headline photo
Showing posts with label ikan batak. Show all posts
Showing posts with label ikan batak. Show all posts

IKAN BATAK (Neolissochillus Thienemanni sumatranus)

Friday, 4 April 2014


Dari 350 jenis biota air yang tercantum dalam "The 2000 IUCN Redlist of the Threatened Species" (IUCN 2001) dapat diidentifrkasi 14 jenis ikan air tawar Sumatra yang terancam punah, dan 7 jenis diantaranya (50%) termasuk ikan endemic Sumatra. Salah satunya adalah IKAN BATAK (IHAN) Neolissochillus Thienemanni sumatranus yang hanya ada di Danau Toba- Sumatera Utara,.
Danau Toba banyak menyimpan spesies endemik yang sangat beragam. Terutama berupa ikan Batak (ihan), spesies Neolissochillus Thienemanni yang hanya ada di Danau Toba. Berdasarkan kriteria IUCN (International Union for the Conservation of Nature), jenis ikan ini sudah diklasifikasikan sebagai terancam (Vulnerable).
Dulu ikan ini sering dihidangkan sebagai sajian istimewa untuk berbagai acara pesta adat bagi masyarakat setempat. Sayangnya, sekarang sudah sangat sulit untuk menemukan ikan tersebut di Danau Toba. Spesies ikan endemik Danau Toba ini mulai terancam punah akibat kerusakan lingkungan.
Ikan semah (Tor spp., syn. Labeobarbus, suku Cyprinidae; juga dipakai untuk jenis-jenis Neolissochilus dan Naziritor di India) adalah ikan air tawar yang berasal dari Indo-Australia dan anak benua India. Nama lain ikan ini adalah tambra (Jawa), sapan (Kalimantan)[1], ihan batak atau curong (bahasa Toba)[2], mahseer, atau kelah (Malaysia). Nama "semah" populer dipakai di Sumatra bagian tengah hingga ke selatan.

Ikan yang masih sekerabat dengan ikan mas ini populer sebagai bahan pangan kelas tinggi, dan yang biasa dijumpai dan dikonsumsi di Indonesia dan Malaysiaadalah Tor douronesis (semah biasa), T. tambra (tambra), T. tambroides (tambra), dan T. soro (kancera)[3]. Ikan tambra dan semah dapat mencapai panjang sekitar satu meter[4], walaupun tangkapan yang dijual biasanya berukuran maksimum 30 cm.

Ikan ini hidup di sungai-sungai beraliran deras di pegunungan dan populasi sangat terancam akibat penangkapan berlebihan. Indikasi yang terlihat adalah semakin jarang terlihat, ukuran tangkapan semakin kecil, dan distribusi menurun. Bahkan telah dilaporkan pula penangkapan di beberapa taman nasional. Pihak berwenang di Indonesia (Balai Benih Ikan lokal), seperti di Jawa Tengah,[5], Padang Pariaman, dan beberapa kabupaten pedalaman Jambi telah mulai mengembangkan teknologi pembiakan menggunakan pemijahan buatan dan paket budidaya. Selain itu, di Padang Pariaman aturan adat setempat juga ditegakkan dengan pemberlakuan zona larangan, penyangga, dan penangkapan. Penangkapan hanya dilakukan apabila terdapat izin dari kerapatan adat.

Ikan Batak

IKAN BATAK
yang dikenal secara umum di Indonesia adalah dari genus Tor, yang di Tanah Batak dikenal dengan Dekke Jurung-jurung (Ikan Jurung). Memang benar Ikan Jurung ini dinamaiIkan Batak, namun Ikan Batak yang disebut sebagai Ihan adalah ikan asli Batak yang sudah menuju kepunahan atau memang sudah punah adalah dari genus Neolissochilus.

Ikan Batak yang secara umum di Indonesia memiliki nama-nama lain di setiap daerah seperti: Ikan Jurung (Sumatra Utara), Ikan Kerling (Aceh), Iken Pedih (Gayo), Ikan Gariang (Padang), Ikan Semah (Palembang), Ikan dewa (Jawa Barat), Ikan Kancra bodas, Kencara (Kuningan Jawa Barat), Ikan Tambra, Tombro (Jawa), Ikan Kelah, Ikan Sultan (Malaysia), Ikan Mahseer (Internasional), dan mungkin masih banyak nama lainnya.

Secara morfology memang sulit untuk membedakan antara genus Tor dan genus Neolissochilus, bahkan boleh dikata ada kemiripan bentuk dengan jenis ikan mas kecuali ukuran sisik yang lebih besar daripada ikan mas (Cyprinus Carpio) yang memang dari keluarga yang sama yaitu family Cyprinidae. Kemiripan inilah yang membuat orang-orang lantas menamakan Ikan Jurung sebagai Ikan Batak, padahal Ikan Batak Asli adalah yang disebut Ihan adalah dari genus Neolissochilus yang sudah menuju kepunahan, dan salah satu spesiesnya Neolissochilus thienemanni, Ahl 1933 adalah ikan endemik Danau Toba dan umumnya di Tanah Batak.


Ikan batak (To toro) tak hanya bernilai ekonomis sangat tinggi, tetapi juga bernilai budaya yang tinggi, khususnya bagi Suku Batak, Sumatra Utara. Menurut salah seorang tetua, ikan yang dulu banyak ditemukan di Danau Toba ini sering dihidangkan dalam upacara adat. Harganya bisa mencapai Rp. 350.000/kg.

Di Danau Toba, Tor toro hidup dengan janis lainnya, yaitu Neolissochilus thieneman, Neolissochilus somatranus, Neolissochilus longipinis. Selain di Sumatra Utara, khususnya di Danau Toba, ikan inipun bisa ditemukan di Kuningan, Sumedang dan Kediri. Di Kuningan, ikan batak dipelihara di kolam-kolam tua dan dianggap kramat, dengan sebutan “ Ikan Dewa “.

Bulan Nopember 2009, Tim peneliti dari Balai Riset Perairan Umum (BRPU) Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) Republik Indonesia berhasil menemukan 4 (empat) spesies ikan dari genus Tor (Ikan Batak = Ikan Jurung) di Danau Laut Tawar Takengon Aceh Tengah. Penemuan ini sangat menggembirakan karena di Danau Laut Tawar itu menjadi habitat terbanyak spesies ini, dimana sebelumnya di Jawa Barat hanya terdapat 3 spesies dari genus Tor ini. Spesies yang ditemukan di Danau Laut Tawar ini adalah species Tor Douronensis, Tor Tambra, Tor Soro dan Tor Tambroides.


Kualitas air Yang Dibutuhkan Ikan Batak
Hal utama yang harus diperhatikan dalam budidaya ikan batak adalah kualitas air. Ternyata kualitas yang sesuai dengan kehidupan ikan batak berbeda dengan ikan mas, lele dan ikan-ikan lainnya. Ikan mas dan lele mampu hidup di air keruh, namun ikan batak tidak, lebih hidup di air jernih dan lebih senang di ari jernih dan deras. 

Menurut Balai Riset Perikanan Air Tawar, Pusat Riset Perikanan Budidaya, kualitas air yang diinginkan ikan batak adalah sebagai berikut : oksigen terlarut 6,8 – 7,0 mg/lt, pH 6,0, suhu 21 – 24 O C, karbondioksida 2,2 – 4,5 mg/l, kesadahan 12,3 mg/l, debit air 6,0 – 6,35 liter/detik dan kecerahan lebih dari 2,5 m.
Sumber :
http://tzinsu.blogspot.com/2012/04/ikan-batak-neolissochillus-thienemanni.html

Ikan Batak (Neolissochilus thienemanni)

Sudahkah Anda Tahu ?
Ikan Batak (Neolissochilus thienemanni)

Ikan batak (Neolissochilus thienemanni), memang hanya ada di tanah batak Sumatera Utara. Ikan endemik ini distribusi habitatnya di sungai sungai kecil di daerah Tapanuli Utara dan Simalungun, terutama sungai kecil yang bermuara ke Danau Toba. Saat ini, jangan berharap ikan ini dapat ditemukan di Danau Toba, karena berdasarkan informasi nelayan dan penduduk di sekitar Danau Toba, ikan batak sudah sangat sulit ditemukan di danau tersebut.  Bahkan menurut mereka, sudah lama sekali nelayan tidak mendapatkan ikan ini. Ikan batak masih dapat ditangkap di sungai sungai kecil yang bermuara di Danau Toba, itupun sudah semakin langka.

Alat tangkap yang digunakan untuk menangkap ikan batak adalah jala, jaring dan bubu.
Biasanya ikan yang tertangkap tidak mereka konsumsi, melainkan dipelihara di kolam atau sawah di sekitar sungai untuk dibesarkan. Ikan baru akan dikonsumsi jika ada upacara adat atau ”upa upa” atau jika ada orang yang hendak membelinya. Harga ikan batak sangat mahal, untuk 1 ekor ikan hidup dengan berat lebih kurang 100 g atau ukuran panjang total sekitar  21 cm  dijual seharga Rp. 50.000.

Ikan batak sekilas mirip sekali dengan ikan jurung, semah, kancra atau ikan dari Marga Tor. Perbedaannya, pada ikan batak terdapat 10 baris pori-pori yang tidak teratur (masing-masing memiliki tubus atau titik yang keras) pada masing-masing sisi moncong dan di bawah mata serta alur dari bagian belakang sampai ke bibir bawah terputus di bagian tengah (Kottelat et al., 1993).

Jenis ikan dari keluarga Cyprinid ini di alam hidup di sungai yang berarus deras terutama di daerah dataran tinggi yang berpasir dan berbatu. Kondisi tersebut juga sangat perperan dalam proses memijah ikan batak. Berdasarkan pengamatan, pada gonad ikan batak terdapat ukuran telur yang bermacam-macam, hal tersebut menunjukkan bahwa ikan batak dapat memijah sepanjang tahun terutama di musim hujan. Fekunditas ikan dengan ukuran 212 mm, berat 88,50 g mencapai 765 butir dengan diameter telur berkisar antara 1cm-2,5 cm. Pelestarian ikan batak di alam perlu mendapat perhatian karena nilai ekonomis dan sosial ikan tersebut sangat tinggi di masyarakat. Kearipan lokal yang ada pada masyarakat harus tetap dipertahankan, di samping dengan tetap menjaga habitat alaminya di alam agar tidak rusak sehingga ikan batak tidak punah di tanah batak.


Penulis: Safran Makmur, S.Si., M.Si.
Penyunting:  Dina Muthmainnah, M.Si. dan Nurwanti, S.Ikom.


sumber :
http://www.bp3u.litbang.kkp.go.id/publikasi.php?pubItem=5&pcont=85

Proteksi DMCA