headline photo
Showing posts with label Kristen. Show all posts
Showing posts with label Kristen. Show all posts

PERENUNGAN UNTUK ORANG SOMBONG

Tuesday, 30 June 2015

oleh: Ev. Bedjo Lie, S.E., M.Div.
“Semakin sombong seseorang semakin ia membenci kesombongan dalam diri orang lain.”
(C. S. Lewis)

Suatu malam, seorang mahasiswa berkata kepada saya dalam pergumulannya, “Pak, saya sedang bergumul dengan diri saya. Saya merasa sombong dan ini mengganggu saya.” Melihat ekspresi wajahnya yang serius dan tulus, saya menjawabnya, “Tenang saja, kesombonganmu jelas masih dalam taraf yang belum puncak. Pernyataanmu bahwa kamu merasa sombong menunjukkan bahwa kamu tidak benar-benar sombong.” Setelah itu kami berbicara panjang lebar dan saling mendukung.

Komentar saya di atas mencerminkan sebuah keyakinan bahwa mereka yang sombong total biasanya tidak menyadari kesombongannya dan mereka yang mampu mengakui kesombongannya, masih memiliki sisa-sisa kerendahan hati.. Hal ini seperti, orang yang agak mabuk sadar bahwa ia agak mabuk, namun orang yang mabuk total tidak sadar bahwa ia mabuk; atau orang yang setengah tertidur sadar bahwa ia setengah tertidur, tetapi mereka yang tertidur lelap tidak sadar bahwa ia sedang tertidur.

Nah, dalam pergulatan melawan dosa yang sama sekali tidak pantas ini, saya tiba pada karya C. S. Lewis, seorang profesor Cambridge yang menulis buku Mere Christianity dan banyak novel seperti The Chronicles of Narnia.

Jika C. S. Lewis ditanya tentang ciri-ciri orang sombong, jelas sekali ia akan menjawab: “orang sombong adalah orang yang sering kali tersinggung dengan orang sombong lainnya.” Kalimat itu bukan kata-katanya, tetapi rangkuman dari pemahamannya. Dalam bahasanya sendiri, ia berkata bahwa kesombongan adalah dosa yang “semakin kita memilikinya semakin kita tidak menyukainya dalam diri orang lain.” Pendeknya, ketika Anda tidak terima, jengkel, dan tersinggung dengan orang yang Anda anggap sombong, sangat mungkin kesombongan dalam diri Anda sedang memberontak melawan kesombongan orang lain. “Emangnya dia aja yang bisa, gua juga bisa tahu!” Begitulah ketika orang sombong tersinggung dengan orang sombong lainnya.

Kebenarannya adalah, semakin sering Anda tersinggung dan tidak menyukai orang-orang yang Anda anggap sombong, semakin mungkin bahwa Anda sendiri adalah orang yang sombong.

Pertama-tama, saya kurang sreg dengan pemikiran C. S. Lewis ini. Bukankah mungkin, seseorang yang pandai menganalisa orang lain (misalnya: psikolog) mampu menemukan kesombongan dalam diri orang lain tanpa terjatuh dalam kesombongan yang sama? Begitu kata saya dalam hati (dan mungkin juga Anda!). Namun, jelaslah bahwa hal ini adalah kesalahpahaman terhadap pemikiran C. S. Lewis. Ia tidak berkata bahwa orang yang sombong adalah orang yang mampu menemukan kesombongan orang lain, tetapi bahwa orang yang sombong adalah orang yang tidak menyukai kesombongan dalam diri orang lain. Selanjutnya, yang harus diingat adalah bahwa motivasi ketidaksukaan (dalam pemikiran C.. S. Lewis) ini bukanlah karena kita tahu bahwa kesombongan itu ditentang Allah, melainkan karena kita merasa tersinggung, marah dan tidak suka ketika ada orang yang menyombongkan diri di hadapan kita. Nah, kesombongan jenis inilah yang dibicarakan C. S. Lewis.

Pemikiran C. S. Lewis di atas sungguh sederhana sekaligus mendalam karena ia telah berhasil menemukan ciri-ciri orang yang sombong, bahkan mungkin ciri yang terutama. Selanjutnya C. S. Lewis berkata, “Kesombongan pada hakikatnya bersifat kompetitif – naturnya itu sendiri bersifat kompetitif – sementara kejahatan-kejahatan lainnya, bisa dikatakan hanya berkompetisi secara kebetulan.” Ia menjelaskan, “Kesombongan tidak merasa senang karena memiliki sesuatu, tetapi hanya jika ia memiliki sesuatu yang melebihi apa yang dimiliki oleh orang di sebelahnya.” Kesombongan selalu membuat orang kompetitif terhadap orang lain. Kesombongan eksis dalam konteks perbandingan dengan orang lain dan bukan kesendirian.

Selanjutnya, jika Anda mengamati semua dosa yang lain, misalnya orang yang suka korupsi waktu kerja atau uang perusahaan, pornografi, pornoaksi, mabuk-mabukan, mencuri, bahkan membunuh, Anda akan menemukan bahwa mereka yang melakukannya tidak selalu keberatan jika orang lain juga melakukannya. Itulah sebabnya kita dapat menemukan sekelompok mahasiswa tukang contek yang saling bersahabat, “persekutuan” para pemabuk, kumpulan orang-orang cabul, kelompok para pencuri waktu kerja, dan geng para pembunuh. Dalam bahasa C. S. Lewis, “Kejahatan-kejahatan lainnya terkadang bisa mempersatukan orang: Anda mungkin menemukan persekutuan dan senda gurau dan persahabatan yang erat di engah orang-orang yang mabuk dan tidak suci.”

Namun demikian, kesombongan adalah dosa yang amat berbeda. Kesombongan selalu berarti perseteruan- kesombongan adalah perseteruan. Dan bukan hanya perseteruan antara manusia dengan manusia, tetapi perseteruan dengan Allah. Singkatnya, dalam hikmat C. S. Lewis, dosa-dosa yang lain masih bisa mempersatukan orang-orang, tetapi kesombongan selalu berarti perseteruan, pertikaian, dan konflik yang tidak dengan orang lain. Oleh karena itu, jika ada suatu konflik tak berkesudahan, baik itu di dalam persahabatan, pernikahan, pekerjaan, C. S. Lewis akan menebak, pasti ada orang yang sombong di dalamnya, sehingga begitu sulitnya hal itu diselesaikan. Tentu saja semakin sulit lagi, jika pihak yang sombong selalu berpikir bahwa pihak lawanlah yang sombong. Ini benar-benar lingkaran setan! Tidak ada yang bisa menyelesaikan masalah seperti ini kecuali Tuhan.

Akhirnya, terhadap kesombongan ini C. S. Lewis ingin memberikan peringatan yang tegas, “Selama Anda menjadi orang yang sombong Anda tidak bisa mengenal Allah” Mengapa? “Sebab kesombongan adalah kanker spiritual: yang memakan habis setiap kemungkinan dari kasih, atau perasaan cukup, atau bahkan akal sehat.” Pemikiran C. S. Lewis hanyalah gema cerdas dari kebenaran Alkitab yang berkata, “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong” (1Kor. 13:4). C. S. Lewis menutup pembahasannya dengan menunjukkan jalan menuju kerendahan hati. Ia berkata, “Langkah pertama adalah menyadari bahwa Anda adalah orang yang sombong. Dan langkah itu sekaligus merupakan langkah yang cukup besar. Setidaknya, tidak ada sesuatupun yang bisa dilakukan sebelumnya. Jika Anda berpikir bahwa Anda tidak tinggi hati, itu berarti Anda memang tinggi hati” Selamat Merenung.






Diambil dari berbagai sumber....




Gereja dan Kebudayaan

Thursday, 15 January 2015

I. Definisi Budaya.
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbada budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.
Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.
Beberapa alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain terlihat dalam definisi budaya: Budaya adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya sendiri.”Citra yang memaksa” itu mengambil bentuk-bentuk berbeda dalam berbagai budaya seperti “individualisme kasar” di Amerika, “keselarasan individu dengan alam” d Jepang dan “kepatuhan kolektif” di Cina. Citra budaya yang brsifat memaksa tersebut membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan dunia makna dan nilai logis yang dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka.
Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain.


II. Pengertian Kebudayaan.
Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.
Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.
Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.
Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memPengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.




III. Ciri-ciri Kebudayaan.
Ciri-ciri khas kebudayaan adalah:
A.    Bersifat historis. Manusia membuat sejarah yang bergerak dinamis dan selalu maju yang diwariskan secara turun temurun;
B.     Bersifat geografis. Kebudayaan manusia tidak selalu berjalan seragam, ada yang berkembang pesat dan ada yang lamban, dan ada pula yang mandeg (stagnan) yang nyaris berhenti kemajuannya. Dalam interaksi dengan lingkungan, kebudayaan kemudian berkembang pada komunitas tertentu, dan lalu meluas dalam kesukuan dan kebangsaan/ras. Kemudian kebudayaan itu meluas dan mencakup wilayah/regiona, dan makin meluas dengan belahan-bumi. Puncaknya adalah kebudayaan kosmo (duniawi) dalam era informasi dimana terjadi saling melebur dan berinteraksinya kebudayaan-kebudayaan;
C.     Bersifat perwujudan nilai-nilai tertentu. Dalam perjalanan kebudayaan, manusia selalu berusaha melampaui (batas) keterbatasannya. Di sinilah manusia terbentur pada nilai, nilai yang mana, dan seberapa jauh nilai itu bisa dikembangkan? Sampai batas mana?
IV. Hubungan Antara Gereja dan Kebudayaan.
Dalam sejarah gereja, hubungan antara gereja dan budaya telah mendapat perhatian sejak awal sampai sekarang. Walaupun demikian, hubungan itu tidak berlangsung cuma dalam satu model melainkan beranekaragam, tergantung pada sejauhmana kita memahami apa itu gereja dan apa itu budaya.
Menurut H.Richard Niebuhr, jika kita mencermati sejarah gereja (khususnya di Eropa dan Amerika sampai pasca perang dunia kedua) maka ada sejumlah model/pola hubungan gereja dan budaya yang bertolak dari bagaimana memahami hubungan gereja/Kristus dan keabudayaan,  sebagai berikut  :



a. Kristus bertentangan dengan kebudayaan (Christ against Culture).
Dalam sikap ini orang kristen menentang kebudayaan, gereja tidak mau tahu terhadap kebudayaan, sebab kebudayaan dianggap hanya membawa pengaruh negatif bagi kekristenan dan gereja.
b. Kristus dari kebudayaan (Christ of Culture).
Sikap ini berkeyakinan bahwa Kristuslah yang memiliki kebudayaan. Oleh karena itu orang beriman harus berusaha menyesuaikan diri (toleran) dengan kebudayaan.
c. Kristus di atas kebudayaan (Christ above Culture).
Dalam pemahaman seperti ini, Kristus dipandang sebagai yang menggenapi/menyempurnakan kebudayaan. Namun Ia berbeda sama sekali dengan kebudayaan. Karena itu orang kristen, gereja harus menghargai kebudayaan.
d. Kristus dan kebudayaan dalam paradoks (Christ and Culture in paradox).
Sikap ini berkeyakinan bahwa orang kristen, gereja hidup dalam dua “dunia” yang berbeda secara asasi tetapi tidak dapat dipisahkan. Pada satu pihak orang kristen, gereja hidup dalam Kerajaan Allah, namun pada pihak lain ia hidup dalam “kebudayaan” masyarakat di mana dia ada.
e. Kristus pembaharu kebudayaan (Christ transforming Culture).
Apa yang dikemukakan Niebuhr di atas dalam tempo yang lama (bahkan sampai saat ini) masih berpengaruh ketika berbicara tentang hubungan gereja dan kebudayaan, walaupun untuk kepentingan masakini mesti dikritisi dengan bijak sebab konteks telah berubah dan perkembangan pemikiran-pemikiran teologis juga terus terjadi dan berkembang.

V. Sikap Iman Kristen Terhadap Kebudayaan.
Ada 5 macam sikap umat Kristien terhadap kebudayaan, yakni:
1.Antagonistis atau oposisi
Sikap antagonistis atau oposisi terhadap kebudayaan ialah sikap yang melihat pertentangan yang tidak terdamaikan antara agama Kristen dan kebudayaan.Sebab akibatnya, sikap ini menolak dan menyingkirkan kebudayaan pada semua ungkapannya. Gereja dan umat beriman memang harus berkata tidak atau menolak ungkapan kebudayaan tertentu, yakni kebudayaan yang ; 1. MenghinaTuhan 2. Menyembah berhala dan 3. Yang merusak kemanusiaan.
2. Akomodasi atau persetujuan
Kebalikan dari sikap antagonis adalah mengakomodasi, menyetujui atau menyesuaikan diri dengan kebudayaan yang ada. Terjadilah sinkritisme. Salah satu sikap demikian ditujukan untuk membawa orang pada cara berfikir, cara hidup dan berkomunikasi atau berhubungan dengan orang lain sedemikian rupa sehingga seolah-olah semua agama sama saja.
3. Dominasi atau sintesis
Dalam gereja yang mendasari ajarannya pada teologi Thomas Aquinas. Ia menganggap bahwa sekalipun kejatuhan manusia kedalam dosa telah membuatcitra ilahinya merosot pada dasarnya manusia tidak jatuh total, manusia masihmemiliki kehendak bebas yang mandiri. Itulah sebabnya didalam menghadapi kebudayaan kafir sekalipun, umat bias melakukan akomodasi secara penuh dan menjadikan kebudayaan kafir itu sebagai bagian imam, namun kebudayaan itu disempurnakan dan disucikan oleh sakramen yang menjadi anugrah Ilahi.
4. Dualisme atau pengutuban
            Yang dimaksud dengan sikap dualistis atau pengutuban terhadap kebudayaan ialah pendirian yang hendak memisahakan iman dari kebudayaan ialah ; terdapatpada kehidupan kaum beriman kepercayaan kepada karya Allah kepada TuhanYesus Kristus, namun manusia tetap berdiri didalam kebudayaan kafir. Peran penebusan Tuhan Yesus yang mengubah hati manusia berdosa menjadi manusia yang hidup didalam iman tidak lagi berarti menghadapi kebudayaan.
5.Pengudusan atau pertobatan
Sikap pengudusan adalah sikap yang tidak menolak, namun tidak juga menerima, tetapi sikap keyakinan yang teguh bahwa kejatuhan manusia kedalam dosa tidak menghilangkan kasih Allah atas manusia. Manusia dapat menerima kebudayaan selama hasil hasil itu memuliakan Allah, tidak menyembah berhala, mengasihi sesama dan kemanusiaan. Sebaliknya, bila kebudayaan itu memenuhi salah satu atau keempat sikap budaya yang salah satu itu, umat beriman harus menggunakan firman Tuhan untuk menguduskan kebudayaan itu, sehingga terjadi transformasi budaya kearah budaya yang, memuliakan Allah.

Bahasa Batak Toba

Thursday, 8 May 2014

Bahasa Batak Toba hingga kini masih merupakan alat komunikasi sehari-hari antar warga masyarakat penuturnya. Orang Batak Toba akan lebih mantap menyampaikan perasaan hatinya jika menggunakan bahasa Batak, entah itu ditujukan kepada diri sendiri atau kepada orang lain.
Dalam dialognya, mereka sering tidak menyadari kalau banyak sekali ungkapan-ungkapan yang disampaikan itu merupakan partikel fatis. Selain untuk menyatakan perasaan penuturnya, ungkapan-ungkapan fatis ini juga dipakai untuk menjalin hubungan antarpenutur dan lawan tuturnya. Jalinan komunikasi tersebut dapat berupa ucapan salam, mengakrabkan hubungan, dan dapat sebagai basa-basi pergaulan.
Di samping itu, sebagai alat komunikasi verbal, ungkapan fatis pada dasarnya lebih merupakan sebuah ekpresi kemaknaan yang hadir dalam bahasa lisan. Artinya, makna sebuah ungkapan fatis dapat dipahami secara tepat jika ungkapan fatis tersebut disampaikan secara lisan, bukan dituliskan. Dalam fungsinya sebagai alat komunikasi fatis sangat dominan digunakan.

A. Partikel ai
Partikel ai digunakan pada awal ujaran. Partikel ini.
1) mengungkapkan keragu-raguan atau ketidakpastian terhadap apa yang diungkapkan
oleh kawan bicara atau yang tersebut dalam kalimat sebelumnya, misalnya
“Ai so binoto sipata pangalaho ni begu, rajanami! ” ninna datu i mangalusi,


‘Kadang-kadang kita tidak mengerti sih sifat setan, tuan raja!’ ujar dukun itu menjawab


“Ai adong do sipata boru ni raja, na so pola mamereng hamoraon!”
‘Kadang-kadang ada juga kok putri raja yang tidak memandang kepada kekayaan’
“Ai hea do tarsonggot iba mamereng dongan jolma”
‘ Ah masak terkejut sih melihat sesama manusia’


Pembuka kalimat tanya Contoh:
a. “Ai laho tu dia hamu ?
‘Kemana sih, Pak?’
b. “Ai aha do Hasian?”
‘Ada apa sih, Sayang?’
c. “Ai apala aha huroha Lae na ringkot silangkahononmu tu Barus”
‘Ada apa sih Lae, kok penting sekali harus ke Barus?’
d. “Ai boasa songon na tarsonggot hamu Lae?”
‘Mengapa kok seperti terkejut Lae?’


Pengganti kata tanya dalam bentuk hormat
misalnya,
a. “Ai boru aha do hamu Inang ? “
‘ Marga apa sih Ibu?’
b. “Ai na boha do huroha anakta i ?, ninna amanta Siahaan i manulingkiti asa tung
takkas aha na di bagasan roha ni inanta”
” Kenapa sih rupanya anak kita itu Ibu?, tanya Pak Siahaan untuk memperjelas apa
yang ada di hati ibu itu’.
c. “Ai apala aha huroha, Lae, na ringkot silangkahononmu tu Barus?”
‘Ada apa sih gerangan yang sangat penting yang hendak Lae jalani ke Barus?’


“Ai mempunyai makna “sebab” dan ‘karena”, misalnya,
a. “… ai au pe Inang na ditonahon anakta do umbahen borhat au manjumpangi ibana asa dohot ninna au mandohoti asara wisudana i”.
‘… aku juga karena dipesan anak kita kok berangkat untuk menemui dia supaya turut menghadiri acara wisudanya’.
b. “Alai nang pe sangon i, ndang dung dope adong pangisi ni Lobu Sotartaban na mate dibahen babiat; ai tuk do tutu panganonna di tombak i, i ma angka aili, ursa dohot angka na asing i”
‘Namun walaupun demikian, belum pernah ada satu orang pun penghuni Lobu Sotartaban itu yang mati oleh harimau, karena, makanannya cukup banyak kok tersedia di hutan itu, yaitu babi hutan, rusa dan yang lainnya’


======================================================================


B. Partikel E
Partikel E ini digunakan pada awal dan tengah ujaran.
untuk menarik perhatian
a. Supaya dapat menerima kenyataan, misalnya,
“E borunghu, ba dia ma sidokhonon nunga songon i partubuan ni daging dibahen Ompunta Mula Jadi Na Bolon sitaonon di”
‘Yah, begitulah putriku, kita tidak dapat melawan takdir yang sudah ditetapkan oleh
Ompu Mula Jadi Nabolon, kita harus menerimanya’.
“E, ima da, Anggia”
‘Yah, begitulah Dek’


b. supaya tidak dipaksa untuk melakukan sesuatu, misalnya,
“E, boru Tumbaga borungku, sai dijujui ho ahu, ito, tu pangolian nunga tangkas songon na binerengmu, ia uban nunga saksak di simanjunjung, pamerengan nunga lam tu hurangna, boru ni ise be, ito, na olo tu ahu, nunga roha nama disi”
‘Yah, putriku Tumbaga, putriku, kamu selalu mengingatkanku, ayahmu, untuk menikah lagi padahal sudah jelas kamu lihat rambut di kepalaku sudah semua menjadi uban, penglihatanku pun sudah berkurang, Putri siapa lagi sih yang mau kepadaku, yah sudah deh biarkan saja begitu’


c. mengingatkan karena ada sesuatu hal yang aneh, misalnya,
‘Mabiar, mabiar? E, songon na adong do tarbereng ahu disi opat matana bollangbollang, ganjang-ganjang, obukna”
‘Takut, takut, yah, sepertinya di situ terlihatku ada empat mata yang melototlotot, rambutnya panjang-panjang’


d. supaya dikasihani, misalnya,
“E, da rajanami tung asi nirohamu ma, rajanami, mamereng hami na dua”
‘Yah tuan raja, kami hanya memohon belas kasihan raja pada kami berdua’


Untuk memanggil seseorang hendak
a. mengingatkan supaya tahu bersopan santun
“E Damang, pintor naeng lintun do hamu, ia tung hata mauliate nian ndang dokhononmu tu hami”


‘Eh Pak, kok langsung mau pulang saja, sebaiknya berpamitan dan berterima kasih dulu dong pada kami’.


b. menanyakan perihal sesuatu karena tidak puas,
“E, lapo aha do on?,”
‘Hei, warung apa sih ini?’


c. menanyakan sesuatu dalam rangka menyelidik,
“E, parlapo jot jot du ro tu lapoon parjuji ?”
‘Hei, pemilik warung, sering enggak sih pejudi-pejudi datang ke warung ini?’


Untuk mengingatkan,
a. supaya insaf atau sadar,
“E da rajanami, tung na mora pe rajanami, anggo so adong hape anakna tung so adong do lapatan ni hamoraon i, rajanami”.
‘Yah, tuan raja ternyata biar pun orang kaya, kalau tidak memiliki anak, tetap juga kok kekayaan itu tidak berarti apa-apa’.


b. tentang sesuatu yang tidak dapat disesali lagi karena sudah berlalu,
“E… Inang, gabe asido rohani / si Takkas marnida Inana namatua i naso adong sikkolana na i”.
‘Aduhai Bunda’, hati Takkas menjadi terenyuh melihat ibunya yang sudah lanjut usia dan tidak berpendidikan itu’.


c. yang berupa ancaman,
“E, hatami na dirimpu ho do siseat lomok-lomok piso on, huboan pe piso on na laho manjungkit mata ni jolma do dohot mamuntarhon butuha ni jolma asa botoonmu”.
‘Heh, ucapanmu itu, emang kamu pikir pisau ini untuk memotong anak babi, pisau ini kubawa untuk mencongkel mata manusia kok dan juga untuk mengeluarkan isi perutnya, supaya kamu tahu’.


d. dalam bentuk teguran,
“E, babami lak so di boto ho do manghatai”.
‘Eh, mulutmu kok kamu tidak tahu bicara sih’.


C. Partikel Da
Partikel da digunakan untuk
menggantikan kata tanya, misalnya
a. “Sian do ho da, anak ni Namboru?”
‘Dari mana sih pariban?’


b. “Da, ho do boru sihahaan ni aman ta”.
‘Bukankah kamu putri pertama dari Bapak?’


Menyatakan ya atau begitulah, ditaruh pada akhir kalimat, misalnya
a. “Songon on ma, Among, molo ingkon lao ma hamu unang pola laosi hamu parit ni hutanan i, da”
‘Baiklah Pak, kalau Bapak harus juga berangkat sebaiknya tidak melintasi tembok kampung itu deh ya’


b. “Olo, ito, jai lao jo ahu, ito, da!”
‘Ya nak, jadi aku pergi dulu ya!’


Awalan untuk menyatakan hormat dalam istilah kekerabatan, misalnya
a. “Sabarma Damang pabulus ma roham digonggom tondinghi do ho sarimatua”
‘ Sabar deh Nanda, luruskanlah hatimu, doaku akan senantiasa menyertaimu hingga masa tuamu’.


b. “Didia do, Damang, da parsinuan, oooiii! Taonon ma hope nian Amonghu na rapar so minum, rapar so mangan, o. o. o,. taonon ma hape nian Among na marlage-lage tano on”
‘Di manakah gerangan Ayahanda, Bapak, o0o iii!, haruskah aku mengalami lapar karena tidak minum dan lapar tidak makan, harus jugakah aku mengalami bertikarkan tanah’.


c. “Angkang boru ma disungkun Dahahang annon!” ninna si Martunas Panahatan”
‘Tanya saja deh nanti pada Kanda putri, Kanda! ujar si Martunas Panahatan’


=============================================================================


D. Partikel Ma
Partikel ma digunakan untuk
Menekankan kalimat imperaktif, dan penguat sebutan dalam kalimat
a. “Borhat ma hamu”
‘Silakan berangkat’
b. “Beta ma, anggia, nanggo apala i laba ni hita na marama”
‘Marilah dek, supaya ada buktinya bahwa kita mempunyai bapak’


Menyatakan maka dalam kalimat pasif
… gabe tarhatotong ma nasida umbegesa’
‘Maka tertegunlah mereka mendengarnya’.
Menekankan maksud, misalnya
a. “Ba, tu jabu ma hamu’
‘Mari, silakan ke rumah dulu’.
b. “Songon on do, Among, di jabu ma hamu, asa lao hami tu balian da! “
‘Begini, Bapak di rumah saja deh ya, supaya kami ke sawah ya’.


Menyatakan yang akan terjadi, misalnya
a. “Tangkoon ni halak ma annon mobilmon”
‘Dicuri orang deh nanti mobilmu itu’.
b. “Haraton ni biang ma annon sipatu on anggo peak peak di duru”
‘Sepatu ini akan digigit anjing kalau terletak di luar’.


============================================================================


E. Partikel Ba
Partikel ba digunakan untuk,
Menyatakan keheranan, misalnya
a. “Ba ai ho do i Ompu Guasa, “
‘Eh, ternyata kamu rupanya Ompung Guasa!’


b. “Ba ai hatop ma hamu, Hahang, mulak! “
‘Kok, cepat sekali sih pulangnya Kak’


sebagai partikel dalam kalimat larangan, misalnya
a. ” Unang songoni ba”
‘Jangan begitu dong’.


b. “Sotung ditadinghon ho ibana ba”.
‘Awas deh jangan sampai kamu tinggalkan dia’.


Menarik perhatian, misalnya
a. “Ba boasa pola marhoi ho anak ni namboru mangalusi ahu; adong angka na maol sihataan”.
‘Wah, kok susah-susah sih menjawab pertanyaanku Pariban, adakah hal-hal yang pelik untuk dibicarakan?’.
Menyatakan sikap mengalah, misalnya
b. “Ba, na uli”.
‘ Yah, kalau begitu, baiklah’
c. “Ba, molo halak i mangalusi ba halak i ma di si, anggo ahu ndang dohot di si”
‘Ya baiklah, kalau orang itu yang menjawab ya sudah terserah mereka, kalau aku, aku tidak ikut di situ’.


Bentuk fatis horas ini dapat digunakan dalam berbagai situasi. Ucapan salam dalam pertemuan, perjumpaan, sebagai pemberkatan atau sebagai doa. Makna yang dikandungnya antara lain, kuat, tetap teguh, keras, hidup, selamat serta sejahtera, sehat, bahagia, lahir dan batin, serta dirgahayu. Penggunaannya dapat menimbulkan suasana keakraban, kedamaian dan sekaligus harapan serta ucapan selamat bagi orang yang
disapa, sambil biasanya menyalami dengan genggaman erat tangan orang yang diucapi salam, horas, misalnya


a. “Sai horas ma raja i!”
‘Semoga raja selalu selamat sejahtera!’
b. “Horas ma hita on sude! Horas!”
“Semoga kita semua selamat! Selamat!
c. “Sinur ma na pinahan Gabe ma na niula,
“Horas-horas hita sudena “
‘Berkembangbiaklah seluruh ternak peliharaan Berhasil segala pekerjaan dan selamat sejahtera kita semua.’
Ini merupakan bentuk ucapan berkat di dalam Batak Toba.


=============================================================================


Penggunaan Atik na; Atik beha; Ating tung; Atik pe


Paduan fatis atik na, atik beha, atik tung ini digunakan umumnya di tengah ujaran.
Pemakaian paduan fatis atik bervariasi dengan atek; aik; aek. Fatis atik na bermakna ‘janganjangan’ (yang mengungkapkan keragu-raguan), atik beha; atik tung ‘kalau-kalau’, atik pe ‘ walaupun’ .


1) “Laos so mulak dope ibana ndi, atik na lilu do i”.
‘Kok dia belum pulang juga, jangan-jangan dia keliru’.


2) “Mangalompa ma hamu atik beha tibu Amanta mulak sian kantor”.
‘Masak dulu deh siapa tahu Bapak cepat pulang dari kantor’.


3) “Hatop maho borhat da atik beha ro udan, sotung gabe tarhalang annon ho ro”
‘Cepat deh berangkat siapa tahu turun hujan, nanti kamu jadi terhalang datang’.


Daga! horas-ma
Paduan fatis ini digunakan pada awal ujaran, yang maknanya menyatakan keragu-raguan, keheranan, wahai, aduh, waduh. Sedangkan fungsinya untuk mengukuhkan pembicaraan, misalnya


1) “Daga songon i ma hape hata-hata na”
‘Waduh begitulah rupanya cemohannya’


2) “Daga! Horas ma, amangboru, horas”
‘Wahai! selamat deh amang boru, selamat’


I ma da tutu
Frase fatis ini digunakan pada awal atau di tengah-tengah ujaran, yang maknanya menekankan pujian sedangkan fungsinya mengukuhkan pembicaraan, misalnya


1. “Ima da tutu! ” ninna amana i; “ndang adong tutu asingna idaon anggo di rumang parduru ……..
‘Ya juga sih!’ sahut Bapak itu; ‘dari luar tampaknya sama sekali tidak ada perbedaan….’


2. “I ma da tutu, sintong do i!” ninna datu i; dung i rap mengkel ma nasida, ai na maraleale do nasida
‘Ya begitulah, benar kok itu!” ujar dukun itu; kemudian serentak mereka tertawa, karena mereka memang bersahabat’.


3. “I ma da tutu!” ninna amana i; “ndang adong tutu asing na idaon anggo di rumang pardudu, alai ganup laho mamangke hujur pusaho on ingkon jolo hundul do iba marhaombang sila, jala tiopon ma gomos, jala simanjujung dompak jolo, dais tu hujur i, ‘Yah, benar juga sih’, ujar ayahnya itu; ‘dari luar sih tidak ada sama sekali terlihat perbedaannya’, tetapi sebelum menggunakan tombak pusaka itu kita harus lebih dulu
duduk bersila sembari memegangnya kuat-kuat dan kepala bagian depan menyentuh tombak itu.


Na uli
Frase fatis ini digunakan pada awal tengah dan akhir ujaran yang maknanya menekankan pujian yang menyatakan penghargaan atau persetujuan atas ucapan orang lain, ‘baiklah!, setuju’, sedangkan fungsinya untuk mengukuhkan pembicaraan, misalnya


1. “Na uli, Among, saonnari pe, Among, laope ahu, Among, tu huta Barus mangalapi Datu Partungkot Bosi
‘Baik deh Pak, sekarang juga aku akan pergi ke kampung Barus menjemput Dukun si tongkat besi…’


2. “Ba, na uli! “
‘Ya, baiklah!’


3. “Na uli, anggia, ba, didok rohangku tapungka ma, Martangi-tangian ma hita da, rajanami! “
‘Baiklah dek, menurutku kita mula saja pembicaraan ini. Baiklah kita saling memperhatikan dan mendengarkan Tuan Raja’.


Horas ma
Frase dengan horas ma dipergunakan untuk memulai dan mengakhiri interaksi antara pembicara dan kawan bicara sesuai dengan keperluan dan situasinya, misalnya
1. “Horas ma, Among!”
‘Salam sejahtera, Bapak’


2. “Ba, horas ma! songon na hatop ma ho Ito, ro! “
‘Yah, selamat deh, kok sepertinya kamu lebih awal datangnya ito dari biasa?’


3. “Ba, horas ma, rajanami!”
‘Selamatlah, ya tuan!’


I do
Frasa fatis ini digunakan pada awal ujaran dan tengah ujaran yang maknanya menekankan pujian dan membenarkan pernyataan, fungsinya mengulang pembicaraan, misalnya
1. “I do, i do, i do sasintongna”
‘Ya begitu, begitu, begitu deh yang sebenarnya’


2. “1 do tahe, i do, i do, toho do i!”
‘Ya begitu deh, begitu, begitu itu, benar deh begitu!’


Bahen ma nian
Frasa bahen ma nian digunakan pada awal ujaran yang maknanya menekankan pujian dan berfungsi mengukuhkan pembicaraan, misalnya


1. “Bahen ma nian, datunami, sai sahat ma”
‘Yah gitu deh Datu, semoga deh tercapai’


2. “Bahen ma nian, asalma adong allangon siganup ari”
‘Ya gitu deh, pokoknya cukup untuk makan sehari-hari’


3. “Bahen ma nian, marsiajar do pe i bana, ndang diboto do pe mangalului hepeng”
‘Yah gitu deh, dia masih belajar kok, belum pintar mencari uang’


Ba mauliate da
Frasa ba mauliate da digunakan pada awal ujaran atau akhir ujaran yang maknanya menekan rasa syukur dan terima kasih, dan fungsi meneguhkan pembicaraan, misalnya
1. … “ba mauliate da, datu nami”
‘yah terima kasihlah ya, datuk’


2. … “Ba mauliate ma da, nunga huida tutu!”ninna raja i; dung i mulak ma ibana tu jabuna.
‘Yah terima kasihlah ya, aku sungguh sudah melihatnya!’ ujar raja itu; setelah itu dia kembali ke rumahnya’


3. “Ba mauliate ma da di ho, ingot ma hatangki!” ninna ina ni pidong rungkisa i.
‘Yah terima kasih deh buat kamu ya, ingatlah pesanku itu!’ ujar induk burung rungkisa itu.


I ma tutu
Frase fatis ini digunakan pada awal atau di tengah-tengah ujaran, yang maknanya menekankan pujian, membenarkan, sedangkan fungsinya mengukuhkan pembicaraan, misalnya
1. “I ma tutu, boru Datulang! ” ninna Partiang Nabulus
‘Ya begitu deh kekasihku!’ ujar Partiang Nabulus


2. “Olo Boru ni Datulang, sai songon i ma tutu? “ninna si Partiang Nabulus; dung i mijur ma ibana tu toru, laho mandapothon angka donganna.
‘Ya kekasihku, semoga deh seperti itu!’ ujar si Partiang Nabulus, kemudian ia
beranjak turun, menjumpai teman-temannya.


3. “1 ma tutu!” ninna natorop i di bagasan las ni roha.
‘Begitu deh sebenarnya!’ ujar orang banyak itu dengan sukacita


Tutu do i nian
Klausa fatis tutu do i nian ini digunakan pada awal ujaran, yang maknanya menekankan pujian, membenarkan, sedangkan fungsinya untuk mengukuhkan pembicaraan, misalnya
1. “Tutu do i nian, alai nunga tung tamba maolna!” ninna siseanna i mangalusi.
‘Benar juga itu sih, tetapi sudah semakin sulit’, sahut muridnya menjawab.


2. “Tutu do i nian, ingkon urupan do dongan, molo di bagasan parmaraan bolon, alai olat ni na tartolapta”
‘Benar juga itu sih, kita hares menolong teman yang dalam kesulitan besar, tetapi tentu yang sesuai dengan kemampuan kita’.


3. “Tutu do i nian, alai molo dung sai disosak, ise ma tutu naso mangido naumuli, na pasonangkon roha’
‘Itu benar juga, tetapi kalau terns didesak, siapa sih yang tidak meminta yang terbaik, yang menyenangkan hati’.


I do tutu
Klausa fatis ini digunakan pada awal ujaran, yang maknanya menekankan pujian, membenarkan, menegaskan kebenaran percakapan, sedangkan fungsinya untuk mengukuhkan pembicaraan, misalnya
a. “I do tutu sagodang-godang ni dosa ni amana, na so jadi baloson ni gelengna” .
‘Benar itu, sebesar-besarnya dosa orang tua, anak-anak tidak boleh membalasnya’.


b. “7 do tutu songon juhut santanggo attar i ma i nuaeng” .
‘Yah benar itu, artinya seperti “sepotong daging” kira-kira begitulah maksudnya’.


c. “I do tutu!” ninna Nai Bagas Marhusor, huhut dipahembang ma lage na imbaru.
‘Begitu kok sebenarnya!’ ujar Ibu Bagas Marhusor, sembari membentangkan tikar yang baru.


d. “I do tutu, Lae! sintong do songon i na masa i, songon na binaritahon ni laengku datu i!” ninna si Marholo.
‘Begitu kok sebenarnya, ipar! demikian sebenarnya kejadian itu, sebagaimana yang telah diberitakan oleh iparku datu itu!’ ujar si Marholo.


=============================================================================
DAFTAR PUSTAKA
Carle, Rainer, 1990. Opera Batak das Wandertheater der Toba-Batak in Nordsumatra.
Berlin: Hamburg: Dietrich Reimer Verlag.


Cruse, Alan, 2000. Meaning in Language: An Introduction to Semantics and Pragmatics.
Oxford University Press.


Homes, Janet, 1994. An Introduction to Sosiolinguistics. London: Longman. Kaswanti, Bambang, 1984. Deiksis dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.


Keraf, Gorys, 1980. Tata Bahasa Indonesia. Ende: Nusa Indah.


Kridalaksana, Harimurti., 1985. Tata Bahasa Deskriptif Bahasa Indonesia: Sintaksis. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.


1990. Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia.


Leech, Geoffrey., 1993. Prinsip prinsip Pragmatik (terjemahan). Jakarta: Universitas Indonesia.


Lyons, John., 1995. Linguistics Semantics: An Introductions. New York Cambridge University Press.
Malinowski, B., 1923. “The Problem of Meaning in Primitive Language”. Inc. K. Ogden LA.
Richard, The Meaning of Meaning. London: Routledge & Kegan Paul. In Laver and Hutcheson (1972).
Moeliono, Anton M., dkk., 1992. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan Perum Balai Pustaka.


1988. Tata Bahasa Baku Bahasa Indoněsia. Jakarta: Balai Pustaka.
Sinurat, 1984. Hujur Ni Si Bagas Marhusor. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Proteksi DMCA