headline photo
Showing posts with label Adat Istiadat. Show all posts
Showing posts with label Adat Istiadat. Show all posts

Gereja dan Kebudayaan

Thursday, 15 January 2015

I. Definisi Budaya.
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbada budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.
Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.
Beberapa alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain terlihat dalam definisi budaya: Budaya adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya sendiri.”Citra yang memaksa” itu mengambil bentuk-bentuk berbeda dalam berbagai budaya seperti “individualisme kasar” di Amerika, “keselarasan individu dengan alam” d Jepang dan “kepatuhan kolektif” di Cina. Citra budaya yang brsifat memaksa tersebut membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan dunia makna dan nilai logis yang dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka.
Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain.


II. Pengertian Kebudayaan.
Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.
Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.
Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.
Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memPengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.




III. Ciri-ciri Kebudayaan.
Ciri-ciri khas kebudayaan adalah:
A.    Bersifat historis. Manusia membuat sejarah yang bergerak dinamis dan selalu maju yang diwariskan secara turun temurun;
B.     Bersifat geografis. Kebudayaan manusia tidak selalu berjalan seragam, ada yang berkembang pesat dan ada yang lamban, dan ada pula yang mandeg (stagnan) yang nyaris berhenti kemajuannya. Dalam interaksi dengan lingkungan, kebudayaan kemudian berkembang pada komunitas tertentu, dan lalu meluas dalam kesukuan dan kebangsaan/ras. Kemudian kebudayaan itu meluas dan mencakup wilayah/regiona, dan makin meluas dengan belahan-bumi. Puncaknya adalah kebudayaan kosmo (duniawi) dalam era informasi dimana terjadi saling melebur dan berinteraksinya kebudayaan-kebudayaan;
C.     Bersifat perwujudan nilai-nilai tertentu. Dalam perjalanan kebudayaan, manusia selalu berusaha melampaui (batas) keterbatasannya. Di sinilah manusia terbentur pada nilai, nilai yang mana, dan seberapa jauh nilai itu bisa dikembangkan? Sampai batas mana?
IV. Hubungan Antara Gereja dan Kebudayaan.
Dalam sejarah gereja, hubungan antara gereja dan budaya telah mendapat perhatian sejak awal sampai sekarang. Walaupun demikian, hubungan itu tidak berlangsung cuma dalam satu model melainkan beranekaragam, tergantung pada sejauhmana kita memahami apa itu gereja dan apa itu budaya.
Menurut H.Richard Niebuhr, jika kita mencermati sejarah gereja (khususnya di Eropa dan Amerika sampai pasca perang dunia kedua) maka ada sejumlah model/pola hubungan gereja dan budaya yang bertolak dari bagaimana memahami hubungan gereja/Kristus dan keabudayaan,  sebagai berikut  :



a. Kristus bertentangan dengan kebudayaan (Christ against Culture).
Dalam sikap ini orang kristen menentang kebudayaan, gereja tidak mau tahu terhadap kebudayaan, sebab kebudayaan dianggap hanya membawa pengaruh negatif bagi kekristenan dan gereja.
b. Kristus dari kebudayaan (Christ of Culture).
Sikap ini berkeyakinan bahwa Kristuslah yang memiliki kebudayaan. Oleh karena itu orang beriman harus berusaha menyesuaikan diri (toleran) dengan kebudayaan.
c. Kristus di atas kebudayaan (Christ above Culture).
Dalam pemahaman seperti ini, Kristus dipandang sebagai yang menggenapi/menyempurnakan kebudayaan. Namun Ia berbeda sama sekali dengan kebudayaan. Karena itu orang kristen, gereja harus menghargai kebudayaan.
d. Kristus dan kebudayaan dalam paradoks (Christ and Culture in paradox).
Sikap ini berkeyakinan bahwa orang kristen, gereja hidup dalam dua “dunia” yang berbeda secara asasi tetapi tidak dapat dipisahkan. Pada satu pihak orang kristen, gereja hidup dalam Kerajaan Allah, namun pada pihak lain ia hidup dalam “kebudayaan” masyarakat di mana dia ada.
e. Kristus pembaharu kebudayaan (Christ transforming Culture).
Apa yang dikemukakan Niebuhr di atas dalam tempo yang lama (bahkan sampai saat ini) masih berpengaruh ketika berbicara tentang hubungan gereja dan kebudayaan, walaupun untuk kepentingan masakini mesti dikritisi dengan bijak sebab konteks telah berubah dan perkembangan pemikiran-pemikiran teologis juga terus terjadi dan berkembang.

V. Sikap Iman Kristen Terhadap Kebudayaan.
Ada 5 macam sikap umat Kristien terhadap kebudayaan, yakni:
1.Antagonistis atau oposisi
Sikap antagonistis atau oposisi terhadap kebudayaan ialah sikap yang melihat pertentangan yang tidak terdamaikan antara agama Kristen dan kebudayaan.Sebab akibatnya, sikap ini menolak dan menyingkirkan kebudayaan pada semua ungkapannya. Gereja dan umat beriman memang harus berkata tidak atau menolak ungkapan kebudayaan tertentu, yakni kebudayaan yang ; 1. MenghinaTuhan 2. Menyembah berhala dan 3. Yang merusak kemanusiaan.
2. Akomodasi atau persetujuan
Kebalikan dari sikap antagonis adalah mengakomodasi, menyetujui atau menyesuaikan diri dengan kebudayaan yang ada. Terjadilah sinkritisme. Salah satu sikap demikian ditujukan untuk membawa orang pada cara berfikir, cara hidup dan berkomunikasi atau berhubungan dengan orang lain sedemikian rupa sehingga seolah-olah semua agama sama saja.
3. Dominasi atau sintesis
Dalam gereja yang mendasari ajarannya pada teologi Thomas Aquinas. Ia menganggap bahwa sekalipun kejatuhan manusia kedalam dosa telah membuatcitra ilahinya merosot pada dasarnya manusia tidak jatuh total, manusia masihmemiliki kehendak bebas yang mandiri. Itulah sebabnya didalam menghadapi kebudayaan kafir sekalipun, umat bias melakukan akomodasi secara penuh dan menjadikan kebudayaan kafir itu sebagai bagian imam, namun kebudayaan itu disempurnakan dan disucikan oleh sakramen yang menjadi anugrah Ilahi.
4. Dualisme atau pengutuban
            Yang dimaksud dengan sikap dualistis atau pengutuban terhadap kebudayaan ialah pendirian yang hendak memisahakan iman dari kebudayaan ialah ; terdapatpada kehidupan kaum beriman kepercayaan kepada karya Allah kepada TuhanYesus Kristus, namun manusia tetap berdiri didalam kebudayaan kafir. Peran penebusan Tuhan Yesus yang mengubah hati manusia berdosa menjadi manusia yang hidup didalam iman tidak lagi berarti menghadapi kebudayaan.
5.Pengudusan atau pertobatan
Sikap pengudusan adalah sikap yang tidak menolak, namun tidak juga menerima, tetapi sikap keyakinan yang teguh bahwa kejatuhan manusia kedalam dosa tidak menghilangkan kasih Allah atas manusia. Manusia dapat menerima kebudayaan selama hasil hasil itu memuliakan Allah, tidak menyembah berhala, mengasihi sesama dan kemanusiaan. Sebaliknya, bila kebudayaan itu memenuhi salah satu atau keempat sikap budaya yang salah satu itu, umat beriman harus menggunakan firman Tuhan untuk menguduskan kebudayaan itu, sehingga terjadi transformasi budaya kearah budaya yang, memuliakan Allah.

Asal Mula TUAK

Thursday, 8 May 2014

(Artikel ini sudah diterbitkan pada edisi sebelumnya. Namun karena adanya instruksi untuk          menutup Lapo Tuak di Tapanuli Utara, atas permintaan sejumlah pembaca, artikel ini diterbikan kembali. Redaksi) 

Dari sekian banyak legende atau cerita rakyat Batak Toba, salah satu diantaranya yang cukup menarik adalah cerita tentang asal muasal minuman "tuak bagot", yakni tuak yang bersumber dari pohon enau. Tulisan ini diterjemahkan/disunting dari tulisan Friemar di surat kabar keliling Imanuel tanggal 19 November 1919. Mungkin ada manfaatnya di dongengkan untuk pengantar anak menjelang tidur.

Menurut cerita, tuak bagot lebih dulu ada dari tuak kelapa. Rasanya pun tidaklah sama. Kalau tuak kelapa rasanya lebih manis dan kadar alkoholnya lebih tinggi dibanding tuak bagot. Sedang tuak bagot bagot rasanya agak asam, kadar alkoholnya lebih rendah. Kebanyakan kedai tuak lebih suka menjual tuak bagot, karena peminatnya juga lebih banyak. Selain itu tuak bagot juga dianggap mujur untuk memperlancar air susu ibu yang baru melahirkan. Itu sebabnya ibu yang baru melahirkan terutama di desa selalu dianjurkan minum tuak, agar "tarusnya" deras sehingga bayinya tidak merasa kekurangan minum.

Mungkin pula bisa dipercaya bisa tidak, hal itu ada hubungannya dengan kisah terjadinya tuak bagot, konon bermula dari airmata seorang gadis rupawan yang mengorbankan dirinya menjelma menjadi sebatang pohon enau (bagot) untuk membebaskan ayahnya dari belenggu hutang. Syahdan, dahulu kala di sebuah perkampungan di pinggiran Danau Toba tersebutlah seorang anak lelaki tua hidup berdua dengan anak gadisnya yang berwajah rupawan (cantik). Lelaki tua itu bernama Jalotua, dan anak gadisnya bernama Pitta Bargot Nauli. Ada pun Jalotua sudah lama menduda sejak kematian isterinya tatkala Pitta Bargot berusia dua tahun. Hidup mereka sangatlah sengsara karena kemiskinan. Kalaupun mereka mengusahai secuil tanah, itu hanya dapat menghidupi mereka untuk jangka waktu tidak lama.



Kesusahan bagi Jalotua dan anak gadisnya datang silih berganti. Apalagi ketika suatu ketika si Pitta Bargot jatuh sakit, bertambahlah kesusahan hati lelaki itu. sudah hidup sulit, datang lagi penyakit menimpa anak tercinta. Pikir punya pikir, akhirnya Jalotua pergi menjumpai orang kaya di kampung itu minta pinjaman uang untuk biaya mengobati anaknya. Tentu saja Jalotua tidak mempunyai borg (jaminan) kecuali sebidang tanah yang mereka usahai selama ini.



Suatu malam, Pitta Bargot berkata pada ayahnya: "Hidup kita terus menerus susah. Aku pikir kita perlu mengadakan suatu acara margondang sambil berdoa kepada Mulajadi Nabolon, siapa tahu nasib kita bisa berobah".

Tapi ayahnya menjawab: "Bagaimanalah mungkin itu boru, biaya untuk margondang itu cukup besar, apa daya kita. Kalau kita mau pinjam uang pun apa jaminannya nanti, sedang untuk makan pun kita sulit".



Mendengar ucapan ayahnya itu, Pitta Bargot berkata : "Kalau itu persoalannya, aku bersedia amang berikan sebagai jaminan. Mungkin orang kaya itu mau memberikan uangnya kita pinjam. Mulanya Jalotua tak tega menuruti usul putrinya itu, tapi karena Pitta Bargot mendesak, akhirnya jadi juga anak gadisnya itu ditawarkan kepada orang kaya itu untuk dijadikan "barang" jaminan.



Kemudian berangkatlah keduanya ke rumah orang kaya tersebut. Setelah hal itu diberitahu, si orang kaya ternyata setuju memberikan pinjaman dengan Pitta Bargot sebagai jaminan. Orang kaya itu berpikir, kalau pun nanti Jalotua tidak mampu mengembalikan uang pinjamannya maka sesuai dengan perjanjian, si Pitta Bargot yang cantik itu jadi miliknya dan nanti bisa dijadikan istri kelima. Setelah uang itu diberikan kepada Jalotua,maka Pitta Bargot pun tinggallah sementara di rumah orang kaya itu.



Berangkatlah si Jalotua membawa uang pinjamannya, mencari pargonsi (grup gondang sabangunan) sesuai saran anak gadisnya. Setelah pemusik gondang sudah ditemukan, dan hari pelaksanaannya ditentukan, si Jalotua pun menjumpai anak gadisnya di rumah si orang kaya memberitahu rencana tersebut. 



Pitta Bargot kemudian menjumpai si orang kaya meminta izin agar diperkenankan ikut dalam pesta gondang pada hari yang ditentukan ayahnya. Tapi Pitta Bargot juga bertanya : "Bagaimanakah sekiranya penyakitku kambuh saat pesta berlangsung, lalu aku mati di sana, apakah kami juga membayar hutang yang dipinjam damang?".

Si orang kaya menjawab : "Baiklah, kau boleh pergi menghadiri pesta itu. tapi setelah pesta selesai, kembalilah ke sini. Tentang kematian yang kau sebut, itu adalah takdir setiap manusia kalau sudah waktunya. Kalau memang kau meninggal saat pesta gondang itu, ayahmu tak perlu membayar hutang-hutangnya".



Pitta Bargot lalu menceritakan hal itu pada ayahnya. Tapi dalam hatinya sudah ada pikiran tertentu, bahwa orang kaya itu ingin memiliki menjadi istri. Pitta Bargot tidak percaya dengan ucapan orang kaya itu. Dia juga kasihan ayahnya tak sanggup membayar hutangnya setelah pesta selesai. Pitta Bargot pun martonggo (memohon) kepada Mulajadi Na Bolon agar ia dijadikan menjadi sesuatu yang nantinya bisa membebaskan ayahnya dari kesusahan. Saat itu Pitta Bargot telah merasakan bahwa keinginannya akan dikabulkan, sesuai dengan mimpinya. Berkatalah Pitta Bargot kepada ayahnya : "Amang, janganlah bersedih bila ini kukatakan. Kalau aku mati nanti di pesta gondang itu, itu adalah berkat bagi kehidupan dan kebahagiaanmu. Tapi ingatlah amang, setelah aku mati, janganlah mayatku dikubur, karena aku nanti akan berubah menjadi sebatang pohon yang tumbuh di atas tanah yang bisa amang saksikan sepanjang masa. Kalau amang membuat rumah nanti, ambillah rambutku menjadi atapnya, dan tanganku bisa dijadikan tiang-tiang dan urur. Kalau badanku, amang ambillah untuk papan lantai atau dinding. Dan kalau amang tak punya uang, pukulilah bagian mataku, agar air mataku keluar. Tampunglah airmata itu, karena nanti itu bisa dijual menjadi minuman yang disukai banyak orang".



Mendengar hal itu, ayahnya sangat sedih. Pendek cerita gondang pun diadakan di halaman rumahnya. Saat pesta sudah berlangsung dan musik gondang terdengar tiga putaran, si Pitta Bargot mendadak kesurupan. Saat gondang dibunyikan untuk ke tujuh kalinya, Pita Bargot kejang-kejang, dan tak lama kemudian kedua kakinya melesak ke dalam tanah. Yang lebih menggemparkan, sekonyong-konyong seluruh tubuhnya berubah sedikit demi sedikit menjadi sebatang pohon yang makin lama makin besar, lengkap dengan daun-daun sebagaimana halnya sebatang pohon hidup. Seluruh hadirin yang ada di pesta itu terkejut dan berhamburan kesana-kemari, karena peristiwa seperti itu belum pernah terjadi.



Sejak itu pohon itu diberi nama "bagot", yang diambil dari nama Pitta Bargot. Pohon itu berurat ke bawah, berdaun ke atas. Lama-lama tumbuh pula "mata" pohon yang disebut juga arirang. Setelah tiba saatnya Jalotua memukuli bagian mata pohon itu seperti dipesankan putrinya. Air yang keluar deras dari air mata bagot itu kemudian dinamakan tuak. Sejak itu Jalotua menjualnya kepada orang-orang sekampung, yang lama kelamaan menyebar ke berbagai penjuru. Pohon bagot itu pun beranak pinak, tumbuh di berbagai tempat, dan memberi kehidupan pula bagi orang lain.



Kemudian Jalotua pun mendirikan rumahnya. Semua perlengkapan untuk rumah tak ada yang dibeli, tapi dimanfaatkan dari pohon bagot seperti pesan Pitta bargot. Mulai dari ijuk, batang, sampai lidi menjadi benda yang bermanfaat untuk manusia.

Bahasa Batak Toba

Bahasa Batak Toba hingga kini masih merupakan alat komunikasi sehari-hari antar warga masyarakat penuturnya. Orang Batak Toba akan lebih mantap menyampaikan perasaan hatinya jika menggunakan bahasa Batak, entah itu ditujukan kepada diri sendiri atau kepada orang lain.
Dalam dialognya, mereka sering tidak menyadari kalau banyak sekali ungkapan-ungkapan yang disampaikan itu merupakan partikel fatis. Selain untuk menyatakan perasaan penuturnya, ungkapan-ungkapan fatis ini juga dipakai untuk menjalin hubungan antarpenutur dan lawan tuturnya. Jalinan komunikasi tersebut dapat berupa ucapan salam, mengakrabkan hubungan, dan dapat sebagai basa-basi pergaulan.
Di samping itu, sebagai alat komunikasi verbal, ungkapan fatis pada dasarnya lebih merupakan sebuah ekpresi kemaknaan yang hadir dalam bahasa lisan. Artinya, makna sebuah ungkapan fatis dapat dipahami secara tepat jika ungkapan fatis tersebut disampaikan secara lisan, bukan dituliskan. Dalam fungsinya sebagai alat komunikasi fatis sangat dominan digunakan.

A. Partikel ai
Partikel ai digunakan pada awal ujaran. Partikel ini.
1) mengungkapkan keragu-raguan atau ketidakpastian terhadap apa yang diungkapkan
oleh kawan bicara atau yang tersebut dalam kalimat sebelumnya, misalnya
“Ai so binoto sipata pangalaho ni begu, rajanami! ” ninna datu i mangalusi,


‘Kadang-kadang kita tidak mengerti sih sifat setan, tuan raja!’ ujar dukun itu menjawab


“Ai adong do sipata boru ni raja, na so pola mamereng hamoraon!”
‘Kadang-kadang ada juga kok putri raja yang tidak memandang kepada kekayaan’
“Ai hea do tarsonggot iba mamereng dongan jolma”
‘ Ah masak terkejut sih melihat sesama manusia’


Pembuka kalimat tanya Contoh:
a. “Ai laho tu dia hamu ?
‘Kemana sih, Pak?’
b. “Ai aha do Hasian?”
‘Ada apa sih, Sayang?’
c. “Ai apala aha huroha Lae na ringkot silangkahononmu tu Barus”
‘Ada apa sih Lae, kok penting sekali harus ke Barus?’
d. “Ai boasa songon na tarsonggot hamu Lae?”
‘Mengapa kok seperti terkejut Lae?’


Pengganti kata tanya dalam bentuk hormat
misalnya,
a. “Ai boru aha do hamu Inang ? “
‘ Marga apa sih Ibu?’
b. “Ai na boha do huroha anakta i ?, ninna amanta Siahaan i manulingkiti asa tung
takkas aha na di bagasan roha ni inanta”
” Kenapa sih rupanya anak kita itu Ibu?, tanya Pak Siahaan untuk memperjelas apa
yang ada di hati ibu itu’.
c. “Ai apala aha huroha, Lae, na ringkot silangkahononmu tu Barus?”
‘Ada apa sih gerangan yang sangat penting yang hendak Lae jalani ke Barus?’


“Ai mempunyai makna “sebab” dan ‘karena”, misalnya,
a. “… ai au pe Inang na ditonahon anakta do umbahen borhat au manjumpangi ibana asa dohot ninna au mandohoti asara wisudana i”.
‘… aku juga karena dipesan anak kita kok berangkat untuk menemui dia supaya turut menghadiri acara wisudanya’.
b. “Alai nang pe sangon i, ndang dung dope adong pangisi ni Lobu Sotartaban na mate dibahen babiat; ai tuk do tutu panganonna di tombak i, i ma angka aili, ursa dohot angka na asing i”
‘Namun walaupun demikian, belum pernah ada satu orang pun penghuni Lobu Sotartaban itu yang mati oleh harimau, karena, makanannya cukup banyak kok tersedia di hutan itu, yaitu babi hutan, rusa dan yang lainnya’


======================================================================


B. Partikel E
Partikel E ini digunakan pada awal dan tengah ujaran.
untuk menarik perhatian
a. Supaya dapat menerima kenyataan, misalnya,
“E borunghu, ba dia ma sidokhonon nunga songon i partubuan ni daging dibahen Ompunta Mula Jadi Na Bolon sitaonon di”
‘Yah, begitulah putriku, kita tidak dapat melawan takdir yang sudah ditetapkan oleh
Ompu Mula Jadi Nabolon, kita harus menerimanya’.
“E, ima da, Anggia”
‘Yah, begitulah Dek’


b. supaya tidak dipaksa untuk melakukan sesuatu, misalnya,
“E, boru Tumbaga borungku, sai dijujui ho ahu, ito, tu pangolian nunga tangkas songon na binerengmu, ia uban nunga saksak di simanjunjung, pamerengan nunga lam tu hurangna, boru ni ise be, ito, na olo tu ahu, nunga roha nama disi”
‘Yah, putriku Tumbaga, putriku, kamu selalu mengingatkanku, ayahmu, untuk menikah lagi padahal sudah jelas kamu lihat rambut di kepalaku sudah semua menjadi uban, penglihatanku pun sudah berkurang, Putri siapa lagi sih yang mau kepadaku, yah sudah deh biarkan saja begitu’


c. mengingatkan karena ada sesuatu hal yang aneh, misalnya,
‘Mabiar, mabiar? E, songon na adong do tarbereng ahu disi opat matana bollangbollang, ganjang-ganjang, obukna”
‘Takut, takut, yah, sepertinya di situ terlihatku ada empat mata yang melototlotot, rambutnya panjang-panjang’


d. supaya dikasihani, misalnya,
“E, da rajanami tung asi nirohamu ma, rajanami, mamereng hami na dua”
‘Yah tuan raja, kami hanya memohon belas kasihan raja pada kami berdua’


Untuk memanggil seseorang hendak
a. mengingatkan supaya tahu bersopan santun
“E Damang, pintor naeng lintun do hamu, ia tung hata mauliate nian ndang dokhononmu tu hami”


‘Eh Pak, kok langsung mau pulang saja, sebaiknya berpamitan dan berterima kasih dulu dong pada kami’.


b. menanyakan perihal sesuatu karena tidak puas,
“E, lapo aha do on?,”
‘Hei, warung apa sih ini?’


c. menanyakan sesuatu dalam rangka menyelidik,
“E, parlapo jot jot du ro tu lapoon parjuji ?”
‘Hei, pemilik warung, sering enggak sih pejudi-pejudi datang ke warung ini?’


Untuk mengingatkan,
a. supaya insaf atau sadar,
“E da rajanami, tung na mora pe rajanami, anggo so adong hape anakna tung so adong do lapatan ni hamoraon i, rajanami”.
‘Yah, tuan raja ternyata biar pun orang kaya, kalau tidak memiliki anak, tetap juga kok kekayaan itu tidak berarti apa-apa’.


b. tentang sesuatu yang tidak dapat disesali lagi karena sudah berlalu,
“E… Inang, gabe asido rohani / si Takkas marnida Inana namatua i naso adong sikkolana na i”.
‘Aduhai Bunda’, hati Takkas menjadi terenyuh melihat ibunya yang sudah lanjut usia dan tidak berpendidikan itu’.


c. yang berupa ancaman,
“E, hatami na dirimpu ho do siseat lomok-lomok piso on, huboan pe piso on na laho manjungkit mata ni jolma do dohot mamuntarhon butuha ni jolma asa botoonmu”.
‘Heh, ucapanmu itu, emang kamu pikir pisau ini untuk memotong anak babi, pisau ini kubawa untuk mencongkel mata manusia kok dan juga untuk mengeluarkan isi perutnya, supaya kamu tahu’.


d. dalam bentuk teguran,
“E, babami lak so di boto ho do manghatai”.
‘Eh, mulutmu kok kamu tidak tahu bicara sih’.


C. Partikel Da
Partikel da digunakan untuk
menggantikan kata tanya, misalnya
a. “Sian do ho da, anak ni Namboru?”
‘Dari mana sih pariban?’


b. “Da, ho do boru sihahaan ni aman ta”.
‘Bukankah kamu putri pertama dari Bapak?’


Menyatakan ya atau begitulah, ditaruh pada akhir kalimat, misalnya
a. “Songon on ma, Among, molo ingkon lao ma hamu unang pola laosi hamu parit ni hutanan i, da”
‘Baiklah Pak, kalau Bapak harus juga berangkat sebaiknya tidak melintasi tembok kampung itu deh ya’


b. “Olo, ito, jai lao jo ahu, ito, da!”
‘Ya nak, jadi aku pergi dulu ya!’


Awalan untuk menyatakan hormat dalam istilah kekerabatan, misalnya
a. “Sabarma Damang pabulus ma roham digonggom tondinghi do ho sarimatua”
‘ Sabar deh Nanda, luruskanlah hatimu, doaku akan senantiasa menyertaimu hingga masa tuamu’.


b. “Didia do, Damang, da parsinuan, oooiii! Taonon ma hope nian Amonghu na rapar so minum, rapar so mangan, o. o. o,. taonon ma hape nian Among na marlage-lage tano on”
‘Di manakah gerangan Ayahanda, Bapak, o0o iii!, haruskah aku mengalami lapar karena tidak minum dan lapar tidak makan, harus jugakah aku mengalami bertikarkan tanah’.


c. “Angkang boru ma disungkun Dahahang annon!” ninna si Martunas Panahatan”
‘Tanya saja deh nanti pada Kanda putri, Kanda! ujar si Martunas Panahatan’


=============================================================================


D. Partikel Ma
Partikel ma digunakan untuk
Menekankan kalimat imperaktif, dan penguat sebutan dalam kalimat
a. “Borhat ma hamu”
‘Silakan berangkat’
b. “Beta ma, anggia, nanggo apala i laba ni hita na marama”
‘Marilah dek, supaya ada buktinya bahwa kita mempunyai bapak’


Menyatakan maka dalam kalimat pasif
… gabe tarhatotong ma nasida umbegesa’
‘Maka tertegunlah mereka mendengarnya’.
Menekankan maksud, misalnya
a. “Ba, tu jabu ma hamu’
‘Mari, silakan ke rumah dulu’.
b. “Songon on do, Among, di jabu ma hamu, asa lao hami tu balian da! “
‘Begini, Bapak di rumah saja deh ya, supaya kami ke sawah ya’.


Menyatakan yang akan terjadi, misalnya
a. “Tangkoon ni halak ma annon mobilmon”
‘Dicuri orang deh nanti mobilmu itu’.
b. “Haraton ni biang ma annon sipatu on anggo peak peak di duru”
‘Sepatu ini akan digigit anjing kalau terletak di luar’.


============================================================================


E. Partikel Ba
Partikel ba digunakan untuk,
Menyatakan keheranan, misalnya
a. “Ba ai ho do i Ompu Guasa, “
‘Eh, ternyata kamu rupanya Ompung Guasa!’


b. “Ba ai hatop ma hamu, Hahang, mulak! “
‘Kok, cepat sekali sih pulangnya Kak’


sebagai partikel dalam kalimat larangan, misalnya
a. ” Unang songoni ba”
‘Jangan begitu dong’.


b. “Sotung ditadinghon ho ibana ba”.
‘Awas deh jangan sampai kamu tinggalkan dia’.


Menarik perhatian, misalnya
a. “Ba boasa pola marhoi ho anak ni namboru mangalusi ahu; adong angka na maol sihataan”.
‘Wah, kok susah-susah sih menjawab pertanyaanku Pariban, adakah hal-hal yang pelik untuk dibicarakan?’.
Menyatakan sikap mengalah, misalnya
b. “Ba, na uli”.
‘ Yah, kalau begitu, baiklah’
c. “Ba, molo halak i mangalusi ba halak i ma di si, anggo ahu ndang dohot di si”
‘Ya baiklah, kalau orang itu yang menjawab ya sudah terserah mereka, kalau aku, aku tidak ikut di situ’.


Bentuk fatis horas ini dapat digunakan dalam berbagai situasi. Ucapan salam dalam pertemuan, perjumpaan, sebagai pemberkatan atau sebagai doa. Makna yang dikandungnya antara lain, kuat, tetap teguh, keras, hidup, selamat serta sejahtera, sehat, bahagia, lahir dan batin, serta dirgahayu. Penggunaannya dapat menimbulkan suasana keakraban, kedamaian dan sekaligus harapan serta ucapan selamat bagi orang yang
disapa, sambil biasanya menyalami dengan genggaman erat tangan orang yang diucapi salam, horas, misalnya


a. “Sai horas ma raja i!”
‘Semoga raja selalu selamat sejahtera!’
b. “Horas ma hita on sude! Horas!”
“Semoga kita semua selamat! Selamat!
c. “Sinur ma na pinahan Gabe ma na niula,
“Horas-horas hita sudena “
‘Berkembangbiaklah seluruh ternak peliharaan Berhasil segala pekerjaan dan selamat sejahtera kita semua.’
Ini merupakan bentuk ucapan berkat di dalam Batak Toba.


=============================================================================


Penggunaan Atik na; Atik beha; Ating tung; Atik pe


Paduan fatis atik na, atik beha, atik tung ini digunakan umumnya di tengah ujaran.
Pemakaian paduan fatis atik bervariasi dengan atek; aik; aek. Fatis atik na bermakna ‘janganjangan’ (yang mengungkapkan keragu-raguan), atik beha; atik tung ‘kalau-kalau’, atik pe ‘ walaupun’ .


1) “Laos so mulak dope ibana ndi, atik na lilu do i”.
‘Kok dia belum pulang juga, jangan-jangan dia keliru’.


2) “Mangalompa ma hamu atik beha tibu Amanta mulak sian kantor”.
‘Masak dulu deh siapa tahu Bapak cepat pulang dari kantor’.


3) “Hatop maho borhat da atik beha ro udan, sotung gabe tarhalang annon ho ro”
‘Cepat deh berangkat siapa tahu turun hujan, nanti kamu jadi terhalang datang’.


Daga! horas-ma
Paduan fatis ini digunakan pada awal ujaran, yang maknanya menyatakan keragu-raguan, keheranan, wahai, aduh, waduh. Sedangkan fungsinya untuk mengukuhkan pembicaraan, misalnya


1) “Daga songon i ma hape hata-hata na”
‘Waduh begitulah rupanya cemohannya’


2) “Daga! Horas ma, amangboru, horas”
‘Wahai! selamat deh amang boru, selamat’


I ma da tutu
Frase fatis ini digunakan pada awal atau di tengah-tengah ujaran, yang maknanya menekankan pujian sedangkan fungsinya mengukuhkan pembicaraan, misalnya


1. “Ima da tutu! ” ninna amana i; “ndang adong tutu asingna idaon anggo di rumang parduru ……..
‘Ya juga sih!’ sahut Bapak itu; ‘dari luar tampaknya sama sekali tidak ada perbedaan….’


2. “I ma da tutu, sintong do i!” ninna datu i; dung i rap mengkel ma nasida, ai na maraleale do nasida
‘Ya begitulah, benar kok itu!” ujar dukun itu; kemudian serentak mereka tertawa, karena mereka memang bersahabat’.


3. “I ma da tutu!” ninna amana i; “ndang adong tutu asing na idaon anggo di rumang pardudu, alai ganup laho mamangke hujur pusaho on ingkon jolo hundul do iba marhaombang sila, jala tiopon ma gomos, jala simanjujung dompak jolo, dais tu hujur i, ‘Yah, benar juga sih’, ujar ayahnya itu; ‘dari luar sih tidak ada sama sekali terlihat perbedaannya’, tetapi sebelum menggunakan tombak pusaka itu kita harus lebih dulu
duduk bersila sembari memegangnya kuat-kuat dan kepala bagian depan menyentuh tombak itu.


Na uli
Frase fatis ini digunakan pada awal tengah dan akhir ujaran yang maknanya menekankan pujian yang menyatakan penghargaan atau persetujuan atas ucapan orang lain, ‘baiklah!, setuju’, sedangkan fungsinya untuk mengukuhkan pembicaraan, misalnya


1. “Na uli, Among, saonnari pe, Among, laope ahu, Among, tu huta Barus mangalapi Datu Partungkot Bosi
‘Baik deh Pak, sekarang juga aku akan pergi ke kampung Barus menjemput Dukun si tongkat besi…’


2. “Ba, na uli! “
‘Ya, baiklah!’


3. “Na uli, anggia, ba, didok rohangku tapungka ma, Martangi-tangian ma hita da, rajanami! “
‘Baiklah dek, menurutku kita mula saja pembicaraan ini. Baiklah kita saling memperhatikan dan mendengarkan Tuan Raja’.


Horas ma
Frase dengan horas ma dipergunakan untuk memulai dan mengakhiri interaksi antara pembicara dan kawan bicara sesuai dengan keperluan dan situasinya, misalnya
1. “Horas ma, Among!”
‘Salam sejahtera, Bapak’


2. “Ba, horas ma! songon na hatop ma ho Ito, ro! “
‘Yah, selamat deh, kok sepertinya kamu lebih awal datangnya ito dari biasa?’


3. “Ba, horas ma, rajanami!”
‘Selamatlah, ya tuan!’


I do
Frasa fatis ini digunakan pada awal ujaran dan tengah ujaran yang maknanya menekankan pujian dan membenarkan pernyataan, fungsinya mengulang pembicaraan, misalnya
1. “I do, i do, i do sasintongna”
‘Ya begitu, begitu, begitu deh yang sebenarnya’


2. “1 do tahe, i do, i do, toho do i!”
‘Ya begitu deh, begitu, begitu itu, benar deh begitu!’


Bahen ma nian
Frasa bahen ma nian digunakan pada awal ujaran yang maknanya menekankan pujian dan berfungsi mengukuhkan pembicaraan, misalnya


1. “Bahen ma nian, datunami, sai sahat ma”
‘Yah gitu deh Datu, semoga deh tercapai’


2. “Bahen ma nian, asalma adong allangon siganup ari”
‘Ya gitu deh, pokoknya cukup untuk makan sehari-hari’


3. “Bahen ma nian, marsiajar do pe i bana, ndang diboto do pe mangalului hepeng”
‘Yah gitu deh, dia masih belajar kok, belum pintar mencari uang’


Ba mauliate da
Frasa ba mauliate da digunakan pada awal ujaran atau akhir ujaran yang maknanya menekan rasa syukur dan terima kasih, dan fungsi meneguhkan pembicaraan, misalnya
1. … “ba mauliate da, datu nami”
‘yah terima kasihlah ya, datuk’


2. … “Ba mauliate ma da, nunga huida tutu!”ninna raja i; dung i mulak ma ibana tu jabuna.
‘Yah terima kasihlah ya, aku sungguh sudah melihatnya!’ ujar raja itu; setelah itu dia kembali ke rumahnya’


3. “Ba mauliate ma da di ho, ingot ma hatangki!” ninna ina ni pidong rungkisa i.
‘Yah terima kasih deh buat kamu ya, ingatlah pesanku itu!’ ujar induk burung rungkisa itu.


I ma tutu
Frase fatis ini digunakan pada awal atau di tengah-tengah ujaran, yang maknanya menekankan pujian, membenarkan, sedangkan fungsinya mengukuhkan pembicaraan, misalnya
1. “I ma tutu, boru Datulang! ” ninna Partiang Nabulus
‘Ya begitu deh kekasihku!’ ujar Partiang Nabulus


2. “Olo Boru ni Datulang, sai songon i ma tutu? “ninna si Partiang Nabulus; dung i mijur ma ibana tu toru, laho mandapothon angka donganna.
‘Ya kekasihku, semoga deh seperti itu!’ ujar si Partiang Nabulus, kemudian ia
beranjak turun, menjumpai teman-temannya.


3. “1 ma tutu!” ninna natorop i di bagasan las ni roha.
‘Begitu deh sebenarnya!’ ujar orang banyak itu dengan sukacita


Tutu do i nian
Klausa fatis tutu do i nian ini digunakan pada awal ujaran, yang maknanya menekankan pujian, membenarkan, sedangkan fungsinya untuk mengukuhkan pembicaraan, misalnya
1. “Tutu do i nian, alai nunga tung tamba maolna!” ninna siseanna i mangalusi.
‘Benar juga itu sih, tetapi sudah semakin sulit’, sahut muridnya menjawab.


2. “Tutu do i nian, ingkon urupan do dongan, molo di bagasan parmaraan bolon, alai olat ni na tartolapta”
‘Benar juga itu sih, kita hares menolong teman yang dalam kesulitan besar, tetapi tentu yang sesuai dengan kemampuan kita’.


3. “Tutu do i nian, alai molo dung sai disosak, ise ma tutu naso mangido naumuli, na pasonangkon roha’
‘Itu benar juga, tetapi kalau terns didesak, siapa sih yang tidak meminta yang terbaik, yang menyenangkan hati’.


I do tutu
Klausa fatis ini digunakan pada awal ujaran, yang maknanya menekankan pujian, membenarkan, menegaskan kebenaran percakapan, sedangkan fungsinya untuk mengukuhkan pembicaraan, misalnya
a. “I do tutu sagodang-godang ni dosa ni amana, na so jadi baloson ni gelengna” .
‘Benar itu, sebesar-besarnya dosa orang tua, anak-anak tidak boleh membalasnya’.


b. “7 do tutu songon juhut santanggo attar i ma i nuaeng” .
‘Yah benar itu, artinya seperti “sepotong daging” kira-kira begitulah maksudnya’.


c. “I do tutu!” ninna Nai Bagas Marhusor, huhut dipahembang ma lage na imbaru.
‘Begitu kok sebenarnya!’ ujar Ibu Bagas Marhusor, sembari membentangkan tikar yang baru.


d. “I do tutu, Lae! sintong do songon i na masa i, songon na binaritahon ni laengku datu i!” ninna si Marholo.
‘Begitu kok sebenarnya, ipar! demikian sebenarnya kejadian itu, sebagaimana yang telah diberitakan oleh iparku datu itu!’ ujar si Marholo.


=============================================================================
DAFTAR PUSTAKA
Carle, Rainer, 1990. Opera Batak das Wandertheater der Toba-Batak in Nordsumatra.
Berlin: Hamburg: Dietrich Reimer Verlag.


Cruse, Alan, 2000. Meaning in Language: An Introduction to Semantics and Pragmatics.
Oxford University Press.


Homes, Janet, 1994. An Introduction to Sosiolinguistics. London: Longman. Kaswanti, Bambang, 1984. Deiksis dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.


Keraf, Gorys, 1980. Tata Bahasa Indonesia. Ende: Nusa Indah.


Kridalaksana, Harimurti., 1985. Tata Bahasa Deskriptif Bahasa Indonesia: Sintaksis. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.


1990. Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia.


Leech, Geoffrey., 1993. Prinsip prinsip Pragmatik (terjemahan). Jakarta: Universitas Indonesia.


Lyons, John., 1995. Linguistics Semantics: An Introductions. New York Cambridge University Press.
Malinowski, B., 1923. “The Problem of Meaning in Primitive Language”. Inc. K. Ogden LA.
Richard, The Meaning of Meaning. London: Routledge & Kegan Paul. In Laver and Hutcheson (1972).
Moeliono, Anton M., dkk., 1992. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan Perum Balai Pustaka.


1988. Tata Bahasa Baku Bahasa Indoněsia. Jakarta: Balai Pustaka.
Sinurat, 1984. Hujur Ni Si Bagas Marhusor. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Proteksi DMCA