuat mitos tersebut, tapi yang pasti pembuatnya
adalah pengagum kepribadian Manghuntal. Beberapa mitos tersebut adalah:
Divine dan Holy; SM Raja dan keturunanya
dianggap sebagai seorang yang mempunyai sifat ketuhanan dan suci. Dia
juga dianggap sebagai maha sakti dan mempunyai banyak kelebihan.
Immortalitas juga disandingkan kepadanya sebagai raja yang “yang tidak pernah mati dan tua”-na so olo mate na so olo matua.
Omniscient; Orang Batak percaya bahwa SM
Raja mengetahui semua hal yang dikatakan dan dilakukan. Mempunyai sahala
yang tinggi. Sahala yang dimaksud adalah kekuatan untuk menunjukkan
kemampuan yang tinggi.
Paska sepuluh tahun pemerintahannya di
Bakkara, Sisingamangaraja I menghilang dan diketahui bermigrasi ke tanah
Karo dan berkeluarga di sana. Turunannya menjadi raja-raja huta.
Orang-orang di Bakkara meyakini bahwa Sisingamangaraja hilang diangkat
oleh kekuatan spiritual dan mengangkat putranya yang amsih berumur dua
belas tahun sebagai raja.
1590
Guru Patimpus, cucu dari Sisingamangaraja di Tanah Karo, masuk Islam dan pada tanggal 1 Juli 1590 atau tahun 998 H, mendirikan kota Medan. Tanggal 1 Juli 1590 menjadi haru jadi kota Medan. Cucu Sisingamangaraja menjadi raja-raja huta di tanah Karo di bawah bayang-bayang hegemoni Batak Karo (Haru) dan Batak Gayo (Samudera Pasai dan Kesultanan Aru Barumun).
Guru Patimpus, cucu dari Sisingamangaraja di Tanah Karo, masuk Islam dan pada tanggal 1 Juli 1590 atau tahun 998 H, mendirikan kota Medan. Tanggal 1 Juli 1590 menjadi haru jadi kota Medan. Cucu Sisingamangaraja menjadi raja-raja huta di tanah Karo di bawah bayang-bayang hegemoni Batak Karo (Haru) dan Batak Gayo (Samudera Pasai dan Kesultanan Aru Barumun).
Menurut riwayat Hamparan Perak salah
seorang putera dari Sisingamangaraja bernama Tuan Si Raja Hita mempunyai
seorang anak bernama Guru Patimpus pergi merantau ke beberapa tempat di
Tanah Karo dan merajakan anak-anaknya di kampung–kampung: Kuluhu,
Paropa, Batu, Liang Tanah, Tongging, Aji Jahe, Batu Karang, Purbaji, dan
Durian Kerajaan. Kemudian Guru Patimpus turun ke Sungai Sikambing dan
bertemu dengan Datuk Kota Bangun.
Menurut Datuk Bueng yang tinggal di Jl.
Kertas Medan dia mempunyai dokumen tua dalam bentuk lempeng–lempeng.
Menurut trombo yang ada padanya Raja–raja 12 Kuta (Hamparan Perak)
adalah :
Dinasti Sisingamangaraja I, setelah menghilang dari Bakkara.
1. Sisingamangaraja I, Lahir di Bakkara,
dibesarkan di Istana Raja Uti VII (Pasaribu Hatorusan) di Singkel,
menjadi raja Batak di Bakkara paska menumpas pemberontakan memerintah di
tahun 1540-1550 M, lalu menghilang. Diketahui kemudian dia pergi ke
tanah Karo.
2. Tuan si Raja Hita bin Sisingamangaraja I
3. Guru Patimpus, masuk Islam dan pada tanggal 1 Juli 1590, mendirikan kota Medan.
4. Datuk Hafiz Muda
5. Datuk Muhammad Syah Darat
6. Datuk Mahmud
7. Datuk Ali
8. Banu Hasim
9. Sultan Seru Ahmad
10. Datuk Adil
11. Datuk Gombak
12. Datuk Hafiz Harberhan
13. Datuk Syariful Azas Haberham.
13. Datuk Syariful Azas Haberham.
Berdasarkan bahan–bahan dari Panitia
Sejarah Kota Medan (1972) termasuk Landschap Urung XII Kuta, ini dapat
dilihat dari trombo yang disalin dalam tulisan Batak Karo yang ditulis
di atas kulit–kulit Alin. Trombo ini mengisahkan Guru Patimpus lahir di
Aji Jahei. Dia mendengar kabar ada seorang datang dari Jawi (bahasa Jawi
bahasa Pasai Aceh, kemudian dikenal dengan bahasa Melayu tulisan Arab).
Orang yang datang dari Jawi itu adalah orang dari Pasai keturunan Said
yang berdiam di kota Bangun. Orang itu sangat dihormati penduduk di Kota
Bangun kemudian diangkat menjadi Datuk Kota Bangun yang dikenal sangat
tinggi ilmunya. Banyak sekali perbuatannya yang dinilai ajaib-ajaib.
Guru Patimpus sangat ingin berjumpa
dengan Datuk Kota Bangun untuk mengadu kekuatan ilmunya. Guru Patimpus
beserta rakyatnya turun melalui Sungai Babura, akhirnya sampailah di
Kuala Sungai Sikambing. Di tempat ini Guru Patimpus tinggal selama 3
bulan, kemudian pergi ke Kota Bangun untuk menjumpai Datok Kota Bangun.
Konon ceritanya dalam mengadu kekuatan ilmu, siapa yang kalah harus
mengikuti yang memang. Dalam adu kekuatan ini, berkat bantuan Allah SWT
Guru Patimpus kalah dan dia memeluk agama Islam, sebelumnya beragama
Perbegu.
Dia belajar agama Islam dari Datuk Kota
Bangun. Dia selalu pergi dan kembali ke Kuala Sungai Sikambing pergi ke
gunung dan ke Kota Bangun melewati Pulo Berayan yang waktu itu di bawah
kekuasaan Raja Marga Tarigan keturunan Panglima Hali. Dalam persinggahan
di Pulo Berayan, rupanya Guru Patimpus terpikat hatinya kepada puteri
Raja Pulo Berayan yang cantik. Akhirnya kawin dengan puteri Raja Pulau
Berayan itu, kemudian mereka pindah dan membuka hutan kemudian menjadi
Kampung Medan. Setelah menikah, Patimpus dan istrinya membuka kawasan
hutan antara Sungai Deli dan Sungai Babura yang kemudian menjadi Kampung
Medan. Tanggal kejadian ini biasanya disebut sebagai 1 Juli 1590, yang
kini diperingati sebagai hari jadi kota Medan.
Putera Guru Patimpus Hafal Al-Qur’an
Dari perkawinan dengan puteri Raja Pulo
Berayan lahirlah dua orang anak lelaki, seorang bernama Kolok dan
seorang lagi bernama Kecik. Kedua putera Guru Patimpus ini pergi ke Aceh
untuk belajar agama Islam. Kedua putera Guru Patimpus ini hafal Al
Qur’an, karena itu Raja Aceh memberi nama untuk yang tua Kolok Hafiz,
dan adiknya Kecik Hafiz.
Menurut trombo yang ditulis dalam bahasa
Batak Karo di atas kulit Alin itu, Hafiz Muda kemudian menggantikan
orang tuanya Guru Patimpus, menjadi Raja XII Kuta. Putera Guru Patimpus
dari ibu yang lain bernama Bagelit turun dari gunung menuntut hak dari
ayahandanya yaitu daerah XII Kuta. Setelah puteranya Bagelit memeluk
agama Islam daerah XII Kuta yang batasnya dari laut sampai ke gunung
dibagi dua. Kepada Bagelit diberi kekuasaan dari Kampung Medan sampai ke
gunung. Akhirnya kekuasaan Bagelit dikenal dengan Orung Sukapiring.
Sedangkan Hafiz Muda tetap menjadi Raja XII Kuta berkedudukan di Kampung
Medan. Waktu itu Medan adalah sekitar Jalan Sungai Deli sampai Sei
Sikambing (Petisah Kampung Silalas). Guru Patimpus dan puteranya Hafiz
Muda yang menjadikan Kampung Medan sebagai pusat pemerintahannya.
Menurut trombo dan riwayat Hamparan Perak
(XII Kuta) Guru Patimpus belajar agama Islam pada Datuk Kota Bangun.
Menurut catatan sejarah Datuk Kota Bangun adalah seorang ulama besar,
tapi tidak disebut namanya. Apakah Datuk Kota Bangun itu adalah Imam
Siddik bin Abdullah yang meninggal 22 Juni 1590? Pertanyaan ini barang
kali ahli sejarah dapat menjawabnya. Di masa dulu ulama–ulama besar
lebih dikenal dengan menyebut nama tempat ulama itu berdomisili.
Menurut Prof. J.P. Moquette dan Tengku
Luckman Sinar, SH, makam Imam Siddik bin Abdullah terdapat di Perkebunan
Klumpang. Pada batu nisannya tertulis ulama dari Aceh Imam Siddik bin
Abdullah meninggal 23 Syakban 998H (22 Juni 1590)
1550-1595
Angka tahun ini adalah masa pemerintahan Sisingamangaraja II, yang bernama Raja Manjolong gelar Datu Tinaruan atau Ompu Raja Tinaruan.
Angka tahun ini adalah masa pemerintahan Sisingamangaraja II, yang bernama Raja Manjolong gelar Datu Tinaruan atau Ompu Raja Tinaruan.
1581
Marga Rangkuti terbentuk. Terdiri dari orang-orang Jawa/Minang yang mengambil suaka politik di Mandailing akibat perubahan politik di Kerajaan Pagarruyung di Minagkabau.
Marga Rangkuti terbentuk. Terdiri dari orang-orang Jawa/Minang yang mengambil suaka politik di Mandailing akibat perubahan politik di Kerajaan Pagarruyung di Minagkabau.
1593-1601
Intelektual lokal mulai tampil ke permukaan. Abdulrauf Singkil terkenal sebagai ulama dan intelektual di dalam ilmu fiqih, politik dan ilmu sosial lainnya.
Intelektual lokal mulai tampil ke permukaan. Abdulrauf Singkil terkenal sebagai ulama dan intelektual di dalam ilmu fiqih, politik dan ilmu sosial lainnya.
Beberapa teorinya antara lain;
Penghapusan perbedaan antara Kepala Negara dan Agama. Raja merupakan
otoritas kerajaan dan juga agama. Dia mensyaratkan bahwa Raja yang akan
memangku jabatan ini bukan turun temurun melainkan dipilih langsung oleh
rakyat. Kedaulatan ada di tangan rakyat. Teori ini kemudian diterima
oleh Kesultanan Aceh dan jawa.
Eropa mulai bangkit melewati masa
kegelapan. Ibarat bangsa kelaparan mereka berhamburan ke penjuru dunia
untuk membangun negara-negaranya. Bangsa Inggris mulai membuat
pertapakan pertama di Pelabuhan Tapian Na Uli di tepi teluk Sibolga.
Titik ini sangat mendukung untuk pemenuhan logistik mereka untuk
menjarah bagian-bagian lain di Nusantara. Ambisi jahat yang tidak bisa
ditebak oleh penduduk lokal.
Budaya perbudakan mendapat eksploitasi
yang parah oleh hadirnya pihak Eropa. Keramahan bangsa Batak di Batang
Toru, Puli, Situmandi serta Sigeaon dimanipulasi, mereka kemudian
diperdagangkan sebagai Budak.
Beberapa wilayah di Nusantara mulai
ditundukkan dengan tipu muslihat Eropa. Perang antar kerajaan menjadi
sangat intens; akibat Devide Et Impera. Belanda mulai memetakan target
operasi mereka di tanah Batak setelah menguasai Jawa dan beberapa
kerajaan kecil di Nusantara.
1590-1604
Syair-syair Hamzah Fansuri, tokoh inteletual Batak pesisir, menggambarkan keindahan kota Barus saat itu. Keramaian dan kesibukan kota pelabuhan dengan pasar-pasar dan pandai emasnya yang cekatan mengubah emas menjadi “ashrafi”, kapal-kapal dagang besar yang datang dan pergi dari dan ke negeri-negeri jauh, para penjual lemang tapai di pasar-pasar, proses pembuatan kamfer dari kayu barus dan keramaian pembelinya, lelaki-lelaki yang memakai sarung dan membawa obor yang telah dihiasi dalam kotak-kotak tempurung bila berjalan malam.
Syair-syair Hamzah Fansuri, tokoh inteletual Batak pesisir, menggambarkan keindahan kota Barus saat itu. Keramaian dan kesibukan kota pelabuhan dengan pasar-pasar dan pandai emasnya yang cekatan mengubah emas menjadi “ashrafi”, kapal-kapal dagang besar yang datang dan pergi dari dan ke negeri-negeri jauh, para penjual lemang tapai di pasar-pasar, proses pembuatan kamfer dari kayu barus dan keramaian pembelinya, lelaki-lelaki yang memakai sarung dan membawa obor yang telah dihiasi dalam kotak-kotak tempurung bila berjalan malam.
Gadis-gadis dengan baju kurung yang
anggun dan di leher mereka bergantung kalung emas penuh untaian permata,
yang bila usia nikah hampir tiba akan dipingit di rumah-rumah anjung
yang pintu-pintunya dihiasi berbagai ukiran yang indah.
Pada bagian lain syair-syairnya juga
memperlihatkan kekecewaanya terhadap perilaku politik sultan Aceh, para
bangsawan dan orang-orang kaya yang tamak dan zalim.
Sebagaimana para sarjana Batak, Hamzah
Fansuri mendapat pengaruh besar di Aceh. Van Nieuwenhuijze (1945) dan
Voerhoeve (1952) berpendapat bahwa Hamzah Fansuri memainkan peran
penting di dalam kehidupan kerohanian di Aceh sampai akhir pemerintahan
Sultan Ala’uddin Ri’ayat Syah Sayyid al-Mukammil (1590-1604).
1595-1627
Masa pemerintahan Sisingamangara III di Bakkara.
Masa pemerintahan Sisingamangara III di Bakkara.
1610
Sultan Ibrahimsyah Pasaribu, pendiri kembali Dinasti Hatorusan (Pasaribu), wafat dalam serbuan pasukan Aceh, kepalanya dipancung dan oleh itu dia dikenal dengan nama Sultan Tuanku Badan. Perang tersebut dimulai tahun 785 H. Ibrahimsyah Pasaribu adalah keturunan Raja Uti, putra Guru Tatea Bulan, pendiri kerajaan Hatorusan yang berpusat di Singkel dan Barus.
Sultan Ibrahimsyah Pasaribu, pendiri kembali Dinasti Hatorusan (Pasaribu), wafat dalam serbuan pasukan Aceh, kepalanya dipancung dan oleh itu dia dikenal dengan nama Sultan Tuanku Badan. Perang tersebut dimulai tahun 785 H. Ibrahimsyah Pasaribu adalah keturunan Raja Uti, putra Guru Tatea Bulan, pendiri kerajaan Hatorusan yang berpusat di Singkel dan Barus.
Dinasti Pasaribu, Tengku Barus Hilir:
1. Sultan Ibrahimsyah Pasaribu (gelar Raja Hatorusan). Wafat 1610 Masehi.
2. Sultan Yusuf Pasaribu
3. Sultan Adil Pasaribu
4. Tuanku Sultan Pasaribu
5. Sultan Raja Kecil Pasaribu
6. Sultan Emas Pasaribu
7. Sultan Kesyari Pasaribu
8. Sultan Main Alam Pasaribu
9. Sultan Perhimpunan Pasaribu
10. Sultan Marah Laut bin Sultan Main Alam Pasaribu pada tahun 1289 rabiul akhir atau pada tanggl 17 Juni 1872 menuliskan kembali Sejarah Tuanku Badan (Tambo Barus Hilir) yang menceritakan silsilah kerajaan Hatorusan di Barus, dari sebuah naskah tua peninggalan leluhurnya yang hampir lapuk.
10. Sultan Marah Laut bin Sultan Main Alam Pasaribu pada tahun 1289 rabiul akhir atau pada tanggl 17 Juni 1872 menuliskan kembali Sejarah Tuanku Badan (Tambo Barus Hilir) yang menceritakan silsilah kerajaan Hatorusan di Barus, dari sebuah naskah tua peninggalan leluhurnya yang hampir lapuk.
1627-1667
Masa Pemerintahan Sisingamangaraja IV, dengan nama Tuan Sorimangaraja.
Masa Pemerintahan Sisingamangaraja IV, dengan nama Tuan Sorimangaraja.
1630
Murid Hamzah Fansuri bernama Syamsuddin al-Sumatrani kemudian merantau ke Aceh dan menjadi penasihat politik dan agama di Pasai bagi Sultan Iskandar Muda. Dia wafat tahun 1630 M. Dia satu angkatan dengan Abdulrauf Fansuri, tokoh lain inteletual Batak.
Murid Hamzah Fansuri bernama Syamsuddin al-Sumatrani kemudian merantau ke Aceh dan menjadi penasihat politik dan agama di Pasai bagi Sultan Iskandar Muda. Dia wafat tahun 1630 M. Dia satu angkatan dengan Abdulrauf Fansuri, tokoh lain inteletual Batak.
1641
Belanda tercatat pertama kali masuk di Deli, Medan, tahun 1641, ketika sebuah kapal yang dipimpin Arent Patter merapat untuk mengambil budak.
Belanda tercatat pertama kali masuk di Deli, Medan, tahun 1641, ketika sebuah kapal yang dipimpin Arent Patter merapat untuk mengambil budak.
1644-1699
Pada tahun 1050 H/1644 M, Belanda datang ke pantai barat Sumatera dan meminta ijin untuk bermukim dan mendirikan koloni perdagangan di Barus. Ijin tinggal kepada orang Belanda diberikan pada tahun 1668 . Belanda, akhirnya, mengadu domba dualitas kesultanan Barus (Hulu dan Hilir) yang berujung kepada penjajahan tanah air Barus, tanah batak pesisir di bagian barat Sumatera di abad ke-19.
Pada tahun 1050 H/1644 M, Belanda datang ke pantai barat Sumatera dan meminta ijin untuk bermukim dan mendirikan koloni perdagangan di Barus. Ijin tinggal kepada orang Belanda diberikan pada tahun 1668 . Belanda, akhirnya, mengadu domba dualitas kesultanan Barus (Hulu dan Hilir) yang berujung kepada penjajahan tanah air Barus, tanah batak pesisir di bagian barat Sumatera di abad ke-19.
1667-1730
Masa pemerintahan Sisingamangaraja V dengan nama asli Raja Pallongos.
Masa pemerintahan Sisingamangaraja V dengan nama asli Raja Pallongos.
1730-1751
Masa pemerintahan Sisingamangaraja VI dengan nama Raja Pangolbuk.
Masa pemerintahan Sisingamangaraja VI dengan nama Raja Pangolbuk.
1736-1740
Penduduk Barus, khususnya Sorkam dan Korlang, mengusir VOC, perusahaan Belanda yang banyak meresahkan (monopoli) perekonomian setempat . Mereka dipimpin oleh Raja Simorang dari Tapanuli dan Raja Bukit.
Penduduk Barus, khususnya Sorkam dan Korlang, mengusir VOC, perusahaan Belanda yang banyak meresahkan (monopoli) perekonomian setempat . Mereka dipimpin oleh Raja Simorang dari Tapanuli dan Raja Bukit.
1751-1771
Masa pemerintahan Sisingamangaraja VII, Ompu Tuan Lumbut.
Masa pemerintahan Sisingamangaraja VII, Ompu Tuan Lumbut.
1771-1788
Masa Pemerintahan Sisingamangaraja VIII, Ompu Sotaronggal, gelar Raja Bukit
Masa Pemerintahan Sisingamangaraja VIII, Ompu Sotaronggal, gelar Raja Bukit
1788-1819
Masa pemerintahan Sisingamangaraja IX, Ompu Sohalompoan, Gelar Datu Muara Labu. Diduga ada permasalahan politik sehingga baru pada tahun 1819 adanya suksesi kepada Sisingamangaraja X.
Masa pemerintahan Sisingamangaraja IX, Ompu Sohalompoan, Gelar Datu Muara Labu. Diduga ada permasalahan politik sehingga baru pada tahun 1819 adanya suksesi kepada Sisingamangaraja X.
1790
Haji Hassan Nasution dengan gelar Qadhi Malikul Adil menjadi orang Batak pertama yang naik haji di Mekkah.
Haji Hassan Nasution dengan gelar Qadhi Malikul Adil menjadi orang Batak pertama yang naik haji di Mekkah.
1809-1900
Kebangkitan Ulama lokal dalam
perkembangan keagamaan di Tanah Batak Selatan. Abdul Fatah dari Pagaran
Siantar dan Syeikh Abdul Syukur menjadi dua tokoh intelektual lokal.
Mereka dikenal dengan keahlian mereka dalam Tarekat, Khalwah dan Suluk.
Disiplin imu mereka dikenal dengan nama “Mazhab Natal” karena mereka
mengajar di Natal, tepatnya Huta Siantar. Mazhab Natal ini banyak
dipengaruhi oleh ajaran Mazhab Maliki, yang dibawa Tuan Syekh Maghribi
(Maulana Malik Ibrahim) dengan dukungan adat yang dipengaruhi oleh faham
syiah.
1812 M
Muhammad Faqih Amiruddin Sinambela, menjadi orang pertama dari lingkungan kerajaan Dinasti Sisingamangaraja yang menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Informasi ini didapat dari sebuah catatan keluarga, bertuliskan Arab, komunitas Marga Sinambela keturunan Sisingamangaraja di Singkil. (Tuanku Rao; Ompu Parlindungan).
Muhammad Faqih Amiruddin Sinambela, menjadi orang pertama dari lingkungan kerajaan Dinasti Sisingamangaraja yang menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Informasi ini didapat dari sebuah catatan keluarga, bertuliskan Arab, komunitas Marga Sinambela keturunan Sisingamangaraja di Singkil. (Tuanku Rao; Ompu Parlindungan).
1816
Elemen mata-mata Belanda mulai menyusup ke Tanah batak dengan misi; memetakan daerah serta kekuatan dan menentukan titik-titik penembakan artileri di pusat-pusat kekuasaan tanah Batak.
Elemen mata-mata Belanda mulai menyusup ke Tanah batak dengan misi; memetakan daerah serta kekuatan dan menentukan titik-titik penembakan artileri di pusat-pusat kekuasaan tanah Batak.
Jenderal Muhammad Fakih Amiruddin Sinambela, Gelar Tuanku Rao, panglima Paderi, meluaskan pengaruhnya di Tanah Batak Selatan.
1816-1833
Islam berkembang pesat di Mandailing dengan pembangunan universitas, pusat-pusat perdagangan dan kebudayaan Islam.
Islam berkembang pesat di Mandailing dengan pembangunan universitas, pusat-pusat perdagangan dan kebudayaan Islam.
1819-1841
Masa pemerintahan Sisingamangarah X, Aman Julangga, Gelar Ompu Tuan Na Bolon. Setahun sebelum diangkat, dia berseteru dengan keponakannya, Fakih Sinambela, yang justru merupakan keponakan kesayangannya.
Masa pemerintahan Sisingamangarah X, Aman Julangga, Gelar Ompu Tuan Na Bolon. Setahun sebelum diangkat, dia berseteru dengan keponakannya, Fakih Sinambela, yang justru merupakan keponakan kesayangannya.
1818
Panglima Fakih Sinambela berseteru dengan pamannya Sisingamangaraja X, Raja Dinasti Sisingamangaraja di daerah Batak Utara.
Panglima Fakih Sinambela berseteru dengan pamannya Sisingamangaraja X, Raja Dinasti Sisingamangaraja di daerah Batak Utara.
Orang-orang Batak yang miskin dan putus
asa dengan penyakit kolera dimanipulasi Belanda sebagai kekuatan
anti-otoritas SM Raja. Beberapa kerajaan-kerajaan huta dihadiahi dengan
pengakuan sehingga mejadi raja-raja boneka yang membangkang.
Kredibilitas kedaulatan Sisingamangaraja di akar rumput menipis,
dikempesi orang-orang Eropa.
Untuk kesekian kalianya epidemik penyakit
menular menjangkiti penduduk. Elemen Eropa dan Belanda di pantai timur
Sumatera memanfaatkan situasi.
1818-1820
Perseteruan Sisingamagaraja X dan Fakih Sinambela memuncak. Pasukan Fakih Sinambela dengan komando Jatengger Siregar berhadapan dengan pasukan Sisingamangaraja X di Bakkara setelah buntu dalam perundingan.
Perseteruan Sisingamagaraja X dan Fakih Sinambela memuncak. Pasukan Fakih Sinambela dengan komando Jatengger Siregar berhadapan dengan pasukan Sisingamangaraja X di Bakkara setelah buntu dalam perundingan.
Markas Pusat di Siborong-borong dengan
komando Panglima Fakih Sinambela memerintahkan pasukannya di Bakkara
untuk menguburkan pamannya S.M Raja X di pemakaman kerajaan dengan
pasukan kehormatan dan melindungi keturunannya.
Fakih Sinambela menolak tawaran pamannya
menjadi Sultan di Tanah batak. Mereka mundur ke Selatan. Yang Mulia
Sisingamangaraja XI naik tahta.
1820
Pembantu Fakih Sinambela, Tuanku Mansur Marpaung mendirikan Kesultanan Asahan di pantai timur Sumatera. Kesultanan ini masih berdiri hingga tahun 1947. Anak-anak mereka yang dikenal adalah Tuanku Sri Sultan Saibun Marpaung dan juga Dr. Mansur Marpaung, wali negara NST. Salah satu bawahan Mansur Marpaung adalah Zulkarnain Aritonang, pahlawan dalam perang Tanggabatu pada tahun 1818 mendirikan kerajaan Merbau. Keturunannya menjadi Raja-raja Merbau, Sumatera Timur hingga tahun 1947.
Pembantu Fakih Sinambela, Tuanku Mansur Marpaung mendirikan Kesultanan Asahan di pantai timur Sumatera. Kesultanan ini masih berdiri hingga tahun 1947. Anak-anak mereka yang dikenal adalah Tuanku Sri Sultan Saibun Marpaung dan juga Dr. Mansur Marpaung, wali negara NST. Salah satu bawahan Mansur Marpaung adalah Zulkarnain Aritonang, pahlawan dalam perang Tanggabatu pada tahun 1818 mendirikan kerajaan Merbau. Keturunannya menjadi Raja-raja Merbau, Sumatera Timur hingga tahun 1947.
1823
Thomas Raffles, Jenderal Inggris, tertarik untuk mengadu domba kerajaan-kerajaan di Sumatera. Idenya; Aceh yang Islam dan Minagkabau dipisah dengan Komunitas Batak Kristen. Tanah Batak harus, menurut istilah Ompu Parlindungan, “dikristenkan”; diterima atau tidak.
Thomas Raffles, Jenderal Inggris, tertarik untuk mengadu domba kerajaan-kerajaan di Sumatera. Idenya; Aceh yang Islam dan Minagkabau dipisah dengan Komunitas Batak Kristen. Tanah Batak harus, menurut istilah Ompu Parlindungan, “dikristenkan”; diterima atau tidak.
Kebijakan ini ditiru oleh Raffles dari
Lord Moira, Gubernur Jenderal Inggris di Kalkutta yang berhasil
melemahkan Kerajaan “Dehli” Islam di India; Burma yang Budda serta
Thailand yang Buddha harus dipisah dengan bangsa Karen yang Kristen.
(Aljunied:2004)
Untuk itu, pihak Inggris mengirimkan
tim-tim pendeta kerajaan ke lokasi tersebut. Di Tapanuli saja ada diutus
beberapa orang, sbb;
1. Pendeta Burton yang bertugas
menguasasi bahasa Batak dan menerjemahkan Bibel ke Bahasa Batak,
bertindak sebagai pemimpin misi.
2. Pendeta Ward, seorang dokter yang meneliti pengaruh penuakit menular, epidemik yang menjangkiti penduduk Batak.
3. Pendeta Evans, bertugas mendirikan sekolah-sekolah pro-Eropa.
3. Pendeta Evans, bertugas mendirikan sekolah-sekolah pro-Eropa.
Ketiganya merupakan tim ekspedisi dalam
infiltrasi pasukan Inggris di Tanah batak yang akan berprofesi sebagai
pendeta agar tidak terlalu mendapat penolakan di sebagian besar
mayarakat Batak yang telah menganut agama Parmalim, agama S.M. Raja, di
pusat-pusat kerajaan Batak.
1823-1824
Pertahanan benteng SM Raja di Humbang, yang ‘splendid isolation’ dan tertutup untuk pihak-pihak tidak resmi, sangat kuat dan tidak dapat disusupi, pelabuhan Barus bebas dari penyusup.. Tim tersebut hanya berhasil masuk melalui pantai Sibolga dan daerah Angkola yang mayoritas penduduknya muslim dan terbuka. Burton dan Ward berhasil memasuki Tanah Batak, melalui pelabuhan Sibolga tempat beberapa komunitas Inggris menetap berdagang, menyisir hutan belantara dan mencapai Lembah Silindung. Misi berhasil. Namun ketika akan menyusup ke Toba, pusat kehidupan sosial masyarakat Batak, Ward memberikan instruksi untuk mundur. Epidemik Kolera masih mengganas di Toba dan Humbang. Burton dan Ward mundur ke Sibolga. Dari sini ‘character assasination’ terhadap panglima-panglima Padri dilancarkan.
Pertahanan benteng SM Raja di Humbang, yang ‘splendid isolation’ dan tertutup untuk pihak-pihak tidak resmi, sangat kuat dan tidak dapat disusupi, pelabuhan Barus bebas dari penyusup.. Tim tersebut hanya berhasil masuk melalui pantai Sibolga dan daerah Angkola yang mayoritas penduduknya muslim dan terbuka. Burton dan Ward berhasil memasuki Tanah Batak, melalui pelabuhan Sibolga tempat beberapa komunitas Inggris menetap berdagang, menyisir hutan belantara dan mencapai Lembah Silindung. Misi berhasil. Namun ketika akan menyusup ke Toba, pusat kehidupan sosial masyarakat Batak, Ward memberikan instruksi untuk mundur. Epidemik Kolera masih mengganas di Toba dan Humbang. Burton dan Ward mundur ke Sibolga. Dari sini ‘character assasination’ terhadap panglima-panglima Padri dilancarkan.
Perseteruan antar penjajah untuk
menguasai Tanah Batak muncul. Belanda menggantikan posisi Inggris di
Tapanuli, sesuai ‘Traktat London’. Pendeta-pendeta Inggris diusir.
Mereka yang sudah berhasil memasuki wilayah privasi para Panglima
tersebut dituduh bersekongkol dengan Padri.
1830-1867
S.M Raja XI, setelah naik tahta mulai menata kehidupan rakyatnya. Ada yang menyebutkan angka tahunnya adalah 1841-1871. Di beberapa wilayah dilakukan pembangunan. Hubungan diplomasi luar negeri dengan Kesultanan Aceh dijalin kembali. Sang Raja mulai menyadari kehadiran elemen-elemn penyusup yang bermaksud untuk menguasai dan meniadakan Kedaulatan Bangsa Batak. Belanda yang meneruskan kebijakan Raffles tidak bisa menerima; Bangsa Batak malah melakukan kerjasama militer dengan Aceh.
S.M Raja XI, setelah naik tahta mulai menata kehidupan rakyatnya. Ada yang menyebutkan angka tahunnya adalah 1841-1871. Di beberapa wilayah dilakukan pembangunan. Hubungan diplomasi luar negeri dengan Kesultanan Aceh dijalin kembali. Sang Raja mulai menyadari kehadiran elemen-elemn penyusup yang bermaksud untuk menguasai dan meniadakan Kedaulatan Bangsa Batak. Belanda yang meneruskan kebijakan Raffles tidak bisa menerima; Bangsa Batak malah melakukan kerjasama militer dengan Aceh.
Perkembangan pembangunan di bidang sosial
dan pendidikan meningkat. Kerajaan mulai mengerjakan penulisan sejarah
Batak dalam ‘Arsip Bakkara’ setebal 23 jilid. Total Satu setengah meter
tebalnya. Sebagain besar mengenai undang-undang, tradisi dan kehidupan
kerajaan. Sebuah usaha yang memberikan dampat baik terhadap kredibilitas
otoritas raja dan kehidupan masyarakat namun sudah terlanjur terlambat.
Elemen-elemen rakyat yang putus asa dengan epidemik kolera sudah banyak
yang pro-Belanda.
Arsip tersebut dijilid setebal lima
sentimeter dengan jumlah jilidan 23. Bila ditumpukkan akan mempunyai
lebar sekitar satu setengah meter. Ditulis dengan menggunakan pena yang
terbuat dari pohon Aren. Tidak diketahui siapa penulisnya tapi yang
pasti penulisannya diperintahan oleh Sisingamangaraja XI dalam sebuah
usaha untuk memajukan peradaban Batak pada era pemerintahannya.
Jilid 1 sampai dengan 10, berupa kitab
raja-raja kerajaan atau “Book of Kings” seperti Pararaton, Tambo atau
Sejarah Melayu dan lain sebagainya.
Jilid 11 sampai dengan 23, merupakan
annals (dokumentasi tahunan) perihal pemerintahan Sisingamangaraja XI di
Bakkara. Bila buku ini diterbitkan kembali maka kemasyhurannya
dipastikan akan menyamai kitab-kitab Majapahit ala Prapanca.
Secara rinci mulai dari jilid 1 sampai
dengan 3 berisikan informasi mengenai pemerintahan Dinasti Sorimangaraja
selama 90 generasi di Sianjur Sagala Limbong Mulana di kaki gunung
Pusuk Buhit.
Jilid satu dimulai dengan kalimat Ta Pa
Da Na Da Na A A Sa Na yang berarti kisah tentang Putri Tapidonda
Nauasan, ibu suri dari suku bangsa Batak. Diyakini oleh kepercayaan
agama orang-orang Batak saat itu, diturunkan dari ‘banua ginjang” oleh
Debata Mulajadi Na Bolon.
Jilid 2 berisi kisah pemisahan diri
orang-orang Batak Simalungun dari kekuasaan Dinasti Sorimangaraja dan
mendirikan kerajaan Nagur. Menyusul pula orang-orang Batak Karo yang
mendirikan kerajaan Haru Wampu serta kesetiaan orang Mandailing, Angkola
dan Sipirok terhadap pemerintah berkuasa saat itu.
Jilid 3 berisi tentang file-file mengenai
keistimewaan dan kesaktian raja-raja Batak. Legenda-legenda mengenai
raja misalnya Sorimangaraja XC yang diyakini dapat menerbangkan benda
mati ke udara, demikian juga dari pihak marga Simanullang dan Sinambela
yang dapat menerbangkan pedangnya. Semuanya menjelaskan peristiwa
konstalasi politik kuno dalam sebuah cerita perumpamaan dimana Dinasti
Sorimangaraja dijatuhkan oleh orang-orang marga Simanullang dan
dijatuhkan lagi oleh pihak Sinambela
Jilid 4 samapi 7 berisi dokumentasi
pemerintahan Dinati Sisigamangaraja di Bakkara. Semuanya berisi mengenai
kelahiran raja dan pengangkatannya dan lain sebagainya. Setiap
peristiwa itu juga dibarengi dengan penjelasan mengenai kejadian alam
yang menyusul terjadi.
Di jilid ini juga diceritakan bahwa
Sultan Alauddin Muhammad Syah, seorang Sultan Aceh, mengadakan
perjanjian kenegaraan dengan pihak Singamangaraja IX dalam kerjasama
pertahanan. Sisingamangaraja IX melepaskan pengaruhnya dari Singkil
serta daerah Uti Kiri definitif kepada pihak Aceh. Sebagai imbalannya
pihak Aceh menyerahkan pengaruhnya di daerah Uti Kanan dengan ibukotanya
Lipatkajang ke pihak Singamangaraja IX. Barus yang dikuasai oleh pihak
Dinasti Pardosi dan Dinasti Pasaribu Hatorusan (Tuanku Hulu dan Hilir)
ditetapkan sebagai zona netral. Sementara itu pihak Aceh mengakui
pengaruh Sisingamangaraja IX atas wilayah Simalungun dan kawasan Karo
berada dalam pengaruh Aceh.
Dikisahkan juga perihal peristiwa suaka
politik Pangeran Gindoparang Sinambela yang diusir oleh Singamangaraja
IX ke wilayah Uti. Gindoporang Sinambela sekarang ini menjadi leluhur
komunitas muslim Sinambela di Singkil. Perihal keluarga Gindoparang dan
anaknya Faqih Sinambela yang menjadi seorang Jenderal di pihak Padri
didapat oleh sejarawan Sutan Martua Raja dari sebuah catatan keluarga
orang-orang muslim marga Sinambela di Singkil. Di sana kebanyakan mereka
menjadi guru-guru agama Islam yang menikah dengan orang-orang marga
Pohan dari Barus.
Jilid 7 ditutupi dengan sebuah
dokumentasi peristiwa tragis yang menimpa Singamangaraja IX yang hendak
mencoba sepucuk bedil hadiah dari Sultan Aceh. Dia menembak mati satu
ekor gajah yang mengakibatkan dirinya hancur lebur diinjak oleh
gajah-gajah yang lain.
Jilid 8 seluruhnya berisi dokumentasi pemerintahan Singamangaraja X serta peristiwa konflik kerajaan dengan kekuatan Padri.
Jilid 9 berisi mengenai mitos kepala terbang.
Jilid 10 mengenai kehidupan Amantagor
Manullang selama memerintah di Bakkara sebelum era Dinasti
Sisingamangaraja. Dia tewas dan dibunuh oleh orang yang tak dikenal di
dataran tinggi Tele dan dikuburkan di Paranginan, Humbang. Daerah ini
sampai sekarang masih sangat rawan dan menjadi sarang para perampok dan
bajing loncat. Sebelum Tele ada sebuah daerah yang bernama Dolok
Partangisan yang dianggap angker dan seram karena diyakini dulunya
menjadi pusat pengajaran mistik dan membutuhkan pengorbanan nyawa anak
manusia.
Di jilid 10 ini pula diinformasikan
mengenai kedatangan orang Eropa yang disebut sebagai Si Bontar Mata oleh
bahasa Batak yang memasuki Silindung tapi tidak melalui Bukit
Sigompulon. Agama yang mereka bawa, katanya, ditolak oleh orang-orang
Batak. Tidak disebutkan mengapa.
Jilid 11 berisi mengenai informasi
penobatan Sisingamangaraja XI dalam usia 10 tahun akan tetapi telah
bersikap sangat bijaksana.
Jilid 11 sampai dengan 23, merupakan
file-file pemerintahan Ompu Sohahuaon yakni Sinagamangaraja XI. Juga
mengenai penanggalan pemerintahan yang dimulai dari penobatannya sebagai
raja. Menyerupai angka tahun Jepang.
Tahun I dalam penanggalan
Sisingamangaraja XI sama dengan tahun 1830 M. Di ajaran parmalim juga
terdapat penanggalan yang berdasarkan pada era Dinasti Uti dimana tahun
497 Masehi sama dengan tahun 1450 tahun Batak. Tahun ini dipercaya
merupakan tahun berdirinya agama parmalim.
Sementara itu jilid 23 ditutup dengan tahun ke-37 dari pemerintahan Sisingamangaraja yang berarti tahun 1866 M.
Singamangaraja XI menyesuaikan permulaan
tahun dengan permulaan Tinki Ni Pangkuron yakni musim mencangkul sawah.
Ini berarti tahunnya disesuaikan dengan musim hujan yang di tanah Batak
adalah pada pertengahan November. Untuk tanda diambillah bintang na
pintu yakni Orion sementara tenggelamnya bintang hala yakni Skorpio.
Permulaan bulan dihitung degan naiknya
bulan. Sehingga tula yakni malam terang bulan purnama selamanya jatuh
pada tanggal 15 seperti penanggalan tahun Hijriyah. Sepuluh bulan
pertama tidak diberi nama akan tetapi hanya penomoran seperti bulan
sapaha sada sampai dengan bulan sapaha sappulu. Sementara itu bulan yang
ke-11 bernama bulan hala dan bulan ke-12 bernama bulan hurung.
Para ahli astronomi kerajaan mengerti
bahwa penanggalan berdasarkan bulan berbeda dengan penanggalan
berdasarkan bintang selama 11 hari setiap tahun. Akibatnya, permulaan
dari bulan sapaha sada yang begitu penting untuk mencangkul sawah turut
pula bergeser 11 hari dari timbulnya bintang na pitu. Singamangaraja XI
juga mengadakan bulan na badia yakni bulan ketigabelas yang diselipkan
antara bulan hurung dan bulan sapaha sada. Tujuannya, agar perhitungan
waktunya tepat pada permulaan tahun dengan timbulnya bintang na pitu,
tepat dengan permulaan musim hujan dan permulaan musim mencangkul sawah.
Jilid 11 dan 12 kondisinya sangat rusak.
Jilid 13 sampai dengan jilid 16 mengenai
periode pembangunan ibukota Bakkara dan daerah Toba dalam periode
1835-1846. Termasuk penataan pertanian, peternakan, penetapan geografis
negeri-negeri dan juga pembangunan yang bersifat sosial dan poltik.
Dalam jilid 14 disebutkan bahwa
Singamangaraja XI mengadakan kunjungan kenegaraan ke Aceh dalam usia 24
tahun. Tujuannya untuk mengikuti pendidikan militer di Indrapuri selama 2
tahun. Di sana dia satu kelas dengan pangeran Ali Muhammad Syah, Tengku
Mahkota Kesultanan Aceh.
Di sini juga disebutkan nama Teku Nangta
Sati, ayah dari Cut Nya’ Dien dan mertua dari Teuku Umar, yang ikut ke
Bakkara bersama Singamangaraja XI selaku ‘Chief Aceh Military Mission’
yang pertama. Selama Singamangaraja XI di luar negeri, pemerintahan
kerajaan di dalam negeri dipegang oleh Panglima Panibal Simorangkir,
putra dari Panglima Jomba Simorangkir, pengawal setia Singamangaraja XI.
Dalam jilid 16 dicatat bahwa telah lahir
putra mahkota Parobatu di tahun ke-16 dari pemerintahan Singamangaraja
XI yakni tahun 1845 M. (Dia kelak memerintah antara tahun 1867-1907)
Jilid 17 menceritakan datangnya dua orang
Eropa, Si Junghun dan Si Pandortuk – the big nose yakni Dr. Junghuhn
dan Dr. van der Tuuk. Momen inilah yang membuat adanya kesempatan bagi
orang asing mengabadikan foto Singamangaraja XI. Van der Tuuk merupakan
orang kulit putih satu-satunya yang pernah diijinkan menginap di Bakkara
karena dia menyampaikan salam kepada Sinagamangaraja XI, dari abangnya
Putra Mahkota Lambung Sinambela di Roncitan, Sipirok.
Jilid 21 berisi informasi mengenai
kunjungan Singamangaraja XI pada tahun 1865 kepada pendeta Nommensen di
Huta Damai untuk menagih pajak atau cukai berupa ‘nyonya kulit putih’.
Dalam jilid 23 disebutkan bahwa dalam
pemerintahan yang ke-36 Singamangaraja XI di tanah Batak Utara mengamuk
lagi Begu Attuk, plague epidemic, serta Begu Arun yakni kolera.
(Singamangaraja XI sendiri diketahui meninggal karena kolera)
Di jilid ini disebutkan juga bahwa Putera
Mahkota Parobatu ditugaskan selama dua tahun untuk mengikuti pendidikan
militer di Aceh pada tahun 1864-1866.
1833
Tentara Belanda mulai mendaratkan pasukan ekspedisi dibawah Komando Mayor Eiler, di daerah Natal dan mengangkat rajanya menjadi raja boneka dengan gelar; Regent van Mandailing. Elemen-elemen padri Minang dibasmi.
Tentara Belanda mulai mendaratkan pasukan ekspedisi dibawah Komando Mayor Eiler, di daerah Natal dan mengangkat rajanya menjadi raja boneka dengan gelar; Regent van Mandailing. Elemen-elemen padri Minang dibasmi.
1833-1834
Pasukan Kolonel Elout menguasai Angkola dan Sipirok. Sipirok menjadi batu loncatan untuk menggempur Toba. Peta-peta sasaran tembak sudah dikumpulkan sebelumnya oleh tim penyusup dan orang-oramg Eropa yang bergerak bebas di Tanah Batak
Pasukan Kolonel Elout menguasai Angkola dan Sipirok. Sipirok menjadi batu loncatan untuk menggempur Toba. Peta-peta sasaran tembak sudah dikumpulkan sebelumnya oleh tim penyusup dan orang-oramg Eropa yang bergerak bebas di Tanah Batak
Kolonel Elout memerintahkan
pendeta-pendeta tentara Belanda, yang menjadi bawahannya di pasukan
tersebut, antara lain; Pendeta Verhoeven untuk mempersiapkan diri untuk
meng-kristenkan penduduk asli Tanah Batak Utara. Verhoeven diwajibkan
untuk bergaul dengan penduduk asli dan belajar Bahasa Batak.
Eliot melalui kakaknya, saudara
perempuannya, di Boston, AS, meminta tambahan tim misi dari American
Baptist Mission (ABM). Permintaan ini mendapat dukungan dana oleh
Clipper Millionairs yang berpusat di Boston dengan kompensasi mereka
dapat menguasai kegiatan ekspor dan impor di Tanah Batak yang sangat
potensial saat itu.
Seperempat abad kemudian, Hamburg
Millionairs mendanai pendeta-pendeta dari Barmen untuk mengkristenkan
Tanah Batak, hasilnya sejak tahun 1880-1940, di belakang “Reinische
Missions Gesselschaft”, seluruh arus perdagangan ekspor dan impor di
Tanah batak dimonopoli oleh “Hennemann Aktions Gessellschaft”.
Diperkirakan, paska PD II total pengusaha-pengusaha nasionalpun tidak
sanggup mendekati 10 persen dari volume perdagangan “Hennemen & Co,”
dulu di Tanah Batak. (Tuanku Rao; Ompu Parlindungan)
1833-1930
Masyarakat Mandailing menderita dengan pendudukan Belanda setelah beberapa usaha mempertahankan diri, gagal. Eksodus ke Malaysia dimulai. Komunitas-komunitas diaspora batak di luar negeri terbentuk. Di Malaysia, Mekkah, Jeddah dan lain sebagainya.
Masyarakat Mandailing menderita dengan pendudukan Belanda setelah beberapa usaha mempertahankan diri, gagal. Eksodus ke Malaysia dimulai. Komunitas-komunitas diaspora batak di luar negeri terbentuk. Di Malaysia, Mekkah, Jeddah dan lain sebagainya.
1834
ABM mengirimkan tiga orang pendeta ke Tanah Batak. Yakni; Pendeta Lyman, Munson dan Ellys. Kolonel Elout menempatkan Ellys di Mandailing untuk mengkristenkan masyarakat muslim di sana. Lyman dan Munson melanjutkan jejak Burton dan Ward.
ABM mengirimkan tiga orang pendeta ke Tanah Batak. Yakni; Pendeta Lyman, Munson dan Ellys. Kolonel Elout menempatkan Ellys di Mandailing untuk mengkristenkan masyarakat muslim di sana. Lyman dan Munson melanjutkan jejak Burton dan Ward.
Lyman dan Munson memasuki Toba dengan
seorang penerjemah dari Batak Muslim, Jamal Pasaribu. Di sana mereka
disambut baik. Namun setelah insiden penembakan mati seorang wanita tua
oleh Lyman, raja setempat, Raja Panggulamau menolak kehadiran mereka.
Penembakan wanita tua, yang kebetulan,
namboru sang raja tidak dapat diterima oleh raja. Lyman dan Munson
mendapat hukuman mati oleh pengadilan lokal.
1834-1909
Tokoh intelektual Batak lainnya muncul ke permukaan. Syekh H. Muhammad Yunus Nasution menjadi ulama terkenal di Huraba, Angkola. (Schnitger 1983: 43-48)
Tokoh intelektual Batak lainnya muncul ke permukaan. Syekh H. Muhammad Yunus Nasution menjadi ulama terkenal di Huraba, Angkola. (Schnitger 1983: 43-48)
1834-1838
Pemerintahan Militer Belanda di Tanah Batak Selatan didirikan secara permanen. Komplek markas Besar Belanda didirikan berikut taman perumahan para pemimpin militer.
Pemerintahan Militer Belanda di Tanah Batak Selatan didirikan secara permanen. Komplek markas Besar Belanda didirikan berikut taman perumahan para pemimpin militer.
1838-1884
Kekuatan militer Belanda bertambah kuat. Sumatera Barat dapat dikuasai. Mandailing, Angkola dan Sipirok menjadi Direct Bestuurd Gebied, Raja Gadumbang tidak jadi dijadikan Sultan oleh Pemerintah Penjajahan Belanda, akan tetapi dibohongi dan hanya diberikan gelar Regent Voor Her Leven.
Kekuatan militer Belanda bertambah kuat. Sumatera Barat dapat dikuasai. Mandailing, Angkola dan Sipirok menjadi Direct Bestuurd Gebied, Raja Gadumbang tidak jadi dijadikan Sultan oleh Pemerintah Penjajahan Belanda, akan tetapi dibohongi dan hanya diberikan gelar Regent Voor Her Leven.
Pemimpin-pemimpin masyarakat Batak Islam
yang tidak mau tunduk dengan Belanda di berbagai daerah, dibasmi.
Silindung masuk ke dalam “Residente Air Bangis” tahun 1973 dan Toba,
yang belum takluk, dimasukkan pada tahun 1881. Kerajaan-kerajaan lain
yang berhubungan dengan Kerajaan Batak di Toba tidak dapat berbuat
banyak untuk membantu. Hegemoni Eropa tidak dapat terbendung. Manusia di
nusantara hanya menunggu waktu untuk menjadi mangsa Eropa. Kerajaan
Batak terisolir dan melemah. Rakyat sudah banyak yang pro Belanda.
1839-1840
Belanda kembali lagi dengan sebuah kekuatan perang ke Barus. Sebelumnya elemen Belanda yang memonopoli dan membuat kesukaran bagi penduduk Barus berhasil dideportasi oleh penduduk dan kerajaan. VOC dibenci oleh rakyat dan perdagangannya di Barus dikalahkan oleh pedagang-pedagang Aceh. Paska pendirian kantor resmi penjajah Belanda di Barus, para pedagang dan elemen Aceh diusir. Pemerintah Belanda memonopoli kembali perekonomian Kesultanan Barus .
Belanda kembali lagi dengan sebuah kekuatan perang ke Barus. Sebelumnya elemen Belanda yang memonopoli dan membuat kesukaran bagi penduduk Barus berhasil dideportasi oleh penduduk dan kerajaan. VOC dibenci oleh rakyat dan perdagangannya di Barus dikalahkan oleh pedagang-pedagang Aceh. Paska pendirian kantor resmi penjajah Belanda di Barus, para pedagang dan elemen Aceh diusir. Pemerintah Belanda memonopoli kembali perekonomian Kesultanan Barus .
1843-1845
Perbatasan Tanah Batak yang relatif aman hanya pelabuhan Singkil dan Barus serta perbatasan darat dengan Aceh. Sisingamangaraja XI mengikuti Pendidikan Militer di Indrapuri, Kesultanan Aceh.
Perbatasan Tanah Batak yang relatif aman hanya pelabuhan Singkil dan Barus serta perbatasan darat dengan Aceh. Sisingamangaraja XI mengikuti Pendidikan Militer di Indrapuri, Kesultanan Aceh.
1845-1847
Aceh mengirimkan satu balayon tentara di bawah komando Teuku Nangsa Sati ke Toba. Bersama Yang Mulia Sisingamangaraja XI, Teuku menyiapkan perencanaan strategi gerilya. Pasukan komando gerilya dibentuk. Pertahanan dengan menggelar pasukan sudah tidak memungkinkan. Siasat ini pada tahun 1873-1907 sangat membingungkan pihak imperialis Belanda.
Aceh mengirimkan satu balayon tentara di bawah komando Teuku Nangsa Sati ke Toba. Bersama Yang Mulia Sisingamangaraja XI, Teuku menyiapkan perencanaan strategi gerilya. Pasukan komando gerilya dibentuk. Pertahanan dengan menggelar pasukan sudah tidak memungkinkan. Siasat ini pada tahun 1873-1907 sangat membingungkan pihak imperialis Belanda.
1848
Putra Mahkota, Pangeran Parobatu, satau-satunya anak laki-laki Sisingamangaraja XI lahir.
Putra Mahkota, Pangeran Parobatu, satau-satunya anak laki-laki Sisingamangaraja XI lahir.
1849
Neubronner van der Tuuk, atau yang dikenal di masyarakat Batak dengan nama Pandortuk (Big Nose), diberangkatkan oleh Dutch Bible Society ke Barus untuk mempelajari peradaban Batak agar dapat memberi masukan kepada misionaris, mengatakan:
Neubronner van der Tuuk, atau yang dikenal di masyarakat Batak dengan nama Pandortuk (Big Nose), diberangkatkan oleh Dutch Bible Society ke Barus untuk mempelajari peradaban Batak agar dapat memberi masukan kepada misionaris, mengatakan:
“Tidak ada harapan untuk mengkristenkan
orang-orang Angkola dan Mandailing. Sebagian besar mereka telah memeluk
agama Islam, begitu juga kebanyakan penduduk yang berada dalam
penjajahan Belanda. Untuk menyebarkan Agama Kristen, oleh karena itu,
harus diambil sebuah keputusan yang pasti. Semua anggota misi harus
diarahkan ke tempat lain (tanah Batak Utara). Jika kita tidak mengikuti
rencana ini, maka semua penduduk akan memeluk agama Islam tanpa kita
sadari. Biasanya penyebaran bahasa Melayu (di tanah-tanah penduduk yang
masih pagan) akan membawa orang-orang melayu ke tempat tersebut dan akan
membuat penduduk tertarik kepada Islam” (Pedersen 1970: 54;
Muller-Kruger 1959: 181-182)
1852
Barus berhasil dikerdilkan oleh Belanda sebagai kota pelabuhan. Posisisnya terkurung dengan dibangunnya Sibolga sebagai pelabuhan penyaing oleh Belanda.
Barus berhasil dikerdilkan oleh Belanda sebagai kota pelabuhan. Posisisnya terkurung dengan dibangunnya Sibolga sebagai pelabuhan penyaing oleh Belanda.
Sebab lain menurunnya popularitas Barus
sebagai pusat perdagangan di Tanah Batak adalah ditemukannya senyawa
kimia yang dapat menandingi kualitas kemenyan atau kapur barus di
Jerman. Produk konvensional dari Barus menjadi sangat usang.
1856
Sultan Marah Tulang naik tahta Kesultanan Barus Hulu pada tahun 1270 H atau sekitar tahun 1856. Dia merupakan Sultan terakhir dari Dinasti Pardosi yang masih memangku jabatan kerajaan. Setelah kepeninggalannya, keturunannya hanya menjadi ‘kepala kuria’ atau pegawai gajian penjajah Belanda.
Sultan Marah Tulang naik tahta Kesultanan Barus Hulu pada tahun 1270 H atau sekitar tahun 1856. Dia merupakan Sultan terakhir dari Dinasti Pardosi yang masih memangku jabatan kerajaan. Setelah kepeninggalannya, keturunannya hanya menjadi ‘kepala kuria’ atau pegawai gajian penjajah Belanda.
1857-1861
Zending Calvinist Belanda dari “Gereja Petani Ermeloo/Holland” (GPE) dengan gencar melakukan misi di Tanah Batak Selatan. Mereka antara lain; Pendeta Van Asselt di Parausorat, Sipirok, pendeta Dammerboer di Hutarimbaru, Angkola, Pendeta Van Danen di Pangarutan, Angkola dan Pendeta Betz di Bungabondar, Sipirok.
Zending Calvinist Belanda dari “Gereja Petani Ermeloo/Holland” (GPE) dengan gencar melakukan misi di Tanah Batak Selatan. Mereka antara lain; Pendeta Van Asselt di Parausorat, Sipirok, pendeta Dammerboer di Hutarimbaru, Angkola, Pendeta Van Danen di Pangarutan, Angkola dan Pendeta Betz di Bungabondar, Sipirok.
Misinya gagal. Masyarakat Muslim Batak
yang sudah tidak berdaya dalam penguasaan Belanda menolak untuk
dikristenkan. Belanda, tidak habis akal, mempercayakan misi
pengkristenan Batak Selatan dan Utara kepada pendeta-pendeta Jerman,
“Reinische Missions Gesselschaft” (RMG), yang menganggur di Batavia,
sejak diusir keluar dari Kalimantan Selatan oleh Pangeran Hidayat.
Belanda menghubungkan pendeta Fabri,
pemimpin RMG di Jerman dengan pendeta Witteveen, pemimpin dari GPE. GPE
mengalah, mundur dari Tanah Batak Selatan, karena kahabisan dana. Dengan
banjir dana dari perusahaan Hennemann & Co, RMG memulai upaya misi
kembali agar secepatnya Belanda dapat menguasai Tanah Batak dan
menghancurkan Aceh di ujung sana.
1861
Pada tanggal 7 Oktober 1861, di dalam rumah pendeta van Asselt diadakan rapat bersama oleh pendeta-pendeta Belanda yang sudah aktif di tanah Batak bersamam pendeta-pendeta Jerman yang baru datang. Rapat ditutup oleh pendeta Klammer hasilnya; Pimpinan pengkristenan tanah Batak sudah berpindah dari tangan Pendeta Belanda ke tangan Pendeta Jerman. Pendeta Belanda Dammerboer serta van Dalen tidak menyukai posisinya menjadi bawahan seorang “Moffen”, Jerman. Mereka berhenti menjadi pendeta.
Pada tanggal 7 Oktober 1861, di dalam rumah pendeta van Asselt diadakan rapat bersama oleh pendeta-pendeta Belanda yang sudah aktif di tanah Batak bersamam pendeta-pendeta Jerman yang baru datang. Rapat ditutup oleh pendeta Klammer hasilnya; Pimpinan pengkristenan tanah Batak sudah berpindah dari tangan Pendeta Belanda ke tangan Pendeta Jerman. Pendeta Belanda Dammerboer serta van Dalen tidak menyukai posisinya menjadi bawahan seorang “Moffen”, Jerman. Mereka berhenti menjadi pendeta.
1861-1907
Belanda tidak sabar untuk menguasai lahan-lahan pertanian Tanah Batak yang masih dimiliki Sisingamagaraja XI. Untuk menyerangnya secara frontal Belanda belum mampu karena dipihak lain dan di dalam negeri mereka banyak menghabiskan tenaga untuk menumpas pemberontakan-pemberontakan, sementara itu, kerajaan-kerajaan pribumi tidak menyadari keunggulan mereka.
Belanda tidak sabar untuk menguasai lahan-lahan pertanian Tanah Batak yang masih dimiliki Sisingamagaraja XI. Untuk menyerangnya secara frontal Belanda belum mampu karena dipihak lain dan di dalam negeri mereka banyak menghabiskan tenaga untuk menumpas pemberontakan-pemberontakan, sementara itu, kerajaan-kerajaan pribumi tidak menyadari keunggulan mereka.
Belanda kemudian menerapkan Devide et
Impera dari pantai timur dengan kebijakan Zelbestuur, artinya swapraja.
Tanah Batak dipecah menjadi:
1. Keresidenan Tapanuli. Direct Bestuur Gebied, sebuah daerah Pamong Praja.
2. Sumatera Timur, Zelbestuurs Gebied, Swapraja.
3. Daerah Batak, Singkil, gayo, dan Alas atas permintaan komandan tentara Belanda di Kotapraja, dimasukkan ke dalam Aceh.
3. Daerah Batak, Singkil, gayo, dan Alas atas permintaan komandan tentara Belanda di Kotapraja, dimasukkan ke dalam Aceh.
Daerah Batak yang menjadi Swapraja yang bercampur dengan puak Melayu dipecah sebagai berikut:
1. Kesultanan Langkat, di atas kerajaan Karo, Aru/Wampu di tanah Karo, Dusun
2. Kesultanan Deli, bekas Kesultanan Haru/Delitua.
3. Kesultanan Serdang, di bekas Kerajaan Dolok Silo, Simalungun sampai ke Lubuk Pakam.
4. Distrik Bedagai, dilepas dari Kerajaan Kahean, Simalungun. Di bawah pimpinan otoritas bergelar Tengku.
5. Kesultanan Asahan yang didirikan oleh Tuanku Mansur Marpaung diberi pengakuan secara hukum.
6. Kerajaan Kota Pinang, dengan mayoritas
penduduk Batak Muslim didirikan dengan kepemimpinan Alamsyah Dasopang
dengan gelar Tuanku Kota Pinang.
7. Kerajaan-kerajaan kecil dan tak
mempunyai kekuatan diciptakan, misalnya kerajaan Merbau, Panai, Bila dan
lain sebagainya dengan tujuan untuk memecah-mecah kekuatan masyarakat
Batak dalam kotak-kotak agama, wilayah dan kepentingan ekonomi.
8. Kerajaan Dolok Silo dan Kahaen dipecah tiga.
9. Di Tanah Karo daerah pegunungan diciptakan Kerajaan Sibayak.
9. Di Tanah Karo daerah pegunungan diciptakan Kerajaan Sibayak.
Pihak Gayo yang dimasukkan ke Aceh dan
orang-orang Batak Karo serta Simalungun tidak dapat lagi membela
perjuangan Dinasti Sisingamangaraja karena mereka menganggap dirinya
masing-masing sudah berbeda kewarganegaraan. Pihak Belanda menguasai
setiap check point, untuk mengisolir rakyat setiap kerajaan dan
membatasi pelintas batas. Kekuatan ekonomi, praktis, dikuasi Belanda.
Kekuatan Tanah Batak mencapai titik paling lemah.
Belanda memutuskan untuk mengkristenkan
tanah Karo pegunungan dengan memerintahkan Nederlandsche Zendings
Genootschap yang kristen protestan kalvinist. Akibatnya kini orang-orang
Karo yang Kristen protestan kalvinist tidak mau bergabung, baik itu
identitas maupun sosial, dengan orang-orang Toba yang Kristen protestan
lutheran dalam HKBP.
Perbedaan identitas juga terdapat di
dalam komunitas Karo sendiri. Mereka yang bermukim di tanah Karo
pegunungan hingga tahun 1905 tetap masih menganut agama tradisional
Batak. Dalam abad ke-20 mereka banyak menganut Kristen Protestan
Kalvinis. Sementara itu orang Karo Dusun kebanyakan adalah muslim sejak
masa kesultanan Haru Delitua (1508-1523).
Akibat penurunan identitas Karo menjadi
Melayu banyak orang Karo yang muslim yang tidak mencantumkan marganya
saat lahir. Kebangkitan identitas Karo akhirnya terjadi lagi pada era
tahun 1950-an. Di mana banyak muslim Karo sudah mengenakan marganya
kembali.
1863
Pendeta Nommensen dari Sipirok memasuki Silindung. Pengkristenan Tanah Batak Utara dimulai dan dikerjakan dengan sangat sistematis. Target ke selatan Batak, daerah Batak Muslim, dikurangi. Dengan beking seorang raja, Pontas Lumban Tobing, yang sudah pro Belanda, sebuah gereja pertama didirikan di Hutadamai, Silindung. (Tuanku Rao; Ompu Parlindungan)
Pendeta Nommensen dari Sipirok memasuki Silindung. Pengkristenan Tanah Batak Utara dimulai dan dikerjakan dengan sangat sistematis. Target ke selatan Batak, daerah Batak Muslim, dikurangi. Dengan beking seorang raja, Pontas Lumban Tobing, yang sudah pro Belanda, sebuah gereja pertama didirikan di Hutadamai, Silindung. (Tuanku Rao; Ompu Parlindungan)
1864-1866
Pangeran Parobatu, selama dua tahun, mengikuti Pendidikan Militer di XXV/Mukim, di Kesultanan Aceh. Setelah wisuda, pangeran juga membawa oleh-oleh; Bantuan Pasukan Penempur dari Aceh, ke Bakkara.
Pangeran Parobatu, selama dua tahun, mengikuti Pendidikan Militer di XXV/Mukim, di Kesultanan Aceh. Setelah wisuda, pangeran juga membawa oleh-oleh; Bantuan Pasukan Penempur dari Aceh, ke Bakkara.
1867
Penyakit Kolera menjangkiti lagi. Para tenaga medis Kerajaan gagal membendung epidemik ini. Yang Mulia Sisingamangaraja XI wafat karena kolera. Pangeran Parobatu naik tahta menjadi Sisingamangaraja XII dengan gelar Patuan Bosar. Ada yang menyebutkan angka tahun masa pemerintahan Sisingamangaraja yang juga dikenal dengan nama Patuan Bosar, gelar Ompu Pulo Batu adalah 1871-1907.
Penyakit Kolera menjangkiti lagi. Para tenaga medis Kerajaan gagal membendung epidemik ini. Yang Mulia Sisingamangaraja XI wafat karena kolera. Pangeran Parobatu naik tahta menjadi Sisingamangaraja XII dengan gelar Patuan Bosar. Ada yang menyebutkan angka tahun masa pemerintahan Sisingamangaraja yang juga dikenal dengan nama Patuan Bosar, gelar Ompu Pulo Batu adalah 1871-1907.
Akibat epidemik ini, intensitas misi
pengkristenan bertambah tinggi. Rakyat yang frustasi berduyun-duyun
mendatangi Christian Community di Hutadame.
1867-1884
Sisingamangaraja XII selama 17 tahun memerintah di Bakkara. Menurut penulis sejarah pro Belanda, Sisingamangaraja memerintah dengan tangan besi, untuk mempertahankan “Singgasana Batak Pagan Priest Kings” yang sudah memerintah selama 12 generasi paska Dinasti Sori Mangaraja. Informasi ini tentunya untuk pengalihan perhatian orang-orang Batak di masa mendatang yang akan merasa kehilangan penguasa Batak yang mereka cintai.
Sisingamangaraja XII selama 17 tahun memerintah di Bakkara. Menurut penulis sejarah pro Belanda, Sisingamangaraja memerintah dengan tangan besi, untuk mempertahankan “Singgasana Batak Pagan Priest Kings” yang sudah memerintah selama 12 generasi paska Dinasti Sori Mangaraja. Informasi ini tentunya untuk pengalihan perhatian orang-orang Batak di masa mendatang yang akan merasa kehilangan penguasa Batak yang mereka cintai.
Selanjutnya, para penulis itu menuduh
Sisingamangaraja XII secara totaliter menentang Pemerintah Belanda,
serta menentang infiltrasi dari Agama Kristen yang dibawa oleh
pendeta-pendeta Jerman. Mereka menambahkan bahwa karena itulah
orang-orang Batak yang sudah Kristen (dan lebih-lebih lagi yang sudah
Islam) tentulah tidak mau mengakui seorang Batak Pagan Priest King.
Belanda, dengan dendam kesumat atas
kewibawaan Sisingamangaraja XII, sengaja menanam bibit perpecahan dan
pertikaian di masyarakat untuk dipanen oleh generasi Batak di masa
mendatang. Paska Kemerdekaaan Indonesia, bibit itu melapuk dan tidak
membuahkan hasil. Orang Batak hidup damai dalam toleransi beragama.
Raja Huta, Pontas Lumbantobing di
Saitnihuta, Silindung, menjadi antipode dari Sisingamangaraja XII,
maharaja di wilayah huta-huta Batak. (Tuanku Rao; Ompu Parlindungan).
Di tanah Batak Utara didirikan
sekolah-sekolah dengan jumlah besar; Sekolah Dzending. Namun, demi misi
imperialis, diskriminasi diterapkan. Anak-anak dari Sintua, tetua
Gereja, mendapat prioritas masuk sekolah Zending. Untuk menjadi Sintua,
seseorang harus membuktikan diri patuh terhadap Kristen. Orang-oranng
tanah Batak Utara belomba-lomba menjadi Sintua. (Tuanku Rao; Ompu
Parlindungan).
Posisi Sisingamangaraja XII kehilangan
legitimasi dan dukungan dari rakyatnya yang sudah Kristen karena sudah
berlomba-lomba menjadi Sintua (idem).
Penduduk Dairi, Pakpak dan Simsim masih
menjadi pengikut setia Sisingamangaraja XII. Dalam pertempuran dengan
Belanda, Ibukota kerajaan yang sudah ditandai oleh tim penyusup
sebelumnya menjadi sasaran empuk pasukan Belanda. Serangan-serangan
artileri memaksa Sisingamangaraja XII, dengan pengawalan khusus dari
rakyatnya orang-orang Gayo yang menjadi pasukan komando dari Aceh,
pasukan yang diberikan Kesultanan Aceh, mengungsi di Dairi dan
melancarkan serangan dari hutan belantara sana. (1884-1907). Sementara
itu panglima-panglimanya yang masih setia, melakukan upaya defensif
untuk menahan laju tentara Belanda.
1869
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Pendeta Ellys di Mandailing menemukan beberapa hambatan-hambatan, serta penyebabnya, dalam misi pengkristenan. (Tuanku Rao; Ompu Parlindungan)
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Pendeta Ellys di Mandailing menemukan beberapa hambatan-hambatan, serta penyebabnya, dalam misi pengkristenan. (Tuanku Rao; Ompu Parlindungan)
1. Aliran Baptist, merupakan kelompok
yang sangat sedikit di dunia. Baptist melepaskan diri dari Gereja Roma
Katolik, lebih dahulu daripada Protestan dengan Martin Luther-nya pada
tahun 1517. Baptis mengkristenkan orang-orang dewasa dengan cara
menyemplungkan diri, seluruh badan, di dalam sungai. Seperti halnya oleh
Johannes Pembaptis sebelum Jesus.
2. American Baptist Misson dan British Baptish Mission tidak mau lagi mendanai Pendeta di Mandailing yang berpenduduk Muslim dan taat beragama.
2. American Baptist Misson dan British Baptish Mission tidak mau lagi mendanai Pendeta di Mandailing yang berpenduduk Muslim dan taat beragama.
Dinasti Romanov, di Rusia beragama.
Kristen Ortodoks Katolik. Akan tetapi di Ukraina terdapat sedikit aliran
Baptist keturunan Belanda yang disebut; Mennoniets, karena mereka
adalah keturunan dari Menno Simons. Baptist, Doopsgezinden, di Negeri
Belanda habis dibasmi oleh Protestan, di dalam periode 1568-1648.
Orang-orang Baptist Belanda melarikan
diri ke Ukarina. Di sana, mereka dilindungi oleh Dinasti Romanov, karena
kepandaian mereka di bidang pertanian dan peternakan.
Dinasti Romanov saat itu sedang asyik
menanam pengaruh di Seluruh Asia, mulai dari Selat Dardanella, sampai ke
Vladiwostok. Romanov kemudian mengatur kepergian Pendeta-pendeta
Mennoniet dari Ukraina ke Mandailing 1869-1918.
Gereja yang di Mandailing didirikan pada
tahun 1838 dirombak dan diganti dengan Gereja model Basilyk Rusia,
lengkap dengan atas yang berbentuk “bawang” , 1869. Misi pendeta
Mennoniet inipun berakhir karena jatuhnya Tsar Rusia yang dibantai oleh
kaum Komunis. Pendeta Iwan Tissanov, pendeta yang teakhir dari aliran
ini kemudian pindah ke Bandung 1918. (Pedersen 1970:56; Elkhart:2001)
Keturunan pasukan Padri bermarga Lubis,
Kalirancak Lubis dan Jamandatar Lubis, yang pernah merebut Toba dan
menguasai Ibukota Bakkara, di bawah pimpinan Panglima Muhammad Faqih
Amiruddin Sinambela, kemenakan S. M. Raja X, menjadi Kristen Protestan
Luteran di HKBP (Huria Kristen Batak Protestan). Salah satunya adalah
Martinus Lubis pahlawan Medan 1947.
1870 M
Peta politik populasi Tanah Batak:
Peta politik populasi Tanah Batak:
Di Tanah Batak Selatan; 90% Beragama Islam, 10% lagi terdiri dari Muslim Syiah, Kristen Protestan dan Baptist.
Di Tanah Batak Utara; 90% Beragama
Monoteis Adat Sisingamangaraja (Parmalim atau Sipelebegu) dengan
Sisingamangaraja sebagai Raja dan Pemimpin Agama dan Debata Mula Jadi
Nabolon (Tuhan, Maha Pencipta serta Maha Agung) sebagai Tuhan.
Sementara 10 persen lagi; Muslim dan Protestan di Silindung.
1873
Sebuah mesjid di Tarutung, Silindung, dirombak oleh Belanda. Haji-haji dan orang-orang Islam, kebanyakan, dari marga Hutagalung, diusir dari tanah leluhur dan pusaka mereka di Lembah Silindung. Belanda melakukan pembersihan etnis, terhadap muslim Batak.
Sebuah mesjid di Tarutung, Silindung, dirombak oleh Belanda. Haji-haji dan orang-orang Islam, kebanyakan, dari marga Hutagalung, diusir dari tanah leluhur dan pusaka mereka di Lembah Silindung. Belanda melakukan pembersihan etnis, terhadap muslim Batak.
Kesabaran Sisingamagaraja XII sudah
menipis, tindakan ofensif ditingkatkan. Pertempuran Tangga Batu II
meletus. Sisingamangaraja XII terluka, kena tembak dan berdarah. Belanda
mengumunkannya ke seluruh penjuru. Tujuannya, agar hormat dan
kepercayaan orang-orang Batak terhadap raja mereka, SM Raja XII, goyang.
Di periode yang sama, dengan bala tentara
yang lebih banyak, kebanyakan terdiri dari pasukan paksaan dari
daerah-daerah jajahan lainnya; Halmahera, Madura dan Jawa, Belanda
melumpuhkan kekuatan tempur SM Raja. Sisa-sia kekuatan hanya untuk
defensif. Dari dataran tinggi Humbang (sekarang di Kab. Humbang
Hasundutan) Bakkara dibombardir dengan senjata Artileri Berat, namun
Belanda masih takut untuk melakukan serangan infanteri.
1881 M
Toba resmi diduduki Belanda. Di Balige ditempatkan Controleur B.B. Di Laguboti ditempatkan sebuah detasemen tentara Belanda. Pendeta Pilgram di Balige dan Pendeta Bonn di Muara mulai mengkristenkan penduduk yang sudah menyerah dan tak berdaya. Sementara itu, tentara Belanda diperkuat dan Laguboti menjadi garnizon Tetap.
Toba resmi diduduki Belanda. Di Balige ditempatkan Controleur B.B. Di Laguboti ditempatkan sebuah detasemen tentara Belanda. Pendeta Pilgram di Balige dan Pendeta Bonn di Muara mulai mengkristenkan penduduk yang sudah menyerah dan tak berdaya. Sementara itu, tentara Belanda diperkuat dan Laguboti menjadi garnizon Tetap.
Pasukan SM Raja mulai kehilangan pasokan
senjata dan amunisi dari dua pabrik senjata di kedua tempat tersebut,
yang dibangun atas alih teknologi dari Kesultanan Aceh.
1882-1884
Sisingangaraja XII di ibukota Bakkara meningkatkan kewaspadaan mereka dalam sebuah upaya ofensif dan melakukan usaha mendeportasi elemen-elemen Belanda, yang menyusup jauh dan membeberkan kelemahan kerajaan, serta pendeta-pendeta Jerman keluar dari wilayah kedaulatan Tanah Batak.
Sisingangaraja XII di ibukota Bakkara meningkatkan kewaspadaan mereka dalam sebuah upaya ofensif dan melakukan usaha mendeportasi elemen-elemen Belanda, yang menyusup jauh dan membeberkan kelemahan kerajaan, serta pendeta-pendeta Jerman keluar dari wilayah kedaulatan Tanah Batak.
Yang Mulia, Patuan Bosar, menjanjikan
uang sebanyak 300 ringgit burung untuk setiap orang yang memancung
seorang pendeta Jerman dengan membawa bukti berupa kepala yang dipancung
(Tuanku Rao; Ompu Parlindungan). Terutama Pendeta Bonn di Muara, yang
lalu lalang dan mengintai di daerah antara Bakkara dan Balige dan
terlalu dekat dengan pusat kekuasaan Patuan Bosar.
1883
Destor Nasution, putera dari Jarumahot Nasution alias Hussni bin Tuanku Lelo, menjadi pendeta. Tuanku Lelo merupakan salah satu panglima tentara Islam Padri yang merebut Bakkara di era S. M. Raja X.
Destor Nasution, putera dari Jarumahot Nasution alias Hussni bin Tuanku Lelo, menjadi pendeta. Tuanku Lelo merupakan salah satu panglima tentara Islam Padri yang merebut Bakkara di era S. M. Raja X.
Destor merupakan orang Batak pertama yang
ditahbiskan menjadi pendeta dari Marga Nasution. Ayah Tuanku Lelo
merupakan Qadi Malikul Adil, Menteri Kehakiman di pemerintahan Padri,
dan orang Batak pertama yang naik haji ke Mekkah, 1790.
Pasukan Sisingamangaraja XII dengan
sisa-sisa kekuatannya melancarkan serangan frontal ke Muara. Tujuannya.
Merebut kembali tanah Toba, dan mengusir Belanda di Laguboti. Pendeta
Bonn dan Istrinya berhasil melarikan diri.
Belanda membalas, Bakkara dikepung dengan bombardir artileri dan serangan infanteri. Ibu kota Bakkara, hancur lebur.
S. M Raja hijrah ke Tamba dan mengatur
serangan dari sana. Pasukan khusus dari Aceh masih setia melindungi ‘Sri
Maharaja’ Patuan Bosar.
Dukungan rakyat muncul kembali tatkala
mendengar patriotisme Putri Lopian Boru Sinambela yang sejak usia 11
tahun selalu mendampingi ayahnya, S. M. Raja XII, Pahlawan Nasional
Indonesia. Secara khusus sang putri selalu melakukan ritual untuk
memintakan pertolongan dari Debata Mulajadi Na Bolon.
Melihat opini rakyat yang mulai
menentang, Belanda tidak terima. Karisma sang Putri di bendung dengan
tangan besi. Pembicaraan mengenai S. M Raja dan putrinya akan mendapat
hukuman penjara. Akibatnya lambat laun rakyat lupa kembali, apakah
rajanya masih berjuang atau tidak. Rakyat terintimidasi untuk berbicara
mengenai rajanya. Perang Ideologi.
1884-1905
Padangsidempuan menjadi ibukota keresidenan Air Bangis.
Padangsidempuan menjadi ibukota keresidenan Air Bangis.
1884-1907
Sisingamangaraja XII, Pahlawan Nasional Indonesia dengan heroik meneruskan perang melawan penjajah dari Dairi. Tanpa sedikitpun bantuan dari orang-orang Toba di Silindung yang menyibukkan diri untuk menjadi Sintua agar anaknya diterima sekolah di Zending.
Sisingamangaraja XII, Pahlawan Nasional Indonesia dengan heroik meneruskan perang melawan penjajah dari Dairi. Tanpa sedikitpun bantuan dari orang-orang Toba di Silindung yang menyibukkan diri untuk menjadi Sintua agar anaknya diterima sekolah di Zending.
1886-1948
Syekh Juneid Thola Rangkuti, dari Maga yang juga dikenal dengan nama Simanonga, tampil menjadi tokoh pembaharuan sosial di Tanah Batak Selatan. Dia mendirikan sebuah institusi pendidikan di Padang Rengas yang menjadi pusat studi dan pengembangan Islam secara lokal.
Syekh Juneid Thola Rangkuti, dari Maga yang juga dikenal dengan nama Simanonga, tampil menjadi tokoh pembaharuan sosial di Tanah Batak Selatan. Dia mendirikan sebuah institusi pendidikan di Padang Rengas yang menjadi pusat studi dan pengembangan Islam secara lokal.
1905
Ibukota Keresidenan Tapanuli, Belanda, dipindahkan ke Sibolga. Pada tahun ini penjajah Belanda di Indonesia mengeluarkan Ordonansi Guru, yang mengharuskan setiap guru Islam untuk melapor setiap tahun kepada Belanda, tidak terkecuali di tanah Batak, sejalan dengan usul K.F. Holle. Akibatnya, di lapangan banyak guru-guru Islam diburu, diusir dan diasingkan. (Lihat: Politik Islam Hindia Belanda, H. Aqib Suminto, LP3ES, Jakarta, Hal 184). Hal ini menjadikan perimbangan kekuatan elemen pribumi yang anti dan pro penjajahan semakin timpang.
Ibukota Keresidenan Tapanuli, Belanda, dipindahkan ke Sibolga. Pada tahun ini penjajah Belanda di Indonesia mengeluarkan Ordonansi Guru, yang mengharuskan setiap guru Islam untuk melapor setiap tahun kepada Belanda, tidak terkecuali di tanah Batak, sejalan dengan usul K.F. Holle. Akibatnya, di lapangan banyak guru-guru Islam diburu, diusir dan diasingkan. (Lihat: Politik Islam Hindia Belanda, H. Aqib Suminto, LP3ES, Jakarta, Hal 184). Hal ini menjadikan perimbangan kekuatan elemen pribumi yang anti dan pro penjajahan semakin timpang.
Sejak tahun 1849 Asisten Residen
Mandailing Ankola berusaha memecah masyarakat Batak dalam kotak-kotak
agama, sesuai dengan misi Devide et Impera penjajah Belanda dengan
menerapkan gagasannya untuk memisahkan orang-orang Batak yang sudah
Islam dengan mengkristenkan orang-orang Batak pelebegu. A.P. Godon yang
sudah pensiun sejak tahun 1857 menyatakan dalam suatu diskusi: “Dalam
laporan umum tahun 1849 selaku Asisten Residen Mandailing Angkola, saya
menyatakan bahwa guru agama Kristen pada saat itu masih bisa bekerja
dengan dengan baik. Saya sarankan agar antara suku (Batak Islam, atau)
Melayu dan Batak harus dipisahkan dengan jelas. Metode yang paling baik
adalah menyeru orang-orang Batak pelebegu agar masuk Kristen.” (Lihat
O.J.H. Graaf van Limburg Stirum, hal. 126)
Pada tahun 1889, Gubernur Jenderal
pemerintah penjajah Belanda mengeluarkan surat keputusan rahasia yang
menentukan bahwa di daerah yang penduduknya tidak memeluk agama Islam,
tidak boleh diangkat kepala desa atau pegawai muslim. Peraturan atau
kebiasaan yang mendukung Islam pun tidak dibenarkan. (lihat: Beslit
Rahasia Gubernur Jenderal No. 1,3 Juni 1889).
Dua orang residen Tapanuli bernama
Westenberg dan Barth kemudian membuktikan bahwa pemerintah kolonial
tidak senang melihat perubahan kepada Islam, bahkan Westenberg memberi
contoh memecat kepala desa yang masuk Islam. Pemerintah penjajahan
Belanda menyetujui hal itu karena sesuai dengan jiwa beslit rahasia 1889
tersebut. (M. C. Jongeling, Het Zendingconsulaat in Nederlands Indie,
1906-1942, (Arnheim, 1966) Hal. 112). Namun dukungan penjajah seperti
ini tidak mampu menghentikan kekuatan pribumi yang anti-penjajahan.
Pada tahun 1903, Kepala Kampung Janji
Angkola, Aman Jahara Sitompul, yang telah menjadi Kepala Kampung selama
23 tahun, masuk Islam berkat anaknya Syeikh H. Ibrahim Sitompul.
Akibatnya Aman Jahara Sitompul diberhentikan sebagai Kepala Kampung atas
dasar beslit rahasia 1889.
Syeikh H Ibrahim Sitompul melakukan
perlawan dan melakukan aksi politik dengan menayakannya kepada Dr.
Hazeu, Adviseur voor Islandsche zaken. Alih-alih mendapat tanggapan,
laporannya baru resmi diterima enam tahun kemudian, yaitu pada tahun
1909. Dr. Hazeu berusaha melakukan himbauan kepada kekuatan penjajah
yang ditolak mentah-mentah oleh Residen Westenberg dengan penegasan
sekali lagi bahwa pegawainya telah melaksanakan kebijakan yang
digariskan pada tahun 1889.
Sikap Residen Westenberg kemudian
dipertegas oleh rezim penjajah dengan pernyataan Frijling, Penasehat
Urusan Luar Jawa, untuk menerapkan kebijakan rahasia tersebut apa
adanya.
Di lain pihak pada tahun 1903, Janji
Angkola Pabea Sitompul, saudara Syeikh Ibrahim Sitompul, berusaha keras
untuk mengembalikan kehormatan ayahnya. Namun kali ini tanggapan keras
datang dari pihak penjajah. Dia terbentur tembok dengan adanya surat
keputusan dari pimpinan tertinggi penjajah di Indonesia yakni keputusan
Gubernur Jenderal Penjajah tanggal 5 Juni 1919 yang tidak mengabulkan
pengaduan tersebut. (Lihat; “Christelijke Zending en Islam in
Indonesia”, dalam Koleksi GAJ. Hazeu, No. 42, KITLV, Leiden. Bandingkan
dengan Lance Castles, The Political Life of Sumatran Residency: Tapanuli
1915-1940, disertasi, Yale University, 1972, Hal. 91-93.
Sementara itu, pada bulan Maret 1919, di
Janji Angkola diadakan pemilihan kepala kampung baru. Sekalipun jumlah
warga Batak yang beragama Kristen sebanyak 400 orang, sedang warga Batak
yang muslim hanya 60 orang, namun ternyata Syeikh Ibrahim Sitompul yang
menang dalam pemilihan tersebut. Tapi Kontrolir Silindung Heringa
menyarankan agar residen mengangkat Aristarous, bukan Syeikh Ibrahim
Sitompul.
Residen Vorstman sadar dengan instruksi
rahasia 1889, kemudian mengadakan pemilihan ulang, dengan harapan pihak
Batak Islam akan tersudut. Namun ternyata Syeikh Ibrahim Sitompul tetap
keluar sebagai pemenang, dengan suara 218 lawan 204. Residen Vorstman
tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kekuatan anti-penjajahan kali ini
berhasil unjuk gigi.
Dalam pada itu hubungan perdagangan
antara daerah Singkel dan Dairi juga diputus dengan alasan Devide et
Impera. Dengan demikian orang-orang Batak di tanah Batak pusat akan
terisolir dan mudah untuk ditaklukkan.
Asisten Residen Bataklanden dan Residen
Tapanuli kemudian melakukan langkah dengan memisahkan orang-orang Batak
di Singkel dengan Dairi. Hubungan lalu lintas antara Singkel dan Dairi
pun diputus. Raja Batu-batu, seorang Raja Batak Singkel, yang kebetulan
seorang muslim dilarang untuk mendatangi rakyatnya di Dairi. (Surat
Residen Tapanuli Westenberg ke Gubernur Jenderal tanggal 9 Oktober 1909,
dalam Koleksi G.A.J Hazeu). Bahkan sejak tahun 1910 para pedagang Batak
Singkel dilarang tinggal di daerah Batak, maksudnya Keresidenan
Tapanuli, lebih dari 24 jam. (Nota Lulofs 11 Juli 1915, dalam Lance
Castle, Hal 94)
Usaha penjajah Belanda untuk
mengkotak-kotakkan orang Batak dalam agama dan teritori agar mudah
dijajah juga dilakukan di Silindung. Pada tahun 1915. Lulofs memberikan
instruksi sektarian kepada bawahannya agar dibuat batas baru di sebelah
utara Janji Angkola, dan politik anti-Islam hanya boleh dilaksanakan
disebelah utara desa tersebut. Dalam suratnya kepada Direktur Pendidikan
dan Agama tanggal 16 Mei 1916, Lulofs menjelaskan bahwa dengan adanya
garis pemisah, maka bisa diadakan tindakan tegas dalam daerah tertutup.
Misalnya dengan menggunakan Ordonansi Guru 1905 untuk menghindari
pendidikan Islam di daerah tersebut. Ordonansi Guru ini memungkinkan
penjajah dapat memburu, mengusir dan mengasingkan guru-guru Batak Islam.
Namun, pihak zending menentang instruksi-
yang dinilai terlalu menguntungkan Islam- ini. Dan menyatakan
keheranannya mengapa sikap seorang pegawai demikian simpati kepada
Islam. Karena menurut mereka di daerah ini terdapat 15.000 orang
Kristen, 30000 orang Batak Islam dan masih banyak animis yang akan
diserahkan kepada nabi palsu. (Lihat surat Lulofs kepada Direktur BB
tanggal 16 Mei 1916).
Terhadap pemisahan daerah Islam-Kristen
semacam ini Hazeu tidak setuju, karena dia tidak membenarkan terjadinya
pengusiran seseorang dari daerah tertutup. Dalam suratnya kepada
Direktur Pendidikan dan Agama tanggal 29 Desember 1916, Hazeu
menyatakan, “Saya memperingatkan dengan keras bahwa Ordonansi Guru tidak
boleh digunakan untuk tujuan mengusir haji sebagaimana dibenarkan oleh
tuan Lulofs” (Koleksi G.A.J.)
Namun, pengusiran dan pemburuan tersebut tetap saja terjadi di tanah Batak
Dalam rangka menghalangi gerak pedagang
Batak Islam yang sejak abad 15 telah eksis dan menjadi tulang punggung
perekonomian tanah Batak, khususnya dari marga Hutagalung, Hasibuan,
Pasaribu dan Marpaung serta marga-marga lainnya, Asisten Residen Fraser
mengusulkan dibentuknya koperasi antar sesama orang Batak yang tidak
menentang kehadiran penjajah saat itu, di samping menganjurkan agar
peternakan babi digalakkan di sana. Saran semacam ini pernah dikemukakan
pula oleh seorang tokoh Lembaga Bijbel pertengahan abad lalu, yang
ditujukan kepada propagandis Kristen di tanah Batak.
Dia adalah H.N. vander Tuuk tang pada
tahun 1851 sampai tahun 1857 menetap di tanah Batak sebagai petugas dari
Lembaga Bijbel. Ia memberikan beberapa saran, bagaimana seharusnya
petugas Kristen bersikap di tanah Batak, yaitu:
1. Harus disebut Guru, bukan pendeta atau paderi; karena istilah pendeta kurang disukai, baik orang Eropa maupun orang Batak.
2. Harus kawin dengan wanita Eropa,
karena pembicaraan antara wanita lebih intim dan seorang wanita lebih
berpengaruh daripada pendeta biasa.
3. Harus mendapat gaji yang baik, lebih tinggi dari gaji pegawai pemerintah.
4. Harus berpakaian seperti biasa, tidak memakai jas hitam pendeta.
5. Harus bisa menerima gaji dengan mudah, tanpa dipotong dua setengah persen.
6. Langsung masuk daerah Batak, tidak perlu lama-lama menunggu di Padang agar cepat bisa berbahasa Batak.
7. Harus tinggal jauh dari orang Eropa, karena mereka pada umumnya tidak akrab dengan pribumi.
8. Dalam taraf permulaan hanya
omong-omong, Secepat mungkin mengajar agar bisa cepat belajar bahasa
pribumi. Hanya mengajar kalau diminta oleh mereka.
9. Bersama murid-murid sekolah, harus membaca cerita Batak, baru kemudian membacakan Bijbel.
10. Harus bergaul akrab dengan orang Batak, tapi jangan meminjam uang.
11. Hendaknya tidak menerima hadiah, karena dia harus memberikan hadiah.
12. Hendaknya tidak menghina orang Islam, tapi harus menunjukkan orang kafir sama baiknya dengan orang Islam.
13. Andaikata mengetahui ilmu teknik, harus mengajarkan ilmu tersebut hanya kepada orang bukan Islam.
14. Sebagai peternak harus memelihara babi.
15. Andaikata mempunyai anak, harus hati-hati agar mereka tidak menghina pribumi.
16. Dalam pelaksanaan vaksinasi hendaknya jauh dari pengawasan pegawai.
17. Hendaknya tidak menggunakan pemadat sebagai pembantu atau murid.
18. Andaikata memiliki toko, dia tidak hanya akan mendapatkan banyak uang, tapi juga pengaruh yang cukup besar.
Sumber Lihat: R. Nieuwenhuys, H.N. van Der Tuuk: De, Pen in Gal Gedoopt, (Amsterdam, 1962) hal: 81-84.
Sumber Lihat: R. Nieuwenhuys, H.N. van Der Tuuk: De, Pen in Gal Gedoopt, (Amsterdam, 1962) hal: 81-84.
Pada tahun 1919, pihak zending
mengeluarkan brosur dalam dialek Angkola berjudul Ulang Hamu Lilu
(jangan sesat), untuk memperkenalkan Islam secara negatif kepada orang
Kristen Batak, berdasarkan buku-buku Gottfried Simons yang biasa
menentang Islam.
Gottfried Simons adalah seorang zendeling
Jerman yang pernah bertugas di Sumatera dari tahun 1896 sampai tahun
1907, dikirim oleh RMG (Rheinische Mission Gesellschaft). Karyanya
antara lain;
1. Islam und Christentum im kampf um die
Eroberung der animimistischen Heidenwelt, beobachtungen aus der
Mohammedaner-Mission in Biederlandisch-Indiesn, (Berlin 1910); (Islam
dan Kristen dalam Perjuangan di dunia Animis; Tinjauan zending terhadap
orang Islam di Hindia Belanda).
2. Unter den Muhammedanern Sumatras, (Berlin, 1926).
3. Reformbewegungen in Islam (Artikel)
3. Reformbewegungen in Islam (Artikel)
Akibat brosur tersebut yang menurut Hazeu
penuh dengan kebohongan dan kepalsuan tersebut, timbullah kehebohan,
sehingga untuk mengatasinya brosur tersebut segera disita oleh kontrolir
daru rumah zendeling Jerman, Ameler, di Bungabondar.
Asisten Residen bermaksud memanggil pihak
zending ke pengadilan, tapi Jaksa Agung di Batavia melarangnya.
Kemudian pusat Zending di Tarutung meminta agar brosur yang disita itu
dikembalikan secara resmi.
Pada tanggal 12 Juli 1919 brosur tersebut
akan dikembalikan dan pihak zending mengumumkan hal itu sebelumnya,
meskipun sudah diminta untuk merahasiakannya. Akibatnya timbul kehebohan
sehingga zendeling Ameler meminta agar kontrolir tidak jadi datang,
karena sudah memancing perhatian pelbagai organisasi beribadatan suluk
di tanah Batak.
Brosur seharga f.0,15 per buah itu bisa
laku f.2,-, (Lance Castle, Hal 110-112). Selama ini harapan demikian
tinggi untuk bisa mengikis pengaruh Islam dari tanah Batak dengan jalan
mempercepat kristenisasi.
Harapan semacam ini didasarkan atas
kepercayaan berlebihan tentang superioritas Kristen atas Islam dan
dugaan bahwa agama Islam yang sinkretis di negeri ini (seperti parmalim
dan agama kepercayaan Batak yang mirip dengan Islam sedikit atau banyak)
akan mudah dikristenkan. Banyak orang Belanda terutama pada abad ke-19
yang berpengharapan demikian (Lihat A. Retif, “Aspect Religiux de
l’Indonesie”, dalam Etudes, 1945, hal 371-381; Harry J. Benda, “The
Crescent and the Rising Sun”, op cit., hal. 19).
Dalam perjuangan kemerdekaan antara orang
Batak dengan penjajah Belanda di tanah Batak ini nampaklah kesan bahwa
di satu pihak agama Islam berkembang dengan segala kesederhanaannya,
sedang di pihak lain agama Kristen dengan segala kelebihannya ditunjang
oleh para pejabat dan pegawai kolonial pada umumnya. (Aqib Suminto;
Politik Islam Hindia Belanda, LP3ES).
Cepat berkembangnya Kristen di daerah ini
jelas bukan semata-mata karena “gereja-gereja di sana memiliki semangat
missioner yang besar” seperti pendapat Dr. F. Ukur yang menyatakan
bahwa satu ciri gereja-gereja di Sumatera adalah memiliki semangat
missioner yang besar, sehingga dapat berkembang cepat dalam waktu yang
relatif singkat. Lihat: Walter Lempp, Benih Yang Tumbuh, XII (Jakarta,
1976), hal. 110.
Dalam laporan tahunannya 1906/1907,
Konsul Zending mengakui bahwa pemerintah penjajahan Belanda sering
mendukung aktivitas Kristen; bahkan kadang-kadang pemerintah meminta
kepada zending agar mereka membuka cabangnya di suatu tempat, seperti di
Simalungun tahun 1904 dan Pakpaklanden tahun 1906, dua daerah yang
sudah banyak menganut agama Islam selain animisme. Lihat Laporan ke-25
Algemeene Nederlandse Zendingsconferentie, 1911, Hal. 80, tentang “De
prediking des zendelings aan de Mohammedanen” atau lihat M.C.Jongeling,
op cit., hal 110).
Agaknya memang perluasan kolonial dan
ekspansi agama merupakan gejala simbiosis yag paling menunjang. Lihat:
H. Kraemer, “De Zending en Nederlands Indie”, dalam H. Baudet, &
I.J. Brugmans, op.cit., hal 294.
Karena itu zending Kristen harus dianggap
sebagai faktor penting dalam proses penjajahan, walaupun tujuan zending
hanya rohani. Semua yang menguntungkan pihak Batak yang Islam di Hindia
Belanda berarti merugikan bagi kekuasaan moril pemerintahan penjajah
Hindia Belanda. Lihat, Alb. C. Kruyt, “De Inlandsche Staat en de
Zending”, dalam Indisch Genootschap, 23 Oktober 1906, hal 98).
Simbiosis ini nampak jelas di tanah
Batak. Seorang Haji Batak asal Pangaribuan dilaporkan datang ke Huta
Lumban. Ketika enam orang Batak pelebegu berkomunikasi dengannya dan
menyatakan keinginannya masuk Islam dan zending Muller tidak berhasil
memurtadkannya kembali, Residen Tapanuli memanggil keenam orang
tersebut, tetapi mereka tetap tidak mau keluar dari Islam meskipun
diancam akan dibuang. Lihat Buku Harian zendeling Muller di Toba, Juni
1916. Catatan buku harian tersebut dikutip oleh Residen Tapanuli dalam
suratnya kepada pimpinan tertinggi penjajah Gubernur Jenderal tanggal 22
Juli 1916 No. 246 (Koleksi G.A.J Hazeu, op cit)
Dilaporkan pula, adanya lima orang Batak
Islam, yang menerima kesaksian syahadat para Batak pelebegu, yang
dihukum. Dikatakan, berdasarkan beslit rahasia 3 Juni 1889 tersebut hal
ini memang tidak bisa dibenarkan. Sebuah beslit yang berusaha
menghilangkan Islam sebagai elemen anti-penjajahan dari tanah Batak.
Mereka dituduh telah menyebarkan agama
Islam dan dihukum dengan hukuman satu bulan, karena tidak menaati
peraturan pemerintahan penjajah Hindia Belanda. Lihat: Surat asisten
Residen Bataklanden Fraser ke Residen Tapanuli, 16 Juli 1916. Gubernur
Jenderal lebih keras dengan memerintahkan penghentian apa yang
disebutnya propagandis Islam tersebut.
Para petani Batak di Sipakpaki Sibolga
ada yang dikenakan kerja paksa sebulan, karena menerima syahadat
Islamnya beberapa orang di Huta Husor. Penduduk Huta Husor bernama
Hurlang dikenai hukuman tiga bulan, karena menyediakan rumahnya untuk
acara tersebut. Lihat, Laporan penelitian anggota Desan Penasehat Hindia
Belanda tahun 1917. (Lihat Lance Castle, op cit., hal 101).
Dalam menghadapi masalah sosial yang
timbul, sikap para pejabat penjajah Belanda nampak jelas memihak
zending. Residen Tapanuli mengakui bahwa sikap netral di bidang agama
akan berakibat gagal totalnya zending di daerah ini. Sebaliknya
kemengangan kristen pasti terwujud, bila dibantu sepenuhnya oleh
pemerintah Hindia Belanda. (Lihat: Surat Residen Tapanuli kepada
Gubernur Jenderal Van Heutsz tanggal 31 Maret 1909. Ia menyatakan; Kita
boleh memilih antara netral seratus persen terhadap agama dengan hasil
pasti menurut matematika bahwa pekerjaan zending akan gagal total, dan
lambat atau cepat seluruh daerah Batak akan masuk Islam. Atau membantu
sepenuhnya kepada zending untuk menghindari propaganda Islam di daerah
Batak. Dengan demikian kemenangan Kristen di daerah ini pasti terwujud.
Andaikata pemerintah bersikap netral, akan berakibat seperti di daerah
padang Sidempuan. Walaupun zending di sana cukup rajin di antara
penduduk yang waktu itu masih pelebegu namun Islam ternyata menang di
Mandailing, Angkola dan sebagian besar Sipirok. Justru pegawai-pegawai
kita memegang politik nonintervensi (Koleksi G.A.J Hazeu, op. cit,. Hal
102).
Gubernur Jenderal kemudian memerintahkan
agar pegawai pemerintah penjajah Belanda, kapanpun dan dimanapun tidak
memihak penduduk muslim; sebaliknya secara moril harus membantu dan
mendukung zending. Sementara itu, peraturan rahasia itu ditambah lagi
dengan satu artikel yang berbunyi; “Orang Kristren (yakni pribumi
sebagai objek yang dijajah) tidak harus melakukan kerja paksa pada hari
Minggu.” Lihat: M.C. Jongeling, op cit., hal 114-115.
1907
Pasukan Sisingamangaraja XII bersama panglima dan pengawal pribadinya dari Aceh terkepung di hutan belantara Dairi. Pertempuran berlangsung sangat sengit. Dalam upaya menolong putrinya yang terluka, Sisingamangaraja XII, gelar Patuan Bosar, Ompu Raja Pulo Batu, tewas diberondong Belanda. Jenazahnya dicincang dan dibuang begitu saja di hutan agar tidak dilihat oleh warga Batak yang pasti akan menimbulkan kemarahan besar. Menurut sumber lain, Jenazahnya dikuburkan di Balige atau Parlilitan. Masih perlu didebatkan. Keturunan S.M. Raja yang masih hidup ditawan dan dijauhkan dari masyarakat untuk tidak memancing pertalian emosi dengan warga Batak. Mereka di tawan dan dibuang ke sebuah Biara terpencil. Di sana mereka mati satu per satu. Menurut cerita lain, sebelum mati mereka sudah dipabtis.
Pasukan Sisingamangaraja XII bersama panglima dan pengawal pribadinya dari Aceh terkepung di hutan belantara Dairi. Pertempuran berlangsung sangat sengit. Dalam upaya menolong putrinya yang terluka, Sisingamangaraja XII, gelar Patuan Bosar, Ompu Raja Pulo Batu, tewas diberondong Belanda. Jenazahnya dicincang dan dibuang begitu saja di hutan agar tidak dilihat oleh warga Batak yang pasti akan menimbulkan kemarahan besar. Menurut sumber lain, Jenazahnya dikuburkan di Balige atau Parlilitan. Masih perlu didebatkan. Keturunan S.M. Raja yang masih hidup ditawan dan dijauhkan dari masyarakat untuk tidak memancing pertalian emosi dengan warga Batak. Mereka di tawan dan dibuang ke sebuah Biara terpencil. Di sana mereka mati satu per satu. Menurut cerita lain, sebelum mati mereka sudah dipabtis.
1912
Perkembangan Islam, yang tidak diperbolehkan Belanda untuk mengecap pendidikan, walau paska kebijakan balas budi, kemudian bangkit mendirikan Perguruan Mustofawiyah. Disinyalir sebagai sekolah pribumi pertama di tanah Batak yang sudah modern dan sistematis.
Perkembangan Islam, yang tidak diperbolehkan Belanda untuk mengecap pendidikan, walau paska kebijakan balas budi, kemudian bangkit mendirikan Perguruan Mustofawiyah. Disinyalir sebagai sekolah pribumi pertama di tanah Batak yang sudah modern dan sistematis.
Haji Mustofa Husein Purba Baru, dari
marga Nasution, merupakan penggagas perguruan ini. Dia, yang dikenal
sebagai Tuan Guru, merupakan murid dari Syeikh Muhammad Abduh, seorang
reformis dan rektor Universitas Al Azhar.
Lulusan perguruan Musthofawiyah ini
kemudian menyebar dan mendirikan perguruan-perguruan lain di berbagai
daerah di Tanah Batak. Di Humbang Hasundutan di tanah Toba, alumnusnya
yang dari Toba Isumbaon mendirikan Perguruan Al Kaustar Al Akbar pada
tahun 1990-an setelah mendirikan perguruan lain di Medan tahun 1987.
Daerah Tatea Bulan di Batak Selatan merupakan pusat pengembangan Islam
di Sumut.
HKBP sendiri pernah menjadi gereja
protestan terbesar di Asia. Para turunannya mendirikan gereja Angkola,
Karo dan Dairi di berbagai tempat di Indonesia. Demikian pula di
Kesultanan Langkat, para keturunan Jatengger Siregar gelar Tuanku Ali
Sakti mendirikan ‘Lilbanaad College’.
1923
Arsip Bakkara diamankan pendeta Pilgram.
Arsip Bakkara diamankan pendeta Pilgram.
1923
Kebangkitan politik orang-orang Mandailing. Sebuah komisi yang dinamakan Majlis Syariah (Commissie van Advies) dibentuk untuk memecahkan masalah-masalah berdasarkan hukum Islam. Masalah-masalah tersebut bahkan dibawa ke Diwan Raiat yang dikenal dengan nama Volksraad. Satu institusi lainnya adalah Comite Kebangsaan Mandailing.
Kebangkitan politik orang-orang Mandailing. Sebuah komisi yang dinamakan Majlis Syariah (Commissie van Advies) dibentuk untuk memecahkan masalah-masalah berdasarkan hukum Islam. Masalah-masalah tersebut bahkan dibawa ke Diwan Raiat yang dikenal dengan nama Volksraad. Satu institusi lainnya adalah Comite Kebangsaan Mandailing.
1928
Jong Batak merupakan elemen sumpah pemuda. Orang-orang Batak tanpa beda wilayah, marga dan agama bersatu mengusir Belanda dan Jepang yang datang kemudian.
Jong Batak merupakan elemen sumpah pemuda. Orang-orang Batak tanpa beda wilayah, marga dan agama bersatu mengusir Belanda dan Jepang yang datang kemudian.
Pada tahun 1928, di tanah Batak selatan
mulai memodernisasi sistem pendidikan oleh para sarjana Batak yang
belajar dari berbagai universitas di luar negeri. Di antaranya Maktab
Ihsaniyah di Hutapungkut Kotanopan oleh Muhammad Ali bin Syeikh Basyir.
Maktab merupakan transformasi partungkoan, sebuah sistem pendidikan
tradisional Batak yang berubah menjadi sikola arab dan madrasah di era
berikutnya. (lihat: Pesantren Musthofawiyah Purba Baru Mandailing, Dr.
H. Abbas Pulungan, Cita Pustaka Media Bandung, 2004).
Para lulusan Maktab Islamiyah Tapanuli
mendirikan “Debating Club” pada tahun 1928. Dua tahun kemudian anggota
“Debating Club” ikut serta dalam mendirikan Jamiatul Washliyah sebuah
organisasi pendidikan dan sosial di Sumatera Utara.
Diniyah School didirikan di Botung
Kotanopan tahun 1928 oleh sarjana Batak lainnya, Haji Fakhruddin Arif.
Berikutnya berdiri Madrasah Islamiyah di Manambin Kotanopan tahun 1928
oleh Tuan Guru Hasanuddin.
1929
Madrasah Subulussalam berdiri di Sayur
Maincat Kotanopan pada tahun 1929 oleh Haji Muhammad Ilyas. Berikutnya
Madrasah Syariful Majalis di Singengu Kotanopan pada tahun 1929 oleh
Haji Nurdin Umar. Di Hutanamale, Maga, Kotanopan Syeikh Juneid Thala
mendirikan sebuah Madrasah Islamiyah pada tahun yang sama.
1930
Orang-orang Batak mendirikan Jamiatul
Washliyah pada tanggal 30 November 1930. Sebuah organisasi yang
bertujuan untuk mengembangkan agama dalam arti yang luas. Organisasi ini
memakai mazhab syafii.
Nama Jamiatul Washliyah berarti
perkumpulan yang hendak menghubungkan. Menurut Muhammad Junus, tokoh
paling penting dalam organisasi ini, nama Jamiatul Washliyah dihubungkan
dengan keinginnan untuk menghubungkan manusia dengan Tuhannya,
menghubungkan antar sesame manusia, menghubungkan suku dengan suku
antara bangsa dengan bangsa dan lain sebagainya. Lihat “Peringatan Al
Djamiatul Washliyah 1/4 abad” hal 41-42; Nukman Sulaiman dalam Al
Washliyah I, hal. 5.
Tiga tokoh penting dalam organisasi Al
Washliyah adalah Abdurrahman Syihab, seorang organisatoris yang dapat
menghimpun khalayak ramai, Udin Syamsuddin, seorang yang ahli
administrasi dan Arsyad Thalib Lubis, mufti organisasi.
1933
Pembentukan komisi yang bertugas
mengadakan inspeksi ke sekolah-sekolah Alwashliyah untuk standarisasi
mutu. Didirikan juga sebuah lembaga pendidikan yang besar di Tapanuli
Selatan.
1934
Penyusunan peraturan yang mengatur hubungan antar sekolah di Alwashliyah
1935
Pada tahun ini Madrasah Mardiyatul
Islamiyah didirikan di Penyabungan oleh Syeikh Ja’far Abdul Qadir.
Sebelumnya, sejak tahun 1929, madrasah ini dikenal dengan nama madrasah
mesjid karena kegiatan pendidikannya dilakukan di sekitar sebuah mesjid
sebelum dimodifikasi menjadi sistem madrasah.
1936
Orang-orang Batak mendirikan Fond atau Yayasan untuk mengirimkan beberapa generasinya, khususnya yang di Alwashliyah, ke Mesir
1937
Jamiatul Washliyah memberikan perhatian
khusus pada pemahaman Islam khusunya mereka yang belum beragama. Di
Porsea didirikan HIS untuk mereka yang membutuhkan pendidikan. Melalui
lembaga “Zending Islam” perkumpulan ini berinisiatif untuk berdakwah ke
seluruh Indonesia.
1940
Modernisasi pendidikan Islam Batak,
khususnya yang di Alwashliyah dengan menyusun peraturan pusat untuk
mengadakan ujian dan pemberian ijazah yang dikeluarkan kantor pusat di
medan.
1945
Tanah Batak merupakan bagian dari Indonesia merdeka
Tanah Batak merupakan bagian dari Indonesia merdeka
Sumber : "http://nababan.wordpress.com/2011/08/04/sejarah-batak-secara-kronologis/"
0 komentar:
Post a Comment